Pedagang Baturraden Kesulitan, Pengunjung Sepi Pasca Banjir

Dampak Banjir di Baturraden Masih Terasa

Dua minggu telah berlalu sejak banjir menghancurkan kawasan Lokawisata Baturraden, Kabupaten Banyumas. Meski air telah surut, dampaknya masih terasa hingga saat ini. Tidak hanya lapak-lapak yang sempat terendam, tetapi juga jumlah pengunjung yang turun drastis.

Para pedagang kini harus lebih giat menawarkan dagangan kepada setiap orang yang melintas. Mia, salah satu pedagang pakaian di kawasan tersebut, merasakan perubahan yang signifikan. Sejak pagi, sekira pukul 08.00 WIB, ia sudah membuka lapaknya dan bersiap menyambut wisatawan. Namun, pengunjung yang datang jauh lebih sedikit dibanding biasanya.

Setiap ada orang yang lewat, ia langsung menawarkan dagangan. Di lapaknya, ia menjual berbagai pakaian santai, mulai dari daster, kaos, celana, hingga souvenir khas Baturraden. “Sekarang sepi. Biasanya setidaknya ada rombongan, tapi beberapa minggu ini menurun. Paling cuma satu dua pengunjung yang mampir,” ujarnya.

Padahal, dalam kondisi normal, Mia bisa mengantongi omzet sekitar Rp500 ribu per hari. Kini, untuk mencapai angka itu terasa sulit, bahkan saat akhir pekan. “Sabtu Minggu juga begitu. Ramai biasanya kalau liburan. Tapi kadang banyak pengunjung juga belum tentu beli,” katanya.

Mia menduga salah satu penyebab menurunnya kunjungan adalah kabar yang sempat beredar bahwa Baturraden ditutup. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar. “Kemarin sempat beredar info kalau Baturraden tutup, padahal itu hoaks. Orang taunya tutup semua, padahal tetap buka. Yang ditutup cuma curugnya saja,” jelas Mia.

Hal serupa dirasakan oleh pedagang lain, Cartem, warga Desa Kemutug, Kecamatan Baturraden. Ia menyebut kondisi dagangan menjadi sepi sejak banjir terjadi. “Padahal di kali itu banjir biasa, tidak berbahaya buat yang lain. Cuma kunjungannya jadi berkurang,” katanya.

Cartem mengaku, saat kondisi ramai, ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp200 ribu per hari. Namun pada hari biasa, pendapatannya kini hanya berkisar Rp75 ribu. “Sekarang sepi. Kalau hari biasa ya paling dapat Rp75 ribu. Mudah-mudahan bisa lebih ramai lagi,” ujarnya.

Ia yang sudah berjualan selama 25 tahun di kawasan Baturraden itu menilai jumlah pengunjung memang belum sepenuhnya pulih, bahkan sejak masa pandemi. “Baturraden sekarang ramai, tapi biasa saja. Apalagi sejak corona, makin berkurang. Apalagi ditambah banjir, orang taunya tutup,” katanya.

Sementara itu, Kepala UPT Lokawisata Baturraden, Suyanto, membenarkan adanya penurunan jumlah kunjungan wisatawan pascakejadian banjir. “Kalau hari Minggu biasanya 2.000 pengunjung, sekarang jadi sekitar 600. Hari biasa dari 300 turun jadi 100,” ujarnya.

Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMBP) juga menyampaikan imbauan kepada wisatawan agar tidak khawatir berkunjung. Mereka menilai kondisi di lapangan tidak semengerikan informasi yang beredar di media sosial. “Baturraden tetap layak dikunjungi. Betul-betul aman dan tidak semengerikan yang beredar di medsos,” ujar Ketua PMPB, Beno.


Pos terkait