Berkontribusi Melalui Berbagai Jalan: Pengabdian Dosen, Pelatih Olahraga, Penulis, dan Calon Grafolog
Setiap individu memiliki panggilan unik untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat dan kehidupan. Semangat ini menjadi landasan bagi banyak orang untuk menjalani hidup yang bermakna, melampaui sekadar keberadaan pribadi. Pertanyaan mendasar, “Apa yang bisa kita berikan kepada sesama dan kehidupan ini?” mendorong kita untuk bertindak, untuk menciptakan manfaat. Pepatah bijak menegaskan, “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.”
Cara untuk mewujudkan kemanfaatan ini sangat beragam, disesuaikan dengan kemampuan dan pilihan masing-masing. Ada yang memilih jalur kesehatan, olahraga, pendidikan, hingga bantuan kemanusiaan saat bencana. Apapun bentuk dan pilihannya, yang terpenting adalah niat untuk berguna bagi sesama dan kehidupan. Artikel ini akan mengulas beberapa jalan kontribusi yang dijalani, bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai refleksi sederhana di usia senja agar tidak hanya berdiam diri menanti takdir.
Mengajar di Perguruan Tinggi: Membentuk Generasi Penerus Bangsa
Perjalanan di dunia pendidikan tinggi dimulai sembilan tahun lalu, setahun setelah menyelesaikan pendidikan doktoral. Sebelumnya, pengalaman di birokrasi pemerintahan telah membentuk fondasi awal. Namun, dorongan hati untuk mengabdikan diri di dunia pendidikan akhirnya membawa ke jalur yang dinikmati hingga kini. Kecintaan pada belajar dan keinginan untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman menjadi motivasi utama.
Proses mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang terus belajar. Menjadi seorang pengajar menuntut penguasaan mendalam terhadap bidang ilmu yang ditekuni. Hal ini mendorong untuk terus membaca buku, menelaah hasil penelitian, dan mencari sumber belajar lainnya. Selain itu, kolaborasi dengan dosen lain yang memiliki keahlian berbeda, serta belajar dari mahasiswa, menjadi bagian tak terpisahkan. Kesadaran bahwa dosen belum tentu lebih tahu segalanya dibandingkan mahasiswanya, menciptakan sikap terbuka untuk terus belajar dari berbagai arah.
Bidang studi yang diajarkan meliputi manajemen dan ekonomi, seperti perilaku organisasi, budaya organisasi, perilaku konsumen, komunikasi bisnis, etika bisnis, manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), serta pelatihan dan pengembangan SDM. Pengalaman mengajar ini tidak hanya terbatas pada jenjang S1, tetapi terkadang juga diminta untuk mengisi perkuliahan di jenjang S2 dan S3. Melalui pengajaran, ada keyakinan kuat bahwa kontribusi terhadap dunia pendidikan tinggi terus diberikan, sekecil apapun itu. Pesan penting yang selalu diingat adalah, “Kita hanya bisa mengajarkan siapa kita sebenarnya.”
Olahraga Bela Diri Shorinji Kempo: Membentuk Fisik, Mental, dan Karakter
Jalan kontribusi kedua adalah melalui bidang olahraga, khususnya Shorinji Kempo. Olahraga bela diri asal Jepang ini telah ditekuni selama 30 tahun, baik sebagai praktisi maupun pelatih. Latihan rutin bersama para senior, baik di tingkat daerah maupun nasional, menjadi agenda penting. Kegiatan seperti gashuku nasional, sesi studi Asia Tenggara, dan sesi studi internasional sering diikuti, memungkinkan berlatih bersama dengan pelatih dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari mancanegara.
Selain berlatih, menjadi pelatih adalah ruang untuk memberikan manfaat. Di dojo, para kenshi (anggota Shorinji Kempo), mulai dari anak-anak hingga dewasa, mendapatkan pelatihan tidak hanya dalam teknik memukul, menendang, menangkis, dan membanting, tetapi yang terpenting adalah pembentukan mental. Keseimbangan antara fisik, teknik, dan mental adalah kunci utama. Tanpa keseimbangan ini, bela diri bisa menjadi berbahaya.
Filosofi Shorinji Kempo sangat menekankan pada pembentukan karakter. Semboyan “Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman” serta filosofi “Taklukkan dirimu sendiri sebelum menaklukkan orang lain” menjadi panduan dalam mendidik para kenshi. Semua ini berorientasi pada pembentukan individu yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Keyakinan bahwa Shorinji Kempo adalah pilihan yang baik dan bermanfaat semakin kuat karena perguruan ini menjadi tempat untuk menggembleng diri sekaligus berbagi, terutama kepada generasi muda.
Menulis Artikel di Media: Berbagi Gagasan dan Pengalaman
Kemampuan menulis yang merupakan passion tidak pernah ditinggalkan. Sejak lama, kegiatan menulis memberikan kepuasan tersendiri, seringkali membuat lupa waktu. Menulis menjadi wadah untuk menuangkan gagasan yang dapat dinikmati oleh masyarakat pembaca. Ada rasa rindu yang mendalam untuk kembali menulis jika kesibukan lain menghalangi.
Perjalanan menulis terus berlanjut, dengan harapan dapat terus memberikan kontribusi. Selain di platform yang disebutkan, tulisan juga dimuat di beberapa media daring lainnya. Di lingkungan akademis, bersama rekan-rekan, aktif menulis jurnal ilmiah dan buku.
Melalui tulisan, para penulis di berbagai media dapat berkontribusi kepada masyarakat pembaca dengan membagikan pengalaman, pengetahuan, dan cerita. Platform seperti yang disebutkan sebelumnya, terbukti telah menyediakan ruang yang luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dan berkontribusi secara positif.
Grafologi: Memahami Diri dan Orang Lain Melalui Tulisan Tangan
Jalan kontribusi baru yang kini sedang digeluti adalah grafologi, ilmu analisis tulisan tangan untuk memahami karakter dan kepribadian seseorang. Harapannya, penguasaan ilmu ini kelak dapat memberikan manfaat bagi orang lain, bukan semata-mata untuk tujuan finansial, tetapi lebih utama untuk membantu individu mengenali diri mereka sendiri melalui analisis tulisan tangan.
Ketertarikan pada grafologi berawal dari rasa penasaran terhadap tulisan tangan beberapa mahasiswa yang dikaitkan dengan perilaku keseharian mereka. Pencarian pengetahuan yang menguak kaitan antara tulisan tangan dan kepribadian akhirnya membawa pada penemuan ilmu grafologi.
Dukungan dari sahabat dekat semakin memotivasi untuk mendalami grafologi secara mendalam. Beberapa sahabat bahkan langsung menyodorkan tulisan tangan mereka untuk dianalisis. Pengamatan terhadap tulisan tangan dan pemberian komentar mengenai kepribadian seringkali disambut dengan pengakuan, “Ya benar Pak, benar sekali.” Pengalaman ini menambah keyakinan akan potensi grafologi sebagai alat bantu pemahaman diri dan interaksi sosial.






