Ribuan warga dari berbagai daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan luar daerah memadati Kantor Gubernur Kompleks Kepatihan Yogyakarta pada Senin, 30 Maret 2026. Mereka hadir untuk mengikuti acara silaturahmi bersama Raja Keraton yang juga Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X serta Raja Puro Pakualaman, Paku Alam X.
Dari pantauan, antrean masyarakat mengular puluhan meter di luar gerbang Kepatihan hingga ke dalam sejak pukul 08.00 WIB meski acara baru resmi dibuka pada pukul 10.00 WIB. Suasana yang terik panas sempat berubah menjadi mendung disertai rintik gerimis sebelum kembali cerah. Para warga pun menggunakan payung untuk berteduh, namun tak bergeser sedikitpun dari antrean.
Kemacetan jumlah warga ini disebabkan karena acara ini menjadi kesempatan langka mereka untuk bisa bertemu dan bersalaman langsung dengan Sultan dan Paku Alam yang didampingi permaisurinya.
“Akhirnya bisa keturutan bersalaman dengan Sultan, sudah dari jam 7 pagi ikut antre sama anak dan suami,” ujar Nur, 41, warga Kabupaten Sleman.
Nur menuturkan, sebagai seorang pedagang sayur, sangat jarang ada kesempatan bertemu langsung dengan Raja Keraton itu. Ketika ada informasi soal syawalan itu, ia pun mempersiapkan diri. “Tahun-tahun lalu kan belum kesampaian karena suami masih kerja di luar kota, sekarang baru terwujud, alhamdulilah,” kata dia.
Beberapa warga bahkan datang berombongan menggunakan bus. “Tadi ke sini naik beberapa bus, bareng sekitar 90 orang, ingin ketemu dan salaman Ngarso Dalem (Sultan) sambil ngalap berkah (berharap keberkahan),” kata seorang warga asal Kabupaten Bantul, Rohayatun, yang turut mengantre.
Dalam acara yang dibatasi hanya berlangsung pukul 10.00-12.00 WIB itu, petugas memberlakukan jalur antrean khusus dengan mendahulukan kelompok disabilitas dan lanjut usia. Sebagian warga bahkan sempat melepas alas kaki mereka saat hendak naik ke Bangsal Kepatihan meski pihak protokol hanya mewajibkan pakaian sopan dan melarang penggunaan sandal jepit.
Koordinator Humas Dinas Kominfo DIY Ditya Nanaryo Aji mengatakan syawalan bersama Sultan pada 2026 ini menjadi kesempatan bagi masyarakat sekaligus merayakan hari jadi DIY ke-271. Ia menambahkan tahun ini acara diselenggarakan dengan lebih sederhana di mana sajian prasmanan diganti dengan 70 gerobak UMKM berupa angkringan dan soto gratis.
“Kami melibatkan UMKM lokal agar ekonomi juga tetap berputar lewat acara ini, semangatnya silaturahmi dengan kesederhanaan,” kata dia.
Meski antrean panjang, warga tetap tertib mengikuti aturan yang melarang sesi mengobrol panjang maupun swafoto demi kelancaran arus massa. Sebagai gantinya, tim Humas Pemda DIY menyediakan dokumentasi foto yang dapat diunduh melalui tautan yang disediakan.
Beberapa hal penting yang terjadi selama acara:
- Antrean dimulai sejak pagi hari meskipun acara baru dimulai pada pukul 10.00 WIB
- Cuaca awalnya terik, kemudian berubah menjadi hujan ringan sebelum kembali cerah
- Warga menggunakan payung untuk berteduh tanpa meninggalkan antrian
- Beberapa warga datang menggunakan bus dan berjumlah cukup besar
- Petugas menyiapkan jalur khusus untuk kelompok disabilitas dan lansia
- Penggunaan sandal jepit dilarang, sehingga sebagian warga melepas alas kaki mereka
- Acara diselenggarakan secara sederhana dengan mengganti prasmanan dengan gerobak UMKM
- Dokumentasi foto tersedia untuk diunduh oleh peserta
Pengalaman para peserta:
- Nur, warga Sleman, mengaku antre sejak jam 7 pagi bersama keluarganya
- Rohayatun, warga Bantul, mengikuti acara bersama 90 orang lainnya
- Banyak peserta mengungkapkan kebahagiaan bisa bertemu langsung dengan Sultan dan Paku Alam
- Peserta menekankan pentingnya kesederhanaan dalam acara tersebut
- Tidak ada kekacauan atau pelanggaran aturan selama proses antrean
Peran UMKM dalam acara ini:
- 70 gerobak UMKM disiapkan untuk menyediakan angkringan dan soto gratis
- Tujuan utamanya adalah membantu perekonomian masyarakat lokal
- Acara diselenggarakan dengan konsep yang lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya
- UMKM berperan aktif dalam memenuhi kebutuhan peserta acara
Aturan yang diterapkan selama acara:
- Larangan mengobrol panjang dan swafoto untuk menjaga kelancaran arus massa
- Penggunaan sandal jepit dilarang, hanya pakaian sopan yang diperbolehkan
- Jalur antrean khusus untuk kelompok disabilitas dan lansia
- Dokumentasi foto tersedia untuk diunduh melalui tautan yang disediakan oleh pihak penyelenggara






