JAKARTA – Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan peringatan terkait ancaman penyakit campak. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius bagi penderita.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Adityo Susilo menjelaskan bahwa virus campak dapat menyebar melalui percikan liur maupun udara. Karakteristik virus yang mampu bertahan di udara dalam jangka waktu tertentu meningkatkan risiko penyebaran, khususnya di area dengan interaksi sosial yang padat.
“Penularannya bisa melalui percikan liur, tapi juga bisa airborne. Artinya virus dapat bertahan di udara dan terhirup oleh orang lain,” ujar Adityo dalam konferensi pers di Senen, Jakarta Pusat, baru-baru ini.
Gejala awal campak sering kali sulit dikenali karena menyerupai infeksi saluran pernapasan biasa. Tanda-tanda awal umumnya meliputi cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah), yang biasanya disertai demam tinggi. Kesamaan gejala tersebut membuat masyarakat sering kali abai hingga bintik-bintik merah muncul di kulit.
Adityo menuturkan bahwa kecurigaan medis terhadap campak umumnya baru muncul setelah pasien menunjukkan ruam yang menjadi ciri khas dari penyakit ini. “Kalau masih demam, batuk, pilek, itu bisa macam-macam. Kita baru curiga campak ketika muncul ruam yang khas,” kata Adityo menjelaskan.
Salah satu hal yang paling perlu diwaspadai adalah periode “jeda” atau window period. Penderita sebenarnya sudah mulai bisa menularkan virus kepada orang-orang di sekitar beberapa hari sebelum ruam kemerahan nampak, sehingga penyebaran sering terjadi tanpa disadari.
“Di situ ada window di mana pasien sudah sakit dan bisa menularkan, tetapi belum terdeteksi sebagai campak,” kata Adityo menambahkan.
Meski kerap dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan oleh sebagian orang, campak berpotensi memicu komplikasi fatal. Risiko berat yang menghantui penderita meliputi diare berat, pneumonia (radang paru), radang otak (ensefalitis), bahkan dapat berujung pada kematian.
Sehubungan dengan itu, PAPDI menekankan pentingnya perlindungan melalui vaksinasi bagi kelompok dewasa. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi Klinik, dr. Sukamto Koesnoe, menyebutkan bahwa orang dewasa berperan besar sebagai pembawa penyakit (carrier) yang dapat membahayakan kelompok rentan di sekelilingnya.
Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI tersebut menegaskan imunisasi cara paling efektif untuk membentuk kekebalan populasi hingga 95 persen. “Kita sebagai orang dewasa sehat mungkin berpikiran buat apa vaksin campak, tetapi manfaatnya lebih dari itu,” ujar Sukamto.
Pemberian vaksin campak dua dosis pada orang dewasa terbukti mampu menurunkan risiko rawat inap sebesar 71-83 persen. Selain itu, mampu menekan potensi munculnya komplikasi medis yang berbahaya.
“Kita perlu mengingat kalau sebagai carrier atau pembawa penyakit, virus penyebab campak itu bisa menular ke bayi yang ada di rumah, ibu hamil atau lansia di sekitar kita yang daya tahan tubuhnya tidak seperti kita,” imbuhnya.






