Pengenalan tentang Roehana Koeddoes
Roehana Koeddoes adalah salah satu pahlawan nasional yang juga dikenal sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Perjuangannya dalam memperjuangkan hak dan pendidikan bagi perempuan menjadi inspirasi bagi banyak orang. Film Soenting Melajoe mengangkat kisah hidupnya dengan menampilkan berbagai tantangan dan keberhasilan yang ia alami.
Film ini dibuat oleh Budi Darmawansyah dan Maqri Nelvi Lubis, bekerja sama dengan TVRI Sumatera Barat. Dalam acara diskusi bertema “3 Wajah Roehana Koeddoes: Pahlawan Nasional, Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia”, IDN Times mendapat kesempatan untuk menyaksikan versi 30 menit dari film tersebut. Berikut ulasan lengkapnya.
Sinopsis Film Soenting Melajoe
Film Soenting Melajoe menceritakan perjuangan seorang perempuan muda bernama Roehana Koeddoes. Di awal tahun 1900-an, ia aktif mengajarkan perempuan lain untuk membaca dan menulis. Aksi ini sangat berbeda dengan kebiasaan pada masa itu, di mana perempuan hanya terbatas pada pekerjaan rumah tangga seperti dapur dan ranjang.
Meskipun berhasil mendirikan organisasi Amai Setia dan surat kabar Soenting Melajoe, Roehana tetap menghadapi berbagai kendala dan tantangan dalam memajukan kaum perempuan. Bagaimana ia bisa tetap melanjutkan perjuangannya? Film ini menjawab pertanyaan tersebut dengan cara yang menarik dan informatif.
Informasi Lengkap tentang Film Soenting Melajoe
- Judul Film: Soenting Melajoe
- Rating: 3.5/5
- Negara: Indonesia
- Sutradara: Budi Darmawansyah, Maqri Nelvi Lubis
- Produser: Budi Darmawansyah
- Penulis Skenario: Hendra Makmur
- Usia Penonton: SU (Untuk Semua Usia)
- Genre: Biopik
- Durasi: 75 menit
- Tanggal Rilis: 02-09-2023
- Tema: Sejarah, Jurnalis Perempuan
- Produser: TVRI Sumatera Barat
- Tempat Menonton: YouTube TVRI Sumatera Barat
- Pemeran Utama: Ardanela
- Tanggal Rilis Trailer: –






Ulasan Film Soenting Melajoe
1. Pesan Sosial yang Tegas
Bagi penggemar kisah sejarah, film Soenting Melajoe hadir sebagai pengingat akan peran perempuan di masa perjuangan. Pesan sosial disampaikan secara blak-blakan lewat dialog dan adegan yang menunjukkan keterbatasan peran perempuan pada masa itu. Mulai dari dapur hingga pekerjaan rumah tangga, semua digambarkan dengan jelas.
Film ini juga menyertakan fakta menarik, seperti kemunculan tokoh Indonesia Sutan Sjahrir, yang ternyata merupakan adik pendiri Soenting Melajoe, Roehana Koeddoes. Kehadiran karakter ini memberi perspektif tambahan mengenai lingkungan sosial dan keluarga tokoh utamanya.
2. Produksi Lokal dengan Kualitas Nyaman
Dari segi produksi, Soenting Melajoe termasuk film daerah yang kualitas visualnya nyaman di mata. Color grading terasa alami dan alur cerita mengalir tanpa loncatan membingungkan, karena didukung dengan teks penjelasan. Meskipun akting beberapa aktor masih agak kaku, film ini tetap menarik untuk ukuran film biopik lokal.
Sayangnya, beberapa detail riasan kurang sesuai dengan zaman. Contohnya, penggunaan bulu mata palsu pada adegan awal yang seharusnya berlatar awal 1900-an. Namun, secara keseluruhan, film ini tetap layak ditonton.
3. Akhir yang Penuh Haru
Soenting Melajoe berhasil menyampaikan cerita penting tentang peran perempuan dan sejarah lokal dengan cara yang mudah dipahami. Salah satu momen paling menyentuh adalah dialog tentang alasan pemilihan nama Soenting alias sunting sebagai nama surat kabarnya.
Versi lengkap film ini dapat diakses di YouTube resmi TVRI Sumatera Barat. Film ini terbagi menjadi empat bagian, memungkinkan penonton lebih mendalami cerita, memahami karakter, dan menikmati detail sejarah yang dihadirkan dengan lebih utuh.
Kesimpulan
Film Soenting Melajoe tidak hanya mengangkat kisah hidup Roehana Koeddoes, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya peran perempuan dalam sejarah Indonesia. Dengan pesan sosial yang tegas, produksi yang baik, dan akhir yang penuh haru, film ini layak ditonton oleh siapa pun yang tertarik dengan sejarah dan perjuangan perempuan.






