Longsor Jepara: Jalan & Jembatan Hancur, Warga Cari Jalur Baru

Longsor Parah di Jepara: Akses Jalan Utama Terputus, Warga Terisolasi

Bencana tanah longsor dahsyat melanda Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada Jumat (9/1). Peristiwa ini mengakibatkan puluhan titik longsor menutup akses jalan utama yang menjadi urat nadi kehidupan warga menuju pusat kota. Kondisi ini sontak membuat Desa Tempur terisolasi, menyulitkan mobilitas warga untuk berbagai keperluan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menjelaskan bahwa dampak longsor kali ini sangat signifikan. “Dampak longsor yang terjadi pada Jumat (9/1) sangat dirasakan oleh warga Desa Tempur karena menutupi satu-satunya akses jalan bagi warga yang hendak menuju daerah lain atau ke kota,” ujar Arwin. Ia menambahkan bahwa untuk sementara waktu, jalur tersebut hanya dapat dilalui oleh sepeda motor.

Upaya pembersihan material longsor telah dilakukan secara intensif di sejumlah titik. Berkat kerja keras tim gabungan, akses menuju kawasan Kedung Ombo kini sudah bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Namun, di lokasi Kedung Ombo sendiri, pemandangan yang tertinggal sungguh memprihatinkan. Badan jalan sepanjang kurang lebih 60 hingga 70 meter dilaporkan hanyut terbawa arus sungai yang deras.

“Tersisa bahu jalan sekitar 50 sentimeter lebarnya dan itu dijadikan akses darurat masyarakat. Yang berani masih bisa naik motor dengan sangat hati-hati, sementara pejalan kaki sebagian besar tidak berani melintas,” ungkap Arwin, menggambarkan betapa berbahayanya kondisi tersebut. Lebar bahu jalan yang tersisa sangat minim, menuntut kehati-hatian ekstra bagi siapa saja yang nekat melintas.

Perjalanan belum berakhir setelah melewati Kedung Ombo. Masih terdapat sejumlah titik longsor lainnya yang menghadang, baik yang berada sebelum maupun sesudah jembatan besi, hingga area jembatan merah di jalur tikungan. Meskipun demikian, sebagian besar dari titik-titik ini telah berhasil dilewati oleh sepeda motor, meskipun dengan kewaspadaan tinggi.

Harapan dan Opsi Darurat BPBD Jepara

Menyadari kerentanan kondisi yang ada, BPBD Jepara menaruh harapan besar agar sisa bahu jalan yang kini berfungsi sebagai jalur darurat tidak kembali tergerus oleh banjir susulan. Jika kondisi ini kembali memburuk dan tidak memungkinkan untuk dilalui, pihaknya telah menyiapkan opsi darurat yang cukup kreatif.

“Apabila kondisi tersebut kembali rusak, pihaknya menyiapkan opsi darurat dengan pemasangan perahu yang diikat tali sebagai sarana penyeberangan sementara,” jelas Arwin. Solusi ini diharapkan dapat membantu warga menyeberangi area yang terputus jika akses darat benar-benar tidak dapat digunakan lagi.

Koordinasi dengan berbagai elemen masyarakat juga terus dilakukan. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan para pemuda setempat, termasuk komunitas motor trail di wilayah Damarwulan. Mereka berencana mencari jalur alternatif melalui Medono yang tembus ke jalur atas menuju Dukuh Duplak,” tambah Arwin.

Jika jalur alternatif yang dicari oleh para pemuda dan komunitas motor trail ini terbukti memungkinkan untuk dilalui, BPBD Jepara tidak akan tinggal diam. “Jika jalur alternatif tersebut masih memungkinkan untuk dilalui, BPBD akan mengirimkan alat berat guna melakukan perapian dan penanganan darurat,” tegas Arwin. Langkah ini menunjukkan keseriusan BPBD dalam mencari solusi jangka pendek untuk memulihkan aksesibilitas.

Skala Bencana Longsor di Desa Tempur

Berdasarkan pendataan yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Jepara, skala bencana longsor di Desa Tempur memang cukup mengkhawatirkan. Tercatat puluhan titik longsor tersebar di desa tersebut, dengan 18 titik di antaranya dikategorikan sebagai longsor besar.

Luasan badan jalan yang tertutup material longsor bervariasi, mulai dari 6 meter hingga lebih dari 100 meter. Ketebalan material longsor pun tidak main-main, berkisar antara 0,5 hingga 2 meter, menunjukkan volume material yang sangat besar.

Beberapa titik terdampak mengalami kerusakan yang sangat serius. Kerusakan terparah meliputi hilangnya badan jalan secara total akibat tergerus oleh aliran Sungai Kali Gelis, pagar jembatan yang tersapu bersih oleh terjangan longsor, hingga fenomena alam yang lebih ekstrem seperti sungai yang mengubah alurnya dan menggerus permukiman warga. Kondisi ini tentu saja menimbulkan kerugian material dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat setempat.

Imbauan Keselamatan dari BPBD Jepara

Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, BPBD Jepara tak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. “BPBD Jepara mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi,” pesan Arwin.

Selain itu, masyarakat juga diminta untuk membatasi aktivitas melintasi jalur yang rawan longsor demi keselamatan bersama. Kesadaran dan kehati-hatian dari setiap individu menjadi kunci utama untuk meminimalkan risiko dan dampak buruk yang mungkin timbul akibat bencana alam ini. Upaya pemulihan dan penanganan pasca-longsor akan terus dilakukan secara bertahap, dengan harapan aksesibilitas di Desa Tempur dapat segera pulih sepenuhnya.

Pos terkait