Kunjungan Akademik Mahasiswa UIN Walisongo ke LSF RI
Sebanyak 62 mahasiswa dari Konsentrasi Broadcasting, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, melaksanakan kunjungan akademik ke kantor Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia di Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi mahasiswa semester enam dalam memahami regulasi serta praktik industri perfilman yang relevan dengan mata kuliah produksi yang sedang mereka tempuh.
Perwakilan UIN Walisongo, Alfandi, menyampaikan bahwa kunjungan ini merupakan langkah strategis untuk menghubungkan teori di ruang kelas dengan praktik nyata di lapangan. Menurutnya, mahasiswa broadcasting akan sangat bersinggungan dengan dunia perfilman, sehingga pemahaman mengenai proses kurasi dan tanggung jawab konten menjadi sangat krusial agar karya yang dihasilkan nantinya tetap menaati kaidah yang berlaku.
Peran LSF dalam Industri Film
Ketua Komisi III LSF, Kuat Prihatin, menegaskan bahwa film memiliki pengaruh besar terhadap realitas sosial masyarakat. Oleh karena itu, LSF hadir sebagai lembaga non-struktural yang bertugas mengklasifikasikan konten demi melindungi publik dari dampak negatif.
Ketua LSF, Dr. Naswardi, M.P.A., juga meluruskan persepsi bahwa fungsi LSF bukan sekadar memotong adegan, melainkan menetapkan klasifikasi usia penonton agar sesuai dengan perkembangan psikologis audiens. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap penonton mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan tingkat pematangannya.
Proses Penilaian dan Pengelolaan Konten
Dalam sesi pemaparan teknis, Ketua Subkomisi Bidang Penyensoran dan Penerjemahan, Hadi Artomo, mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, LSF telah menangani lebih dari 41 ribu materi film. Proses penilaian dilakukan secara komprehensif, tidak hanya melihat adegan visual, tetapi juga mempertimbangkan konteks tema, dialog, hingga nuansa keseluruhan karya.
LSF juga membuka peluang kolaborasi bagi mahasiswa melalui program magang rutin guna mencetak tenaga profesional yang melek sensor. Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam proses penyensoran dan klasifikasi film.
Diskusi Interaktif dan Tantangan di Era Digital
Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif mengenai tantangan sensor di era digital, termasuk munculnya tren micro drama pada platform OTT. Pihak LSF menekankan bahwa klasifikasi film bukanlah bentuk pembatasan kreativitas, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan publik.
Melalui kunjungan ini, UIN Walisongo berharap mahasiswa mampu menjadi komunikator yang tidak hanya kreatif, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang regulasi dan praktik industri, mahasiswa diharapkan dapat menghasilkan karya yang bermutu dan sesuai dengan standar yang berlaku.






