Aki Surib Cirebon: Dedi Mulyadi Apresiasi, Tabungan di Jok Becak Demi Keluarga

Kisah Inspiratif Aki Surib: Perjuangan Tukang Becak di Cirebon yang Menyentuh Hati

Di tengah hiruk pikuk kota Cirebon, terdapat sebuah kisah perjuangan yang patut diacungi jempol. Aki Surib, seorang pengayuh becak berusia 66 tahun, telah menunjukkan keteguhan hati dan kegigihan luar biasa dalam menafkahi keluarganya. Perjuangan hidupnya ini bahkan menarik perhatian seorang tokoh penting, yang memberikan apresiasi mendalam atas dedikasinya.

Kisah ini mencuat ketika seorang tokoh publik, yang dikenal peduli terhadap nasib para pekerja informal, melakukan kunjungan ke Cirebon. Dalam kunjungannya tersebut, ia menyempatkan diri untuk berinteraksi langsung dengan para pengemudi transportasi, termasuk para tukang becak, sopir angkot, dan pengojek. Tujuannya adalah untuk memberikan bantuan dan dukungan menjelang momen penting perayaan hari besar keagamaan, sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap kondisi mereka.

Di antara kerumunan, sosok Aki Surib berhasil mencuri perhatian. Mengenakan kaus bergambar wajah tokoh publik tersebut, Aki Surib terlihat begitu bersemangat saat berbincang. Ia bukan sekadar seorang pengayuh becak biasa, melainkan seorang ayah dan kakek yang memiliki cerita hidup yang menginspirasi.

Kegigihan di Usia Senja

Aki Surib, di usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 66 tahun, masih setia menjalani profesinya sebagai penarik becak. Setiap hari ia mengayuh rodanya demi mengumpulkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Apa yang membuat kisahnya begitu istimewa adalah cara ia menabung dan mengelola keuangannya.

Dalam sebuah percakapan, terungkap bahwa Aki Surib memiliki kebiasaan unik dalam menyisihkan penghasilannya. Ia rutin mengumpulkan uang receh yang didapatnya dari penumpang, dan menyimpannya di sebuah tempat rahasia di bawah jok becaknya. Kebiasaan ini telah dilakukannya selama setahun lebih, demi mengantisipasi kebutuhan keluarga yang tak terduga.

Keluarga dan Tanggung Jawab

Aki Surib mengungkapkan bahwa ia dikaruniai empat orang anak. Kini, keempat anaknya telah berkeluarga dan memilih untuk merantau ke ibu kota, Jakarta. Di sana, mereka bekerja keras, ada yang berdagang kopi, ada pula yang menjadi juru parkir. Meskipun telah berkeluarga, Aki Surib dan istrinya, yang kini bergelar kakek dan nenek, tetap berperan aktif dalam kehidupan cucu-cucu mereka. Mereka turut membantu merawat dan menjaga sang cucu di sela-sela kesibukan mencari nafkah.

Kejutan di Dompet dan Jok Becak

Momen yang paling menyentuh terjadi ketika Aki Surib diminta untuk menunjukkan isi dompet serta tempat penyimpanan uangnya. Di dalam dompetnya, terdapat uang tunai sebesar Rp1 juta. Ternyata, uang tersebut merupakan titipan dari salah satu anaknya, yang diperuntukkan untuk membeli pakaian bagi cucu-cucu mereka.

Namun, kejutan sesungguhnya datang dari bawah jok becaknya. Di sanalah Aki Surib menyimpan sebuah tabungan rahasia yang jumlahnya mencapai Rp2 juta. Ia menjelaskan bahwa uang tersebut dikumpulkan secara bertahap selama kurang lebih satu setengah tahun, dengan menyisihkan Rp20.000 hingga Rp30.000 setiap harinya.

Alasan di Balik Tabungan Rahasia

Aki Surib memiliki alasan tersendiri mengapa ia memilih menyimpan uangnya di bawah jok becak. Ia mengaku khawatir jika uang tersebut disimpan di rumah, akan lebih mudah habis untuk keperluan sehari-hari. Meskipun demikian, sang istri tetap mengetahui keberadaan tabungan rahasia tersebut. Uang receh yang dikumpulkan itu memang diperuntukkan untuk menutupi berbagai kebutuhan rumah tangga dan keluarga.

Melihat kegigihan dan kejujuran Aki Surib, sang tokoh publik memberikan pujian setinggi-tingginya. “Ini contoh orang hebat,” ujar beliau, terkesan dengan semangat juang Aki Surib.

Bantuan Tambahan dan Rencana Masa Depan

Selain tabungan yang ia kumpulkan sendiri, Aki Surib juga menerima bantuan finansial sebesar Rp1.400.000. Bantuan ini merupakan kompensasi yang diberikan menjelang perayaan hari besar keagamaan, sebagai pengganti penghasilan yang hilang saat ia tidak beroperasi menarik becak.

Aki Surib berencana menggunakan sebagian dari uang bantuan tersebut untuk membelikan pakaian Lebaran bagi istrinya. Sisa dana akan dialokasikan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras dan memenuhi keperluan sehari-hari lainnya. Ia mengaku bersyukur, meskipun jumlah kompensasi kali ini lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp3 juta, namun ia tetap merasa terbantu karena mendapatkan rezeki tanpa harus bersusah payah mengayuh becak.

Beliau menyatakan, “Tahun kemarin Rp3 juta, sekarang Rp 1.400.000, alhamdulillah.” Pernyataan ini dibenarkan oleh Aki Surib yang juga mengungkapkan rasa syukurnya. Di tengah kondisi ekonomi yang sedang melemah, nominal uang tersebut tetaplah sangat berarti, terlebih di masa-masa sulit mendapatkan penumpang seperti sekarang.

Lebih lanjut, Aki Surib juga mengungkapkan niatnya untuk menggunakan sebagian hartanya untuk memperbaiki rumah. Ia berencana menembok beberapa bagian rumah yang sudah mulai rapuh. Menanggapi rencana tersebut, sang tokoh publik kembali menunjukkan kemurahan hatinya dengan memberikan bantuan tambahan sebesar Rp10 juta untuk mendukung biaya perbaikan rumah Aki Surib.

Kisah Aki Surib adalah bukti nyata bahwa semangat juang dan ketekunan dapat membawa seseorang melewati berbagai tantangan hidup. Ia mengajarkan kita tentang pentingnya kerja keras, pengelolaan keuangan yang bijak, dan kasih sayang terhadap keluarga, bahkan di usia senja.

Pos terkait