Apa Itu Sampah Antariksa dan Bahayanya Mendarat di Bumi

Sampah Antariksa yang Menghebohkan Langit Lampung

Pada Sabtu malam, 4 April 2026, warga di sejumlah wilayah Lampung kembali dibuat heboh oleh munculnya benda bercahaya melintas di langit. Kilatan terang kebiruan dengan ekor panjang itu tampak membelah langit selama beberapa detik sebelum akhirnya lenyap. Fenomena ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Sampah antariksa bukanlah hal baru bagi Indonesia. Pernah terjadi di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat pada 2022, serta di Teluk Kramat, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah pada 4 Januari 2021. Lantas, apa sebenarnya sampah antariksa dan bagaimana proses terjadinya?

Apa Itu Sampah Antariksa?

Sampah antariksa, atau space debris, adalah seluruh obyek buatan manusia di luar angkasa yang sudah tidak lagi berfungsi. Obyek ini mencakup satelit mati, bagian roket yang telah digunakan, hingga fragmen kecil dari tabrakan atau serpihan seperti cat yang terlepas. Benda-benda tersebut berada di orbit bumi atau sedang memasuki kembali atmosfer bumi.

Sebagian besar sampah antariksa berasal dari material peluncuran roket ataupun satelit yang telah dinonaktifkan. Mayoritas puing ini berada di Orbit Bumi Rendah (LEO), yakni hingga ketinggian sekitar 2.000 kilometer dari permukaan bumi. Sementara itu, sebagian lainnya berada di orbit yang lebih tinggi seperti orbit geostasioner, sekitar 35.786 kilometer di atas garis khatulistiwa.



Benda angkasa yang viral melintasi langit Lampung, 4 April 2026. Antara/HO-Tangkapan layar

Penyebab Meningkatnya Sampah Antariksa

Jumlah sampah antariksa terus meningkat seiring intensitas aktivitas manusia di luar angkasa. Salah satu penyebab utamanya adalah meningkatnya peluncuran satelit. Konstelasi satelit internet seperti Starlink milik SpaceX kini mencakup sekitar setengah dari seluruh satelit aktif di orbit bumi, dengan ribuan satelit tambahan masih direncanakan untuk diluncurkan.

Selain itu, banyak satelit yang telah habis masa operasinya dibiarkan tetap berada di orbit dan menjadi sampah. Diperkirakan terdapat ribuan satelit nonaktif yang masih mengelilingi Bumi. Uji coba senjata anti-satelit oleh sejumlah negara juga turut menyumbang peningkatan sampah antariksa. Penghancuran satelit menghasilkan pecahan-pecahan kecil yang sulit dikendalikan dan tetap berada di orbit.

Faktor lain adalah fragmentasi akibat tabrakan, ledakan, atau degradasi material di luar angkasa. Satu obyek yang hancur dapat menghasilkan banyak fragmen baru, sehingga memperparah kepadatan sampah di orbit.

Bagaimana Sampah Antariksa Turun ke Bumi?

Profesor astronomi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun.

Semakin rendah orbitnya, hambatan atmosfer makin kuat hingga akhirnya benda tersebut tidak lagi mampu bertahan di orbit dan mulai jatuh menuju bumi. Saat memasuki atmosfer, sampah antariksa melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan partikel udara menghasilkan panas ekstrem yang membuat sebagian besar obyek terbakar dan hancur di udara. Inilah yang kemudian terlihat dari bumi sebagai cahaya terang yang melintas di langit.

Menurut sejumlah laporan, sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan. Namun, untuk obyek yang berukuran besar atau memiliki material tahan panas, ada kemungkinan sebagian fragmen tetap bertahan dan jatuh ke bumi.

Fenomena cahaya kebiruan berekor panjang seperti yang terlihat di Lampung merupakan bagian dari proses masuknya sampah antariksa ke atmosfer atau re-entry, yang umumnya hanya berlangsung dalam hitungan detik sebelum benda tersebut hancur atau menghilang.

Pos terkait