Hilirisasi Ayam Terintegrasi: Mesin Penggerak Ekonomi Perdesaan dan Kesejahteraan Peternak
Program hilirisasi ayam terintegrasi yang digagas pemerintah kini menjadi sorotan utama sebagai motor penggerak baru di sektor pertanian, khususnya di wilayah perdesaan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar program biasa, melainkan sebuah langkah strategis yang dirancang untuk membuka berbagai peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para peternak di seluruh penjuru negeri.
Peninjauan langsung Menteri Amran ke Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) semakin memperkuat optimisme terhadap potensi program ini. Dalam kesempatan tersebut, Amran menjelaskan bahwa inti dari program hilirisasi ayam terintegrasi adalah jaminan pemerintah terhadap seluruh mata rantai produksi. Mulai dari ketersediaan Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam yang berkualitas, pasokan pakan yang stabil dan terjangkau, hingga kepastian pemasaran hasil panen.
“Ini adalah program Presiden RI yang kami yakini akan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat luas,” ujar Amran dalam keterangan resminya pada Minggu (18/1/2026). Pernyataannya ini menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk memberdayakan masyarakat perdesaan melalui sektor peternakan.
Hilirisasi Ayam: Naik Kelas Menjadi Program Strategis Nasional
Lebih jauh, Menteri Amran mengungkapkan bahwa program hilirisasi ayam terintegrasi ini telah ditetapkan sebagai Program Strategis Nasional (PSN) oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Penetapan ini menandakan betapa pentingnya program ini dalam peta pembangunan nasional, yang berfokus pada penguatan sektor riil dan penciptaan nilai tambah.
Konsep hilirisasi ayam terintegrasi ini merangkai seluruh aspek bisnis dalam ekosistem peternakan ayam, mulai dari tahapan hulu hingga hilir. Tujuannya adalah menciptakan sebuah sistem yang efisien, terpadu, dan menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Pemerintah berharap, melalui integrasi ini, para peternak akan mendapatkan jaminan pasokan bibit DOC yang harganya terjangkau, peningkatan daya saing usaha mereka, serta stabilitas yang kokoh dalam menjalankan bisnis peternakan.
Peran BUMN: Menjamin Kestabilan Harga dan Kualitas
Salah satu pilar utama dalam program ini adalah keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Amran menekankan bahwa BUMN akan berperan krusial dalam menjamin harga Day Old Chick (DOC), pakan, dan pullet. Kualitas dan kuantitas pasokan akan diawasi ketat, dengan penetapan harga yang diharapkan dapat memberikan keuntungan yang layak bagi para peternak.
“Kita ingin BUMN masuk untuk menjamin harga Day Old Chick (DOC), pakan, dan pullet serta terjamin kualitas serta kuantitasnya dengan harga yang membuat peternak bahagia dan untung,” tutur Amran.
Melalui intervensi BUMN, pemerintah berupaya untuk mengendalikan rantai pasok dan pemasaran produk ayam. Hal ini penting untuk menghindari praktik pasar bebas yang seringkali merugikan peternak atau produsen kecil, di mana fluktuasi harga yang drastis dapat mengikis keuntungan mereka. Dengan adanya jaminan dari pemerintah, diharapkan harga ayam di tingkat konsumen juga menjadi lebih stabil dan terjangkau.
Model Produksi Modern untuk Efisiensi dan Kualitas
Pemerintah menargetkan program hilirisasi ayam terintegrasi ini menjadi sebuah model produksi modern yang mampu menghubungkan seluruh tahapan proses, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengolahan. Sistem terintegrasi ini diproyeksikan mampu menekan biaya produksi secara signifikan.
Manfaat lain yang diharapkan dari penerapan sistem ini adalah peningkatan kualitas daging ayam yang dihasilkan, serta perluasan lapangan kerja. Dengan efisiensi yang dicapai, industri peternakan ayam diharapkan dapat menjadi lebih kompetitif di pasar domestik maupun internasional.
Pengendali Inflasi dan Penggerak Ekonomi Perdesaan
Menteri Amran juga menyoroti peran penting program ini dalam mengendalikan inflasi. Ketika harga pakan dan DOC dapat ditekan melalui sistem yang terintegrasi, maka biaya produksi secara keseluruhan akan menurun. Ini secara otomatis akan berdampak pada stabilitas harga produk ayam di pasaran.
“Ini adalah pengendali inflasi terbaik, karena nanti harga pakan turun, DOC turun. Kita bergerak dari hulu, lalu hilirnya menyentuh seluruh peternak di Indonesia. Kalau peternak sejahtera, negara akan kuat,” tegas Amran.
Pernyataan ini menegaskan pandangan bahwa kesejahteraan peternak adalah fondasi penting bagi kekuatan ekonomi nasional. Ketika para peternak mampu meraih keuntungan yang stabil dan memadai, daya beli mereka akan meningkat, yang pada gilirannya akan menggerakkan roda perekonomian, terutama di sektor perdesaan.
Sulawesi Selatan Siap Menjadi Pusat Pengembangan Peternakan
Dukungan terhadap program hilirisasi ayam terintegrasi juga datang dari pemerintah daerah. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyatakan kesiapan wilayahnya untuk menjadi pusat pengembangan peternakan nasional. Ia meyakini bahwa proyek hilirisasi ini akan memperkuat posisi Sulawesi Selatan di sektor peternakan nasional dan menjadi penggerak utama ekonomi perdesaan di provinsi tersebut.
“Proyek hilirisasi ini akan memperkuat ekosistem peternakan, meningkatkan daya saing daerah, serta memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat,” ujar Sudirman.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta partisipasi aktif dari BUMN dan para peternak, program hilirisasi ayam terintegrasi ini memiliki potensi besar untuk mentransformasi sektor peternakan ayam Indonesia, menciptakan kemandirian pangan, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat perdesaan secara berkelanjutan.






