Pasok BBM, KKKS Didesak Bawa Hasil Produksi Minyak Asing

Langkah Strategis untuk Memenuhi Kebutuhan BBM Domestik

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro menyarankan kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) nasional seperti Pertamina dan Medco untuk mengalihkan hasil produksi minyak mereka di luar negeri ke dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) domestik dengan memanfaatkan kilang lokal menggunakan harga publish rate.

Komaidi menyatakan dukungannya terhadap perusahaan migas asal Indonesia yang membawa pulang minyak dari luar negeri dan mengolahnya di kilang dalam negeri. Meskipun ada sedikit selisih dalam bisnis, yang utama adalah memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi terlebih dahulu. Ia menekankan bahwa ketersediaan stok di dalam negeri menjadi prioritas utama guna mencegah krisis energi serupa yang terjadi di Filipina, di mana kelangkaan pasokan memicu lonjakan harga hingga 70 persen.

Pengalaman Pertamina dalam Membawa Pulang Minyak Mentah

Skema membawa pulang hasil produksi minyak tersebut bukan hal baru. Pada Januari 2026, Pertamina telah mengangkut 1 juta barel minyak mentah dari Blok 405 A Aljazair yang dikelola oleh Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP). Komaidi menjelaskan bahwa pasokan tersebut bukan merupakan komoditas impor, melainkan murni hasil produksi dari wilayah kerja perusahaan Indonesia di mancanegara.

Ia berharap langkah serupa dapat kembali dilakukan oleh Pertamina maupun perusahaan swasta seperti Medco. Selain itu, Komaidi juga menyarankan agar KKKS swasta yang beroperasi di Indonesia memprioritaskan penjualan minyak mentah mereka ke kilang Pertamina. Hal ini dianggap krusial mengingat harga minyak dunia yang terus melonjak, pelemahan kurs rupiah, serta terbatasnya pasokan global.

Prioritas Ketahanan Energi daripada Profit

Senada dengan Komaidi, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), Elan Biantoro menegaskan bahwa membawa pulang minyak hasil ekspansi luar negeri sangat diperlukan untuk mencegah defisit pasokan nasional. Ia menekankan bahwa langkah ini harus dilakukan agar dalam negeri tidak mengalami defisit.

Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Elan menilai semua pihak harus mencari solusi kreatif agar kebutuhan energi, terutama untuk sektor industri dan ekonomi, tetap terpenuhi. Ia menyoroti bahwa kondisi saat ini memerlukan inovasi dan strategi yang tepat agar kebutuhan dalam negeri tetap tercukupi.

”Kondisi seperti sekarang kita harus cari-cari akal. Kalau tidak, kebutuhan dalam negeri tidak tercukupi. Kalau masyarakat mungkin kita bisa imbau untuk berhemat, tapi kebutuhan industri, untuk pengembangan ekonomi, barang dan jasa di kawasan industri kan butuh BBM,” ujar Elan.

Fokus pada Ketersediaan Barang untuk Menjaga Roda Ekonomi

Elan menekankan bahwa perusahaan migas Indonesia saat ini tidak boleh hanya mengejar keuntungan besar. Fokus utama saat ini adalah menjamin ketersediaan barang di dalam negeri demi menjaga perputaran roda ekonomi. Ia menegaskan bahwa masalah harga bisa dibahas kemudian setelah kepastian suplai terpenuhi. Bagi Elan, tersedianya stok minyak jauh lebih penting daripada kalkulasi profit di tengah ancaman krisis global.

”Sekarang lupakan dulu harga. Yang penting suplainya. Barangnya ada dulu, baru bicara harga. Jadi biar ekonomi juga berputar,” kata Elan.

Harga BBM Subsidi Tetap Stabil hingga Akhir 2026

Pemerintah telah menyatakan bahwa harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026. Purbaya, salah satu pejabat terkait, menyampaikan bahwa pemerintah memiliki anggaran yang cukup untuk memastikan stabilitas harga BBM. Ia menegaskan bahwa uang yang tersedia cukup besar untuk mendukung kebijakan ini.

Selain itu, kenaikan harga BBM non-subsidi masih ditahan. Bahlil, pejabat lainnya, menyatakan bahwa pihaknya sedang dalam proses pembahasan terkait kebijakan harga BBM non-subsidi. Namun, sampai saat ini, kebijakan ini belum diumumkan secara resmi.

Pos terkait