BATAM (KEPRIZONE.COM) – Upaya memperkuat sistem ketenagalistrikan di kawasan industri Batam, Bintan, dan Karimun (BBK) memasuki babak baru. PT PLN Batam, anak usaha PLN yang mengelola kelistrikan di wilayah tersebut, resmi menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan nasional untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Batam #1 berkapasitas 120 Megawatt (MW).
Proyek ini tidak sekadar pembangunan fasilitas pembangkit baru, tetapi menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi dan daya saing kawasan industri paling dinamis di Indonesia bagian barat. Melalui kerja sama dengan konsorsium perusahaan nasional, proyek tersebut diperkirakan menelan investasi sebesar Rp 3,35 triliun.
“PLTGU Batam #1 bukan hanya proyek pembangkit, tetapi pondasi bagi ketahanan energi di kawasan industri paling dinamis di Indonesia,” ujar Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, Rabu (19/10/2025).
Proyek ini dikerjakan melalui skema joint operation yang melibatkan tiga perusahaan nasional, yakni PT PP (Persero) Tbk, PT Atamora Teknik Makmur, dan PT Sinergi Pratama Sukses (SPS). Kesepakatan pembangunan ditandai dengan penandatanganan kontrak yang berlangsung di Kantor PLN Batam, Unit Bisnis BES, Jakarta.
Kerja sama ini menegaskan semangat sinergi antara BUMN dan sektor swasta nasional dalam memperkuat infrastruktur energi strategis. PLN Batam berharap kolaborasi tersebut dapat menjadi model kemitraan profesional yang mendorong percepatan investasi energi bersih dan andal di masa mendatang.
Kwin Fo menyampaikan apresiasi terhadap para mitra yang terlibat dalam proyek tersebut. “Kami bersyukur dapat menggandeng mitra nasional yang berintegritas dan berkompeten,” tuturnya.
Batam dan wilayah sekitarnya dikenal sebagai kawasan industri unggulan nasional dengan sektor manufaktur, logistik, dan teknologi yang terus berkembang. Pertumbuhan tersebut menuntut pasokan energi yang stabil, efisien, dan berkelanjutan. Pembangunan PLTGU Batam #1 diharapkan menjadi tulang punggung baru sistem kelistrikan BBK sekaligus memperkuat daya saing kawasan industri di tengah peningkatan kebutuhan energi listrik.
Kwin Fo menegaskan bahwa kehadiran PLTGU ini bukan hanya untuk memenuhi permintaan listrik jangka pendek, tetapi juga bagian dari perencanaan energi jangka panjang Batam. “PLTGU Batam #1 akan menjadi salah satu penopang utama sistem tenaga listrik Batam dalam jangka panjang,” ujarnya.
Lebih jauh, proyek ini ditujukan untuk mendukung pertumbuhan sektor-sektor strategis seperti logistik, manufaktur, dan pusat data (data center) yang semakin berperan dalam struktur ekonomi digital nasional.
Dengan total investasi Rp 3,35 triliun, pembangunan PLTGU ini menjadi salah satu proyek energi terbesar di wilayah Kepulauan Riau dalam beberapa tahun terakhir. PLN Batam menargetkan masa konstruksi sekitar tiga tahun sejak dimulainya pekerjaan fisik sehingga pembangkit dapat segera beroperasi memperkuat sistem kelistrikan daerah.
Teknologi yang digunakan dirancang untuk efisiensi tinggi dan emisi rendah, sejalan dengan arah transisi energi menuju Net Zero Emission 2060. PLTGU ini menggunakan kombinasi turbin gas dan uap, dengan memanfaatkan panas buang turbin gas untuk menggerakkan turbin uap sehingga konsumsi bahan bakar lebih efisien.
Project Sponsor Konsorsium PP–Atamora–SPS, Doliano M Siregar, menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang terjalin. Ia menilai proyek ini mencerminkan kepercayaan dan profesionalisme industri nasional dalam pembangunan infrastruktur vital.
“Kami berterima kasih atas kepercayaan PLN Batam dan seluruh tim pengadaan yang menjalankan proses tender dengan transparan dan adil,” kata Doliano. Ia menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi bukti bahwa BUMN dan sektor swasta nasional dapat saling melengkapi dalam mempercepat pembangunan energi nasional yang mandiri dan kompetitif.
Kehadiran PLTGU ini akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian lokal dan regional. Dengan tambahan pasokan listrik 120 MW, kawasan BBK memiliki ruang lebih besar untuk menarik investasi baru, terutama di sektor manufaktur ekspor, logistik, dan teknologi informasi. Keandalan sistem listrik yang lebih baik juga akan mendorong produktivitas industri serta efisiensi operasional.
Dari sisi ketahanan energi, proyek ini menjadi langkah strategis PLN Batam dalam mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbasis bahan bakar minyak yang memiliki biaya tinggi dan emisi lebih besar.
Kwin Fo optimistis proyek ini akan membawa manfaat jangka panjang, tidak hanya bagi sistem kelistrikan Batam tetapi juga bagi ketahanan energi nasional. “Kami menempatkan proyek ini sebagai investasi untuk masa depan Batam dan Indonesia yang lebih tangguh energi,” ujarnya.





