MBG Tingkatkan Konsumsi Buah dan Susu Siswa, Dokter Soroti Manfaat Jangka Panjang

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Berdampak Positif pada Kesehatan Anak

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterapkan di SDN Jogjogan 01, Kabupaten Bogor, telah memberikan dampak signifikan terhadap kebiasaan makan siswa. Selain meningkatkan konsumsi buah dan susu, program ini juga membantu memperluas pengetahuan siswa tentang berbagai jenis makanan bergizi.

Redi, koordinator MBG SDN Jogjogan 01, menjelaskan bahwa sebelum program ini berjalan, pola konsumsi siswa cenderung monoton dan kurang bervariasi. “Sebelumnya anak-anak hanya mengonsumsi makanan yang itu-itu saja. Setelah ada MBG, mereka jadi lebih mengenal berbagai jenis makanan,” ujarnya.

Dengan adanya program MBG, konsumsi buah dan susu meningkat karena menu yang disajikan beragam dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan 02. Menurut Redi, tampilan makanan yang menarik membuat anak-anak lebih antusias dalam mengonsumsinya. “Mereka juga jadi lebih sering makan buah dan minum susu,” tambahnya.

Dukungan dari Dokter Spesialis Kesehatan

Dokter Spesialis sekaligus edukator kesehatan, dr. Andi Khomeini Takdir atau yang akrab disapa dr. Koko, memberikan dukungan penuh terhadap program MBG. Ia menilai program ini sebagai langkah konkret pemerintah dalam memenuhi kecukupan gizi nasional.

“Bonus demografi itu bukan hanya perihal jumlah penduduk, tapi juga kualitasnya. Upaya pemerintah untuk memberikan kecukupan gizi itu bagus, dan dari awal saya selalu mendukung itu,” ujar dr. Koko.

Pernyataan dr. Koko sejalan dengan hasil survei terbaru dari Poltracking Indonesia. Survei tersebut menunjukkan bahwa program MBG merupakan salah satu program pemerintah yang mendapatkan ekspektasi dan dukungan publik paling tinggi. Masyarakat melihat program ini sebagai solusi nyata bagi keluarga menengah ke bawah untuk menjamin kebutuhan makan anak-anak mereka, minimal sekali dalam sehari.

Pentingnya Pemenuhan Gizi yang Sederhana

Menurut dr. Koko, pemenuhan gizi tidak harus dibuat rumit. Ia menyarankan agar tata kelola program tetap akuntabel, namun penyajiannya tetap sederhana.

“Kembali ke dasar. Nasi, ikan, sayur, telur, atau ayam suir itu sudah cukup. Jangan dibuat rumit. Anak-anak yang rutin mengonsumsi MBG akan terlatih lidahnya (taste education) sehingga tidak jadi pilih-pilih makanan (picky eater) juga,” jelasnya.

Data dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) memperkuat poin ini. Survei RISED menunjukkan bahwa sekitar 80% orang tua melaporkan perbaikan pola makan anak setelah adanya program MBG.

Manfaat Jangka Panjang dari Konsumsi Makanan Bergizi

Selain itu, dengan memperkenalkan sayur dan buah sejak dini, anak-anak menjadi lebih terbiasa makan sayur dan protein. Menurut dr. Koko, hal ini sangat efektif dalam mengurangi risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas sejak dini.

Program MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung terhadap kesehatan anak, tetapi juga menciptakan kebiasaan makan yang sehat sejak usia dini. Dengan begitu, generasi muda akan lebih siap menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.

Pos terkait