JAKARTA — Perusahaan penyedia jasa internet, PT S Inergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET), sedang mengambil langkah strategis untuk memperluas cakupan bisnisnya. Salah satu inisiatif utama yang dilakukan adalah dengan menambahkan kegiatan usaha di bidang perdagangan besar peralatan telekomunikasi. Langkah ini ditandai dengan rencana penambahan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 46523, yang mencakup aktivitas distribusi perangkat telekomunikasi seperti router, switch, hingga perangkat fiber optik.
Direktur INET, Willy Usulangi, menjelaskan bahwa penambahan lini usaha ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas rantai nilai bisnis. Selain sebagai penyedia layanan konektivitas, INET kini juga berencana menjadi distributor perangkat telekomunikasi.
“Penambahan KBLI ini sejalan dengan core business perusahaan sebagai penyedia jasa internet dan penyewaan fiber optik. Dengan memasukkan kegiatan perdagangan besar telekomunikasi, perusahaan dapat memperluas rantai nilai dari sekadar penyedia infrastruktur dan layanan konektivitas menjadi pelaku aktif dalam distribusi perangkat, komponen, dan solusi telekomunikasi,” ujar Willy dalam keterbukaan informasi, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, peluang bisnis ini sangat besar karena pertumbuhan penetrasi internet di Indonesia diperkirakan mencapai 80,66% atau setara dengan 229,4 juta pengguna pada 2025. Selain itu, tren pergeseran dari penggunaan mobile data ke fixed broadband atau WiFi rumah terus meningkat. Hal ini mendorong permintaan perangkat infrastruktur jaringan tetap seperti fiber to the home (FTTH), optical line terminal (OLT), optical network terminal (ONT), hingga router dan switch.
Perseroan melihat lebih dari 300 perusahaan penyedia jasa internet (ISP) di Indonesia sebagai basis pelanggan potensial. Di samping itu, INET juga membidik segmen operator telekomunikasi, sektor korporasi, instansi pemerintah, hingga kawasan properti sebagai target pasar.
Dari sisi proyeksi keuangan, kegiatan usaha baru ini diperkirakan dapat memberikan tambahan laba bersih secara bertahap mulai dari Rp4,66 miliar pada 2026 dan meningkat hingga Rp15,72 miliar pada 2030. Hasil studi kelayakan menunjukkan bahwa proyek ini layak secara finansial, dengan net present value (NPV) positif sebesar Rp82,77 miliar serta profitability index (PI) mencapai 4,83.
Manajemen INET menilai bahwa integrasi bisnis antara layanan konektivitas dan perdagangan perangkat akan meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membuka peluang margin yang lebih besar. Namun, perseroan tetap mencermati kebutuhan tambahan modal kerja serta pengelolaan persediaan dan rantai pasok.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, INET akan terlebih dahulu meminta persetujuan pemegang saham melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Mei 2026.
Melalui ekspansi ini, perseroan berharap dapat memperkuat posisi di industri telekomunikasi nasional sekaligus menangkap peluang pertumbuhan dari masifnya digitalisasi di berbagai sektor.
Sebelumnya, INET dikenal sebagai penyedia layanan internet dan penyewaan fiber optik melalui entitas anak. Dengan ekspansi ke perdagangan perangkat, perseroan berupaya memperluas sumber pendapatan sekaligus meningkatkan daya saing di tengah pertumbuhan industri yang kian kompetitif.






