Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan Dampaknya terhadap Ekonomi Global
Iran secara resmi menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia, setelah menuding Amerika Serikat melanggar gencatan senjata. Keputusan ini datang hanya sehari setelah jalur tersebut sempat dibuka, menandai eskalasi konflik yang berpotensi memicu lonjakan harga minyak global dalam waktu singkat.
Alasan Penutupan Selat Hormuz
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan penutupan total Selat Hormuz mulai Sabtu malam waktu setempat. Pernyataan resmi IRGC menyebutkan bahwa penutupan ini dilakukan karena AS tetap mempertahankan blokade laut terhadap Iran meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Iran menilai kebijakan ini sebagai bentuk tekanan sepihak yang mengancam kedaulatan dan stabilitas kawasan.
Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa tidak ada kapal yang boleh bergerak dari titik labuhnya di Teluk Persia dan Laut Oman, dan kapal yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai bentuk kerja sama dengan musuh. Mereka juga mengimbau seluruh kapal untuk hanya mengikuti informasi dari otoritas resmi Angkatan Laut IRGC melalui Channel 16.
Perubahan Sikap Iran dalam 24 Jam
Perubahan sikap Iran terjadi begitu cepat. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal komersial. Pernyataan itu disampaikan melalui X:
“Sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur bagi semua kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa periode gencatan senjata, melalui rute terkoordinasi sebagaimana telah diumumkan oleh Organisasi Pelabuhan dan Maritim Republik Islam Iran.”
Namun, sikap tersebut berubah drastis setelah pernyataan lanjutan dari Donald Trump yang menegaskan blokade tetap berlaku hingga tercapai kesepakatan, termasuk soal program nuklir Iran. Trump juga menyebut negosiasi akan berlanjut hingga akhir pekan dan memberi sinyal gencatan senjata yang berakhir pada Rabu kemungkinan tidak diperpanjang.

Dampak Domino bagi Ekonomi Indonesia
Penutupan Selat Hormuz bukan sekadar konflik regional, ini ancaman langsung bagi ekonomi global, termasuk Indonesia. Sebagai jalur sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, gangguan di Hormuz hampir pasti mendorong harga minyak melonjak tajam. Dampaknya antara lain:
- Tekanan APBN meningkat akibat potensi lonjakan subsidi energi
- Harga BBM berisiko naik, terutama jika harga minyak mentah dunia melonjak
- Biaya logistik laut meningkat, karena kapal harus mencari rute alternatif
- Inflasi bahan pokok berpotensi terjadi di pasar-pasar lokal, termasuk di Jawa Timur dan sekitarnya
- Kenaikan biaya distribusi akan berdampak langsung pada harga kebutuhan sehari-hari, dari beras hingga bahan pangan impor.
Dalam jangka pendek, efeknya bisa terasa hanya dalam hitungan hari, terutama jika pasar merespons dengan spekulasi harga.
Ancaman Iran Usai Trump Blokade Selat Hormuz
Baru tiga hari Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan militernya memblokade Selat Hormuz, Iran sudah menyerukan sejumlah ancaman. Blokade Selat Hormuz ini dilakukan Trump untuk memberikan tekanan ekonomi tambahan pada Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan yang tersisa.
Langkah ini dilakukan setelah Iran secara efektif menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional setelah serangan gabungan yang dilakukan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Washington dan Teheran kemudian melakukan gencatan senjata selama dua minggu dan mengadakan perundingan di Islamabad pada 11 April 2026. Sayangnya, perundingan tersebut menemui jalan buntu karena Iran menolak syarat dari AS untuk membuka Selat Hormuz dan menghentikan program uranium.
Ancaman Iran Terhadap Laut Merah dan Kapal-kapal AS
Militer Iran memperingatkan akan memblokir perdagangan melalui Laut Merah, bersama dengan Teluk dan Laut Oman, jika blokade angkatan laut AS berlanjut. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran, Kepala Pusat Komando Militer Iran, Ali Abdollahi, mengatakan jika AS melanjutkan blokade dan “menciptakan ketidakamanan bagi kapal dagang dan tanker minyak Iran”, itu akan menjadi “pendahuluan” untuk melanggar gencatan senjata.
Sementara itu, menurut informasi lalu lintas kapal, meskipun lalu lintas kapal di Selat Hormuz terus berlanjut, beberapa kapal yang sehari sebelumnya mencapai Teluk Oman, yang menghubungkan selat tersebut dengan Laut Arab, berbalik arah kembali melalui selat tersebut.
Pengawasan dan Tindakan Militer
Pasukan angkatan laut AS dilaporkan mendirikan blokade di sepanjang garis antara Teluk Gwadar dan Ras al Hadd, di mana lalu lintas kapal yang padat terus berlanjut sejak operasi dimulai. “Selama 24 jam pertama, tidak ada kapal yang berhasil melewati blokade AS,” kata Komando Pusat AS pada hari X, menambahkan bahwa enam kapal mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik arah dan kembali memasuki pelabuhan Iran.
Iran juga mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz jika mereka memutuskan untuk mengawasi jalur pelayaran itu. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mohsen Rezaei, Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, kepada televisi pemerintah, Rabu (15/4/2026) waktu setempat. “Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz. Apakah ini benar-benar tugas Anda? Apakah ini tugas tentara yang kuat seperti AS?” kata Mohsen Rezaei, dikutip dari AFP, Kamis (16/4/2026).






