Upaya pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang dilaporkan hilang kontak di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, akan dilanjutkan secara intensif pada pagi ini. Keputusan ini diambil setelah pencarian udara pada hari sebelumnya terhambat oleh kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Madya Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa kendala utama dalam operasi pencarian udara adalah cuaca buruk yang menyebabkan pesawat pencari berulang kali harus keluar masuk awan tebal.
Tantangan Cuaca Buruk dalam Pencarian Udara
Marsekal Madya Syafii memaparkan bahwa kondisi cuaca yang berubah-ubah dan tidak menentu menjadi faktor krusial yang mempengaruhi efektivitas pencarian melalui udara. Pesawat yang digunakan untuk melakukan penyisiran udara berulang kali harus menembus lapisan awan yang tebal, kemudian keluar lagi. Manuver ini, meskipun terpaksa dilakukan untuk terus mencari, sangat mengganggu operasional pesawat dan mengurangi kemampuan visual tim pencari.
“Setelah terbang di sana, memang karena kondisi cuaca yang in-out nabrak awan keluar awan, sehingga pencarian dari udara belum maksimal dan akan dilanjutkan besok pagi,” ujar Syafii. Ia menambahkan bahwa pencarian udara di malam hari juga tidak akan memberikan hasil yang optimal karena minimnya cahaya. Oleh karena itu, demi memaksimalkan upaya, pencarian udara diputuskan untuk ditangguhkan sementara dan dilanjutkan pada keesokan harinya dengan kondisi yang diharapkan lebih baik.
Operasi Darat Tetap Berjalan
Meskipun pencarian udara mengalami kendala, tim SAR gabungan tidak tinggal diam. Operasi pencarian melalui jalur darat terus digalakkan, melibatkan unsur-unsur dari Basarnas, TNI, Polri, dan partisipasi aktif masyarakat setempat. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjangkau area-area yang sulit diakses oleh pesawat, serta mengumpulkan informasi dan petunjuk dari warga yang mungkin melihat atau mendengar sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan pesawat.
Kronologi Hilangnya Kontak Pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026, saat tengah melintasi wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat tersebut lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan tujuan akhir Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.
Menurut jadwal penerbangan yang telah ditetapkan, pesawat tersebut seharusnya mendarat di Makassar sekitar pukul 12.20 Waktu Indonesia Tengah (Wita). Namun, hingga melewati batas waktu pendaratan yang seharusnya, pesawat belum juga tiba di tujuan. Ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran serius, dan tim SAR segera dikerahkan untuk melakukan pencarian.
Detail Peristiwa dan Tindakan Lanjutan
Hilangnya kontak pesawat ini memicu respons cepat dari pihak berwenang. Basarnas mengambil alih komando operasi pencarian dan penyelamatan. Berbagai elemen dikerahkan, termasuk pesawat terbang, helikopter, serta tim darat yang terdiri dari personel terlatih.
Kondisi cuaca yang buruk tidak hanya menghambat pencarian udara, tetapi juga berpotensi menjadi faktor penyebab hilangnya kontak pesawat itu sendiri. Angin kencang, badai petir, dan jarak pandang yang terbatas dapat menyulitkan pilot dalam navigasi, terutama di wilayah pegunungan atau hutan yang memiliki medan kompleks seperti di Maros.
Pihak berwenang terus mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk data radar, laporan cuaca, dan kesaksian dari pihak-pihak terkait. Investigasi mendalam akan dilakukan setelah pesawat berhasil ditemukan untuk mengetahui secara pasti penyebab hilangnya kontak.
Marsekal Madya Syafii menekankan pentingnya kesabaran dan ketekunan dalam operasi pencarian ini. Ia meyakinkan publik bahwa seluruh upaya maksimal akan terus dilakukan hingga pesawat ditemukan dan para penumpang serta kru dapat diselamatkan. Koordinasi antarinstansi juga terus ditingkatkan untuk memastikan kelancaran dan efektivitas setiap tahapan pencarian.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan memberikan dukungan moril kepada tim SAR. Selain itu, jika ada informasi sekecil apapun yang relevan dengan keberadaan pesawat, diharapkan segera dilaporkan kepada pihak berwenang. Pencarian yang berlanjut dengan optimisme ini diharapkan segera membuahkan hasil positif.






