Harga BBM Nonsubsidi Naik, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Akan Ganti Kendaraan Dinas

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Mendorong Perubahan Pola Penggunaan Kendaraan

Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter, sedangkan Dexlite mencapai harga Rp23.600 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex juga melonjak menjadi Rp23.900 per liter. Kenaikan ini membuat sejumlah masyarakat dan pejabat mempertimbangkan alternatif penggunaan kendaraan yang lebih hemat.

Adapun BBM lain yang tidak mengalami perubahan harga adalah Pertamax Green dengan harga Rp12.900 per liter, Pertamax Rp12.300 per liter, Pertalite Rp10.000 per liter, serta Biosolar subsidi yang tetap dijual dengan harga Rp6.800 per liter.

Perubahan Pemakaian Kendaraan oleh Pejabat Daerah

Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra Negara, akan mengganti kendaraan dinasnya akibat dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi. Ia mengungkapkan bahwa kebijakan ini dilakukan untuk menekan ketergantungan pada BBM konvensional yang harganya terus meningkat.

“Saya secara pribadi sudah menyampaikan ke bagian umum bahwa ke depan saya akan menggunakan mobil Toyota Innova Zenix karena lebih irit,” ujarnya. Saat ini, Diky masih menggunakan kendaraan dinas jenis Pajero warna hitam dengan bahan bakar bensin jenis Pertamina Dex.

Ia menjelaskan bahwa penggunaan Pajero saat ini akan berdampak pada anggaran, karena biaya bahan bakar akan meningkat tajam. “Kemungkinan akan membengkak dan tentunya harus ada tambahan BBM, itu tidak mungkin nambah anggaran,” jelasnya.

Diky mengusulkan agar Pajero yang digunakan saat ini diistirahatkan atau dilelang, dan digantikan dengan kendaraan lain yang lebih hemat. Alasan utama adalah efisiensi anggaran di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.

“Usulan tersebut dari sisi pribadi saya, yang lainnya kebijakannya belum tahu seperti apa. Tetapi mungkin kurang lebih hampir mirip kita coba menyesuaikan saja dengan kondisi sekarang,” kata Diky.

Ia juga menegaskan bahwa para pejabat tidak perlu memiliki gaya hidup yang terlalu mewah. “Jangan pernah berpikir lagi pola hidup dimana pejabat teh kudu keren, dimana pejabat kudu kitu, kita tidak seperti itu dengan kondisi sekarang yuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa pejabat pun sama manusia,” tegasnya.

Beralih ke Bio Solar sebagai Alternatif

Seorang pengguna Toyota Fortuner bernama Agus (50), warga Kota Cilegon, mengaku kaget saat mengetahui kenaikan harga Pertamina Dex. Akibatnya, ia sementara beralih ke BBM jenis lain yang harganya lebih terjangkau, yakni Bio Solar.

“Sekarang sementara pakai Bio Solar dulu. Semoga harga bisa kembali normal, walaupun kita juga tahu kondisi global lagi tidak menentu,” katanya.

Bio Solar merupakan BBM bersubsidi yang tidak mengalami perubahan harga, tetap dijual dengan harga Rp6.800 per liter. Selain pengguna Fortuner, sejumlah pengguna kendaraan diesel kelas menengah ke atas lain, seperti Mitsubishi Pajero Sport, juga beralih ke Bio Solar.

Hal itu terpantau di SPBU wilayah Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Seorang pemilik Pajero Sport di Teluk Kuantan mengakui, peralihan itu dilakukannya sejak harga BBM nonsubsidi melonjak signifikan. Menurutnya, biaya operasional kendaraan menjadi jauh lebih tinggi jika tetap menggunakan BBM nonsubsidi.

Namun, penggunaan Bio Solar juga memiliki dampak pada kondisi kendaraan. Ia mengaku harus lebih sering melakukan perawatan, terutama pada bagian penyaring bahan bakar.

“Minimal harus ganti filter solar sekali sebulan,” katanya.

Penyesuaian di Tengah Kenaikan Harga BBM

Perubahan pola penggunaan kendaraan dan bahan bakar ini menunjukkan upaya masyarakat dan pejabat dalam menyesuaikan diri dengan situasi ekonomi yang semakin sulit. Kenaikan harga BBM nonsubsidi telah memicu perubahan strategi penggunaan kendaraan, baik secara individu maupun institusi.

Dengan langkah-langkah seperti ini, diharapkan dapat membantu mengurangi beban pengeluaran dan menjaga efisiensi anggaran. Kebijakan penyesuaian ini juga diharapkan dapat memberikan contoh bagi masyarakat luas untuk lebih bijak dalam penggunaan sumber daya.

Pos terkait