Banjir Landa Sumatera, NTB, Kalimantan, Hingga Jawa

Banjir Melanda Sejumlah Wilayah di Indonesia, Ribuan Warga Terdampak

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia dilanda banjir dalam dua hari terakhir. Bencana hidrometeorologi ini dilaporkan terjadi di berbagai penjuru negeri, mulai dari Sumatera, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, hingga Pulau Jawa, menimbulkan kerugian materiil dan mengganggu aktivitas ribuan warga.

Sumatera Selatan: Banjir Bandang Terjang Ogan Komering Ulu Timur

Di Sumatera Selatan, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Jumat, 9 Januari 2026, memicu banjir bandang di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Hujan lebat yang merata di seluruh wilayah tersebut menyebabkan 23 desa terendam air. Desa-desa yang terdampak meliputi Kecamatan Belitang III, Belitang II, Semendawai Suku III, dan Belitang Mulya.

Ketinggian muka air pada awal kejadian dilaporkan mencapai 150 sentimeter. Genangan air bervariasi di setiap desa, mulai dari halaman rumah hingga merembes masuk ke dalam bangunan tempat tinggal.

Berdasarkan data sementara, banjir ini berdampak pada sekitar 1.359 kepala keluarga. Ribuan warga terpaksa menghadapi genangan air yang merendam rumah mereka, dengan perkiraan 1.359 unit rumah terdampak. Akibatnya, sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Meskipun tidak ada laporan korban jiwa, kerugian materiil akibat terendamnya rumah dan perabotan warga diperkirakan cukup besar.

Nusa Tenggara Barat: Lombok Barat Tergenang Akibat Luapan Sungai

Pada hari yang sama, hujan lebat juga memicu luapan air sungai di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Peristiwa ini menyebabkan banjir yang menggenangi rumah-rumah warga di sekitar bantaran sungai.

Pendataan sementara menunjukkan bahwa banjir ini berdampak pada sekitar 251 kepala keluarga. Rinciannya, 206 keluarga terdampak di Desa Taman Baru dan 45 keluarga di Desa Pesisir Mas.

Kalimantan: Delapan Kecamatan Terendam Banjir

Pulau Kalimantan juga tidak luput dari bencana banjir. Sebanyak delapan kecamatan terdampak, meliputi 23 desa. Daerah-daerah yang terendam banjir antara lain Kecamatan Banyuke Hulu, Air Besar, Jelimpo, Menyuke, Mempawah Hulu, Kuala Behe, Menjalin, dan Meranti.

Banjir ini dilaporkan merusak 2.282 unit rumah dan berdampak pada ribuan keluarga dengan jumlah yang sama. Beberapa desa mengalami dampak yang cukup signifikan, terutama yang berlokasi di dataran rendah dan sepanjang aliran sungai.

Bengkulu: Banjir Melanda Kabupaten Seluma

Di Provinsi Bengkulu, banjir melanda Kabupaten Seluma. Kejadian ini dipicu oleh curah hujan yang tinggi, menyebabkan peningkatan debit air secara signifikan pada saluran pelelangan.

Wilayah yang terdampak meliputi Kecamatan Seluma Utara, khususnya di Desa Lubuk Resam. Genangan air merendam sejumlah rumah warga dan lahan pertanian di sekitarnya, mengganggu aktivitas masyarakat akibat masuknya air ke lingkungan permukiman.

Jawa Tengah: Dampak Banjir Paling Parah di Kudus

Jawa Tengah menunjukkan dampak banjir yang paling parah. Di Kabupaten Kudus, sebanyak 4.668 rumah terendam air selama dua hari terakhir. Selain itu, tercatat pula 65 akses jalan tergenang, beberapa jembatan mengalami gangguan, dan sekitar 120,8 hektare areal persawahan terdampak.

Masih di Jawa Tengah, cuaca ekstrem juga melanda Kabupaten Kendal pada Sabtu, 10 Januari 2026. Kondisi ini mengakibatkan sejumlah wilayah di Kecamatan Rowosari terdampak. Angin kencang menyebabkan sejumlah bangunan dan pohon tumbang. Saat ini, Jawa Tengah berada dalam status siaga darurat bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung.

Jambi: Banjir Akibat Curah Hujan Tinggi dan Saluran Tersumbat

Terakhir, di Provinsi Jambi, banjir terjadi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur sejak Sabtu malam. Curah hujan yang tinggi, diperparah oleh saluran parit yang tersumbat, menyebabkan air tidak tertampung oleh sistem drainase. Akibatnya, sejumlah wilayah permukiman warga tergenang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih terus mendata dampak banjir ini.

Imbauan dan Kewaspadaan

Meskipun tidak ada korban jiwa dalam rentetan bencana banjir di berbagai wilayah ini, BNPB mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di daerah rawan banjir dan cuaca ekstrem, untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.

Masyarakat diminta untuk:

  • Terus memantau informasi cuaca: Perhatikan peringatan dini yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah dan BNPB.
  • Menjaga kebersihan lingkungan: Pastikan saluran air dan drainase bersih dari sampah agar aliran air lancar.
  • Segera melapor: Laporkan kondisi darurat kepada aparat setempat.

Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim dan kondisi geografis Indonesia.

Pos terkait