Buddha di Palu Cor Rupang, Tandai 50 Tahun Sangha Theravada Indonesia

Perayaan 50 Tahun Saṅgha Theravāda Indonesia dengan Pengecoran Rupang Buddha Nusantara

Ratusan umat Buddha di Palu, Sulawesi Tengah, turut serta dalam upacara pengecoran bagian Rupang Buddha Nusantara yang digelar di Vihara Karuna Dipa. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Tahun Kencana setengah abad Saṅgha Theravāda Indonesia (STI) dengan tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”. Upacara tersebut berlangsung pada Minggu, 12 April 2026.

Rupang Buddha Nusantara adalah simbol dari Buddha Gautama sebagai pendiri agama Buddha. Menurut Ketua Wisma Bhikkhu Saṅgha Theravāda Indonesia, YM Dhammasubho Mahathera, rupang ini merupakan representasi spiritual yang memperkuat ikatan antara umat dan Sang Buddha. Ia menjelaskan bahwa seperti anak yang menyimpan foto orang tuanya atau murid yang menyimpan foto gurunya, umat Buddha juga memiliki kecintaan terhadap Rupang ini.

Pembuatan Rupang Buddha Nusantara dilakukan secara nasional dengan melibatkan berbagai daerah agar semua umat Buddha di Indonesia dapat ikut berpartisipasi. Proses pembuatan ini telah dilakukan di beberapa wilayah seperti Medan, Bali, dan Samarinda, dan kini dilanjutkan di Palu. Rencananya, seluruh bagian Rupang akan dirangkai menjadi satu kesatuan utuh pada 21 Juni 2026 di Jakarta.

Rupang tersebut akan ditempatkan di vihara yang berada di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai simbol perjalanan dan kontribusi Saṅgha Theravāda Indonesia. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Ia menilai momen 50 tahun STI sangat bermakna dengan adanya pembuatan Rupang Buddha Nusantara yang mengangkat nilai sejarah dan budaya.

Supriyadi menambahkan bahwa model Rupang ini diambil dari temuan di Candi Sewu. Hal ini menjadi bagian dari upaya untuk menghargai peradaban Buddha di masa lalu. Selain itu, Kementerian Agama juga memastikan bahwa proses pengecoran dilakukan dengan metode yang baik sebagai bagian dari ekosistem ibadah umat Buddha.

Kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi mendatang untuk mengenal dan menghargai warisan budaya serta kontribusi agama Buddha di Indonesia. Supriyadi menegaskan bahwa ini menjadi pembelajaran bagi anak cucu kita bahwa kita memiliki peradaban yang sangat baik, dan agama Buddha turut berkontribusi di dalamnya.

Rupang Buddha Nusantara: Simbol Persatuan dan Kontribusi

Rupang Buddha Nusantara dibuat mengacu pada prototipe temuan di kompleks Candi Sewu dengan mudra Bhūmisparsa yang melambangkan bumi sebagai saksi kebajikan. Pengecoran di Palu menjadi titik keempat setelah sebelumnya dilaksanakan di sejumlah wilayah lain di Indonesia, dan menjadi simbol persatuan umat Buddha dalam menyongsong usia emas Saṅgha Theravāda Indonesia.

Proses pembuatan Rupang ini tidak hanya bertujuan untuk memperingati 50 tahun STI, tetapi juga sebagai bentuk penghargaan terhadap sejarah dan budaya agama Buddha di Indonesia. Setiap daerah yang terlibat dalam pembuatan Rupang memberikan kontribusi unik sesuai dengan karakteristik lokal masing-masing.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antar umat Buddha dari berbagai wilayah. Melalui pembuatan Rupang yang dilakukan secara nasional, umat Buddha diharapkan dapat merasa lebih dekat dan bersatu dalam menjalankan ajaran Buddha.

Keberlanjutan dan Harapan Masa Depan

Dengan penyelesaian Rupang Buddha Nusantara di Jakarta, kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari inisiatif-inisiatif serupa yang bisa mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama. Selain itu, keberadaan Rupang ini di IKN diharapkan menjadi pusat perhatian masyarakat luas, sehingga semakin banyak orang yang mengenal dan menghargai agama Buddha di Indonesia.

Pembuatan Rupang Buddha Nusantara juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberagaman agama dan budaya di Indonesia. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi bentuk pelestarian warisan budaya yang penting untuk generasi mendatang.

Pos terkait