Kisah Mat Yasin: Dari Sampang ke Kaya Raya dengan Jualan Bapel



SAMPANG,

Mat Yasin dikenal sebagai sosok yang luar biasa. Ia rela mengeluarkan uang pribadi hingga mencapai Rp 2 miliar untuk membangun jalan di desanya, yaitu Desa Madulang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Namun, kisah suksesnya tidak datang dengan mudah. Mat Yasin harus melewati berbagai tantangan hidup sejak kecil.

Kesulitan pertama yang ia alami terjadi saat usianya masih dua tahun. Orang tuanya bercerai, dan ibunya, Salamah, pergi bekerja ke Surabaya. Mat Yasin bersama kakaknya, Karimah, tinggal bersama pamannya. Sejak saat itu, hidupnya penuh dengan kesulitan dan kurangnya kasih sayang dari orang tua.

“Saya hanya pulang ke rumah saat lebaran. Saya baru bisa bertemu ayah saya, Bukari, setelah berusia 16 tahun,” cerita Mat Yasin kepada seseorang, Selasa (20/1/2026).

Meski hidupnya pahit, Mat Yasin tidak menyerah. Saat muda, ia memutuskan merantau ke Tanjung Perak, Surabaya, pada 2005. Di sana, ia menjajakan kue bapel naik turun bus. Bahkan, untung yang ia dapat hanya Rp 500 per bungkus kue, dan kuenya tidak selalu laku.

Tidak putus asa, Mat Yasin beralih profesi dengan bekerja di warung bebek di Keputih, Kelurahan Sukolilo Surabaya. Ia juga sering menjadi tukang parkir di Wonokromo. “Saat itu, saya senang luar biasa dibayar Rp 150.000. Saya tidak mikir bayaran karena sudah dikasih makan,” kenangnya.

Pada 2007, Mat Yasin diajari memotong rambut dan dititip ke teman pamannya di Pasuruan. Pada awal 2008, ia membuka tempat potong rambut sendiri di Surabaya. Siang hari, ia melayani potong rambut. Malam hari, ia berkeliling kampung melayani jasa jahit kasur. Akhirnya, ia bertemu jodoh dan menikah dengan Mairah.

“Saat itu, saya menikah, dan menghidupi keluarga dengan memotong rambut dan jahit kasur sampai tahun 2018,” ujarnya.

Bersama keluarga kecilnya, Mat Yasin mengingat masa tinggal di kamar kontrakan selebar lima meter bersama istri dan anak pertamanya. Saat itu, ia mulai menabung sambil berdagang kayu bekas. Namun, nasib berkata lain. Usahanya gagal hingga bangkrut, bahkan memiliki utang hingga Rp 3 miliar sejak tahun 2020.

“Dari 2021 hingga 2022, saya diuji lagi, punya utang sebanyak Rp 3 miliar. Saya bingung harus bayar dengan cara bagaimana,” katanya.

Terpuruk, Mat Yasin menolak putus asa dan terus berjuang. Akhir tahun 2022, ia diajak temannya untuk berdagang besi tua di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak itulah, ia bangkit dan mulai melunasi utang dengan dicicil.

“Berkat doa ibu, saya dipertemukan dengan orang baik saat itu. Saya pertama kali naik pesawat diantar istri ke bandara menuju Sumba, NTT,” tutur Mat Yasin.

Rezeki mulai menghampiri Mat Yasin. Di Sumba Barat, ia kenal dengan ratusan pebisnis besi tua. Perkenalan itu yang membuat bisnis besi tuanya terus berkembang, bahkan transaksinya sudah mencapai puluhan miliar rupiah.

Setelah sukses, Mat Yasin menyebut, dia teringat pada janjinya sewaktu susah untuk membangun desanya usai berhasil. “Saat itu, saya berjanji kalau punya uang Rp 30 miliar akan membangun desa kelahiran saya,” ucapnya dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.

Mat Yasin pun berhenti bercerita sejenak. Sesekali, dia mengusap air matanya. Kini, Mat Yasin sudah memenuhi janjinya. Dia sudah membangun jalan aspal di Desa Madulang sepanjang 10 kilo meter lebih dengan uang pribadi.

“Bagi siapapun yang ditinggal orang tuanya jangan putus asa. Jangan patah semangat dan terus berusaha. Allah pasti akan memberi rezeki,” pesannya.

Mat Yasin berada dalam deretan nama para pebisnis besi tua di Indonesia. Dia pun aktif melakukan aktivitas sosial dan memberikan santunan kepada anak yatim dan tetangga di desa kelahiran.

Pos terkait