Aksi Bupati Bandung Barat di Lokasi Bencana Longsor
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, melakukan aksi terjun lapangan di lokasi bencana longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua. Namun, aksi tersebut diwarnai insiden tak terduga pada Sabtu (24/1/2026). Di tengah medan berat pasca-longsor, Jeje sempat terperosok dan terjebak di kubangan lumpur akibat tanah yang masih labil.
Peristiwa tersebut terjadi saat Jeje bersama tim BPBD meninjau Kampung Pasir Kuning, area yang terdampak paling parah dan telah menelan korban jiwa. Struktur lereng yang licin membuat mobilitas di lapangan menjadi sangat berisiko.
Meski sempat terjebak, Bupati Jeje berhasil dievakuasi oleh petugas dan langsung melanjutkan peninjauan untuk memastikan proses evakuasi warga berjalan optimal. “Kondisi medan sangat berat, tanahnya labil dan licin. Tapi kami harus pastikan penanganan berjalan cepat,” ujar Jeje seperti dikutip dari Wartakotalive.com, Senin (26/1/2026).
Status Darurat Bencana Ditetapkan
Melihat dampak kerusakan yang kian meluas, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat resmi menetapkan status darurat bencana. Kehadiran Jeje di lokasi disebut sebagai langkah krusial untuk memastikan respons pemerintah daerah sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Saat ini Tim SAR gabungan (BPBD, TNI, Polri) masih menyisir area terdampak untuk mencari kemungkinan korban lain. Posko Darurat juga telah didirikan oleh BPBD di sekitar lokasi untuk penyaluran logistik dan layanan medis.
Sementara itu, warga di zona rawan terus dipindahkan guna mengantisipasi longsor susulan akibat curah hujan yang masih tinggi. Jeje menegaskan akan mengerahkan seluruh sumber daya demi percepatan pemulihan wilayah. “Kami meminta masyarakat untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi petugas demi keselamatan bersama,” tandasnya.
Upaya Penanganan Bencana
Dalam upaya penanganan bencana, pihak berwenang terus berkoordinasi untuk memastikan semua kebutuhan warga terpenuhi. Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk pembukaan jalur evakuasi dan pengiriman bantuan logistik ke lokasi yang sulit dijangkau.
Selain itu, para petugas juga memberikan informasi dan edukasi kepada warga tentang cara menghadapi bencana longsor. Hal ini dilakukan agar masyarakat dapat lebih siap dan tanggap dalam menghadapi situasi darurat.
Pemerintah setempat juga berkoordinasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi keagamaan untuk mempercepat proses bantuan dan pelayanan kesehatan. Kolaborasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak terlibat dalam upaya penyelamatan dan pemulihan.
Peran Masyarakat dalam Bencana
Warga setempat juga turut serta dalam proses penanganan bencana. Mereka membantu membersihkan area yang terkena dampak longsor dan mendirikan posko darurat sementara. Dengan adanya partisipasi aktif dari masyarakat, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Selain itu, warga juga diberi tahu tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari aktivitas yang berisiko di daerah rawan longsor. Edukasi ini dilakukan melalui pertemuan rutin dan sosialisasi yang dilakukan oleh petugas.
Jeje mengatakan bahwa partisipasi masyarakat sangat penting dalam menghadapi bencana. “Tanpa dukungan dari warga, upaya penanganan bencana tidak akan maksimal,” katanya.
Langkah Jangka Panjang
Selain langkah darurat, pemerintah juga mulai merancang langkah jangka panjang untuk mencegah terulangnya bencana serupa. Beberapa rencana telah disusun, termasuk penguatan struktur lereng dan pembuatan sistem peringatan dini.
Selain itu, pemerintah juga berencana untuk meningkatkan kapasitas tenaga ahli dan alat pendukung dalam penanganan bencana. Rencana ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan daerah dalam menghadapi ancaman bencana alam.
Dengan adanya rencana ini, diharapkan masyarakat dapat merasa lebih aman dan nyaman di lingkungan mereka sendiri. Selain itu, langkah-langkah ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan bencana.






