Wisudawan Terbaik FTIK UIN Walisongo: Dari Gelar Angka Menuju Miliarder Berkat Dukungan Keluarga

Eky Adelia Sari, Sang Wisudawan Terbaik FTIK UIN Walisongo: Edukasi Anak Melalui Lensa Perilaku dan Industri Kreatif

SEMARANG – Suasana Auditorium II Kampus III Gedung Tgk Ismail Yaqub di UIN Walisongo Semarang pada Sabtu, 7 Februari 2026, diselimuti keharuan mendalam. Sebanyak 1.277 wisudawan resmi dilepas, menandai puncak dari perjuangan akademis mereka. Di antara lautan toga yang memukau, muncul satu nama yang bersinar terang: Eky Adelia Sari, lulusan Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) yang dianugerahi predikat Wisudawan Terbaik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).

Namun, Eky, demikian ia akrab disapa, mendefinisikan ulang makna “mahasiswa berprestasi”. Bagi dara muda ini, gelar terbaik bukanlah semata-mata tentang angka Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang tinggi, melainkan sebuah perjalanan penemuan diri yang mendalam. “Tanpa gelar wisudawan terbaik pun, saya pikir saya sudah cukup baik. Setiap manusia itu hebat dengan standarnya masing-masing,” ujarnya dengan keyakinan yang terpancar kuat.

Analisis Perilaku Anak dalam Film: Inovasi Tugas Akhir Eky

Keunikan Eky semakin terlihat jelas melalui topik tugas akhirnya yang tak lazim. Ia memilih judul “The Impact of Parenting on Children’s Problematic Behavior: A Behavioristic Analysis of The Character Zain Al-Rafeea in The Film Capernaum”. Melalui kacamata behavioristik yang ketat, Eky mengupas tuntas bagaimana perilaku bermasalah pada anak seringkali merupakan mekanisme pertahanan diri yang terbentuk akibat pola asuh dan lingkungan yang buruk.

“Sifat ‘nakal’ pada anak itu sering kali adalah cara mereka belajar bertahan hidup dari lingkungan yang tidak baik. Film Capernaum memberikan gambaran nyata bahwa perilaku anak adalah hasil dari stimulus dan respons dari orang tuanya,” jelas Eky, merujuk pada film yang menjadi objek analisisnya. Pendekatan ini menunjukkan keberanian Eky dalam mengintegrasikan teori akademis dengan fenomena nyata yang disajikan dalam media populer.

Belajar dari Layar Kaca: Hobi yang Menjadi Sumber Ilmu

Yang menarik, Eky mengaku bahwa sebagian besar ilmu yang diserapnya tidak hanya berasal dari buku teks semata, melainkan dari hobinya yang tak terduga: menonton film dan serial. Ia kerap melakukan pemeriksaan silang antara adegan-adegan dalam film dengan teori-teori pendidikan anak yang ia pelajari di bangku kuliah. Kemampuannya dalam menganalisis narasi visual dan mengaitkannya dengan konsep teoritis menjadi bukti kecerdasan dan kreativitasnya dalam belajar.

Kekuatan Dukungan Keluarga: Fondasi di Tengah Keterbatasan Finansial

Di balik kesuksesan akademisnya yang gemilang, Eky tidak ragu berbagi tentang latar belakangnya yang penuh perjuangan. Ia secara terbuka mengakui bahwa keluarganya sempat mengalami masa-masa sulit secara finansial. Namun, justru dalam keterbatasan itulah ia merasa menjadi orang yang paling kaya, berkat limpahan dukungan moral yang tak terhingga. “Secara finansial? Bangkrut. Tapi kalau soal cinta tanpa syarat dan dukungan, saya rasa saya adalah miliarder di sini,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dukungan tanpa batas dari keluarga menjadi bahan bakar utama yang membuatnya mampu bertahan, bahkan di saat-saat terberat. Terutama saat awal perkuliahan, ketika ia harus beradaptasi tinggal jauh dari rumah demi menuntut ilmu di Semarang, ia sempat berada di titik hampir menyerah. Namun, kekuatan ikatan keluarga membantunya bangkit dan terus melangkah maju.

Transformasi Fakultas dan Kenangan Manis Bersama Dosen

Eky adalah bagian dari angkatan yang mengalami transisi signifikan dalam struktur akademik UIN Walisongo, di mana nama fakultas berubah dari FITK menjadi FTIK, sesuai dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 49 Tahun 2025. Perubahan ini tidak mengurangi semangatnya dalam menempuh pendidikan, justru ia menyimpan segudang kenangan manis selama masa studinya.

Ia memiliki rasa hormat yang mendalam kepada para dosen PIAUD. Bagi Eky, mereka bukan sekadar pengajar, melainkan mentor hidup yang selalu memberikan bimbingan. “Dosen-dosen PIAUD itu seperti terbuat dari cahaya. Mereka tidak pernah marah dan selalu mengarahkan kami,” kenangnya dengan penuh kekaguman. Pendekatan personal dan dedikasi para dosen ini sangat memengaruhi perjalanan akademis dan personal Eky.

Visi “Unity of Sciences” dan Ambisi Masa Depan

Menerapkan visi “Unity of Sciences” atau Kesatuan Ilmu, Eky meyakini bahwa segala bentuk pengetahuan bersumber dari Tuhan dan tidak ada ilmu yang sia-sia. Keyakinan ini mendorongnya untuk terus belajar dan berkembang tanpa batas. Menatap masa depan, Eky tidak ingin membatasi diri pada satu pilihan karier. Baik melanjutkan studi ke jenjang S2 maupun langsung terjun ke dunia kerja, semuanya menjadi opsi yang terbuka baginya. “Coba saja semuanya,” jawabnya singkat namun penuh ambisi.

UIN Walisongo Semarang terus menunjukkan komitmennya dalam melahirkan lulusan-lulusan yang kritis, inovatif, dan berintegritas, seperti Eky Adelia Sari. Bagi para calon mahasiswa yang memiliki minat mendalam di dunia pendidikan anak usia dini atau bidang keilmuan lainnya, serta menginginkan fasilitas pendidikan yang unggul, informasi mengenai pendaftaran jalur SNBP dan SPAN-PTKIN 2026 telah dibuka. Mari bergabunglah dengan Kampus Kemanusiaan dan Peradaban yang terus berupaya mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs pmb.walisongo.ac.id.

Pos terkait