JAKARTA — Peningkatan aktivitas pameran seni rupa di awal tahun 2026 belum diikuti oleh kenaikan harga karya seni di pasar primer. Meski frekuensi pameran dan partisipasi publik terus meningkat, tren harga karya masih stagnan.
Beberapa agenda besar seperti Art Jakarta Papers pada Februari dan Art Jakarta Gardens yang direncanakan pada awal Mei 2026 menunjukkan tingginya intensitas kegiatan seni rupa dalam beberapa bulan terakhir. Namun, peningkatan ini tidak sejalan dengan pergerakan harga karya. Direktur Artistik Art Jakarta Enin Supriyanto menyatakan bahwa stagnasi harga telah berlangsung selama satu dekade terakhir.
“Fluktuasinya itu 10 tahun terakhir, harga karyanya segitu saja sebenarnya,” ujarnya.
Menurut Enin, kemampuan daya beli domestik menjadi faktor utama dalam pembentukan harga karya seni di dalam negeri.
“Jadi kemampuan ekonomi rata-rata di negara itulah yang menentukan,” katanya.
Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat sektor ekonomi kreatif tumbuh sebesar 5,69% pada 2025 dengan nilai mencapai US$12,89 miliar. Meskipun kontribusi besar, subsektor seni rupa masih menghadapi tantangan dalam membangun pasar yang solid.
Masuknya kolektor baru, termasuk dari kalangan muda, dinilai belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga karya secara signifikan. Sebagai respons, pemerintah mulai mendorong penetrasi seniman dan galeri ke pasar internasional untuk membuka akses ekonomi baru.
Salah satu langkah dilakukan melalui partisipasi dalam program Rising Currents di Art Central Hong Kong pada Maret 2026. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan bahwa pemilihan Hong Kong didasarkan pada posisinya sebagai salah satu pusat seni kontemporer di Asia.
“Upaya ini juga untuk membangun ekosistem budaya yang memungkinkan talenta seni rupa Indonesia tumbuh berkelanjutan, menjalin jejaring, dan beresonansi dalam lanskap seni kontemporer dunia,” ujarnya.
Sebanyak delapan galeri terlibat dalam program tersebut, termasuk Sewu Satu dari Jakarta yang membawa karya Adi Sundoro dan Muhammad Akbar dengan tema isu sosial kontemporer.
Co-Founder dan Program Director dari Sewu Satu, Raihan Prabowo, mengatakan partisipasi dalam ajang internasional tidak semata berorientasi pada transaksi, tetapi juga membuka peluang kolaborasi.
“Aku juga masih agak shock. Sebab seniman yang dipilih itu sangat vokal dan mengkritik rezim,” ujarnya.
Dia menambahkan, respons audiens di Hong Kong menunjukkan karakter pasar yang berbeda, dengan perhatian tidak hanya pada aspek visual, tetapi juga narasi karya.
“Mereka bukan sekadar tanya harga, tapi tanya lebih dalam soal konteks,” katanya.
Meski penjualan terbatas, Raihan menilai akses terhadap proyek dan jejaring menjadi nilai strategis dalam jangka panjang bagi galeri.
Tantangan Pasar Seni Rupa Indonesia
Pasar seni rupa Indonesia menghadapi beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Pertama, keterbatasan daya beli masyarakat. Meskipun jumlah penggemar seni meningkat, kemampuan finansial untuk membeli karya seni tetap menjadi hambatan.
Kedua, kurangnya infrastruktur pendukung. Banyak seniman dan galeri kesulitan dalam memperluas pasar karena minimnya dukungan dari institusi dan lembaga yang bisa memberikan pelatihan atau bantuan teknis.
Ketiga, persaingan dengan seni dari luar negeri. Karya seni asing sering kali lebih mudah diakses dan memiliki reputasi yang lebih kuat di pasar internasional.
Keempat, kurangnya edukasi tentang seni rupa. Banyak orang masih menganggap seni sebagai hobi, bukan investasi. Hal ini memengaruhi minat dan kesadaran masyarakat akan nilai karya seni.
Kelima, ketidakstabilan politik dan ekonomi. Perubahan situasi di dalam maupun luar negeri dapat memengaruhi permintaan dan penawaran karya seni.
Langkah Pemerintah untuk Membangun Pasar Seni
Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk membangun pasar seni yang lebih stabil. Salah satunya adalah memperluas akses ke pasar internasional melalui partisipasi dalam pameran besar seperti Art Central Hong Kong.
Selain itu, pemerintah juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga seni lokal untuk memberikan pelatihan dan dukungan kepada seniman. Tujuannya adalah agar seniman mampu bersaing di pasar global.
Pemerintah juga berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya seni rupa sebagai bagian dari budaya dan ekonomi. Dengan demikian, diharapkan lebih banyak orang tertarik untuk membeli dan mendukung karya seni lokal.
Kesimpulan
Meski aktivitas pameran seni rupa meningkat, harga karya seni di pasar primer masih stagnan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti daya beli masyarakat, kurangnya infrastruktur, dan persaingan dengan seni luar negeri.
Namun, upaya pemerintah untuk memperluas pasar seni ke luar negeri menunjukkan komitmen untuk membangun ekosistem seni yang lebih baik. Dengan dukungan yang tepat, harapan besar dapat diwujudkan untuk pertumbuhan seni rupa Indonesia di masa depan.






