UI Survey: Mobil Listrik Ungguli Hybrid

Kesadaran Masyarakat Indonesia Terhadap Kendaraan Elektrifikasi: Mobil Listrik Ungguli Hibrida

Industri otomotif di Indonesia terus bergerak menuju era elektrifikasi, menawarkan berbagai solusi mobilitas ramah lingkungan. Berbagai jenis kendaraan elektrifikasi mulai menjajaki pasar, termasuk Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), dan Battery Electric Vehicle (BEV). Namun, sebuah temuan menarik muncul dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI). Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia saat ini lebih mengenal dan familiar dengan mobil listrik (BEV) dibandingkan dengan berbagai jenis mobil hibrida.

Peneliti LPEM UI, Syahda Sabrina, dalam keterangannya di Bandung pada Jumat, 9 Januari 2026, mengungkapkan bahwa hampir seluruh responden penelitian mereka mengetahui tentang mobil bermesin pembakaran internal (ICE). Namun, perbandingan antara mobil listrik dan mobil hibrida menjadi poin yang sangat menarik.

“Hampir semua responden itu menyatakan mereka mengetahui mobil ICE, baik di Jawa maupun non-Jawa. Tapi, yang menarik adalah perbandingan antara mobil listrik dan mobil hybrid maupun plug-in hybrid,” buka Syahda.

Dominasi Mobil Listrik di Luar Jawa

Studi LPEM UI juga menyoroti adanya sentimen “Jawa Sentris” dalam popularitas kendaraan elektrifikasi. Hal ini berarti konsumen atau masyarakat di luar Pulau Jawa cenderung lebih akrab dengan konsep mobil listrik sebagai terobosan elektrifikasi.

“Ternyata awareness dari mobil BEV atau mobil listrik itu lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hybrid. Mobil hybrid ini terutama di wilayah-wilayah non-Jawa itu familiarity-nya masih cukup rendah,” sambung Syahda.

Temuan ini mengindikasikan bahwa upaya sosialisasi dan pengenalan teknologi hibrida perlu mendapatkan perhatian lebih, terutama di wilayah-wilayah di luar pusat ekonomi dan industri otomotif seperti Jawa.

Minat Pembelian dan Potensi Pasar

Lebih lanjut, minat pembelian responden terhadap BEV juga menunjukkan angka yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan mobil hibrida. Di wilayah Jawa, misalnya, sebanyak 33 persen responden menyatakan minat untuk membeli mobil dalam kurun waktu lima tahun ke depan, dengan porsi untuk HEV mencapai 31 persen. Sementara itu, PHEV masih dianggap sebagai segmen pasar yang niche atau belum begitu populer di kalangan konsumen domestik.

Kunci Akselerasi Mobil Hibrida: Penurunan Harga

Meskipun demikian, LPEM UI juga menggali potensi pasar mobil hibrida dengan melakukan simulasi. Penelitian tersebut membuat asumsi jika harga mobil-mobil hibrida diturunkan sebesar 10 persen dari harga pasar saat ini. Hasilnya menunjukkan potensi yang jauh lebih menjanjikan.

Ketika harga HEV menjadi lebih terjangkau, sekitar 8,1 hingga 13,6 persen responden menyatakan akan mengalihkan niat pembelian mereka dari mobil konvensional bermesin bensin (ICE). Lebih signifikan lagi, konsumen BEV yang berpotensi beralih ke HEV dengan harga lebih murah bisa mencapai kisaran 5 hingga 37,6 persen, atau rata-rata sekitar 21,3 persen.

“Bisa kita simpulkan, dengan adanya penurunan harga hybrid, misal dengan pemberian insentif terkait lokalisasi, yang akan berpindah itu adalah mereka yang selama ini menggunakan mobil bensin, tanpa menjadi kompetitor mobil listrik,” urai Syahda.

Kesimpulan dari analisis ini adalah bahwa akselerasi adopsi mobil hibrida di pasar Indonesia sangat mungkin terjadi, asalkan produsen dan pemerintah dapat berupaya menurunkan harga jual lini produk hibrida. Inisiatif seperti lokalisasi produksi komponen mobil hibrida dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk menekan biaya produksi dan pada akhirnya harga jual ke konsumen. Hal ini akan membuka segmen pasar baru dan mendorong peralihan dari kendaraan konvensional, sekaligus memperluas pilihan elektrifikasi bagi masyarakat Indonesia.

Pos terkait