Pangdam XIV Hasanuddin: Helikopter Evakuasi Korban Pesawat Jatuh

Upaya Evakuasi dan Pencarian Korban Pesawat ATR 400 di Pegunungan Bulusaraung: Dua Skenario Utama Dijalankan

Pangkep, Maros, Sulawesi Selatan – Upaya pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang mengalami insiden di pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus dilakukan dengan fokus pada dua skenario utama, tergantung pada kondisi cuaca. Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) XIV Hasanuddin, Mayor Jenderal TNI Bangun Narwoko, membeberkan strategi ini dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Bandara Sultan Hasanuddin pada Minggu, 18 Januari 2026.

Skenario pertama, yang menjadi prioritas utama, adalah evakuasi langsung menggunakan helikopter. Langkah ini akan diambil apabila kondisi cuaca di lokasi kejadian mendukung dan memungkinkan. Helikopter akan diterbangkan langsung ke titik jatuhnya pesawat untuk mengangkut para korban.

Namun, jika cuaca menjadi kendala dan tidak bersahabat, tim SAR gabungan telah menyiapkan skenario kedua. Dalam skenario ini, para korban akan dibawa terlebih dahulu ke sebuah posko yang telah disiapkan di Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep. Setelah tiba di posko tersebut, proses selanjutnya adalah memberangkatkan para korban menuju Makassar untuk penanganan lebih lanjut.

“Kalau cuaca memungkinkan, kita akan evakuasi menggunakan heli. Kalau tidak, kita akan bawa korban ke pos di Desa Tompobulu,” ujar Pangdam Bangun Narwoko, menjelaskan kedua opsi yang telah disiapkan tim gabungan.

Konferensi pers tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting, termasuk Kapolda Sulawesi Selatan Irjen Pol Jhuhandani, Kepala Basarnas Sulawesi Selatan Muhammad Arif Anwar, Danlanud, perwakilan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), perwakilan Indonesia Air Transport, serta General Manager Angkasa Pura. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menunjukkan keseriusan dan koordinasi yang kuat dalam penanganan insiden ini.

Perkembangan Terbaru Pencarian: Penemuan Serpihan Pesawat

Hingga berita ini diturunkan, belum ada korban yang berhasil ditemukan. Kepala Basarnas Sulawesi Selatan, Muhammad Arif Anwar, memberikan keterangan mengenai perkembangan terbaru dalam operasi pencarian. Tim SAR gabungan telah berhasil menemukan beberapa bagian penting dari pesawat, termasuk jendela pesawat, ekor pesawat, dan badan pesawat. Selain itu, ditemukan pula banyak serpihan kecil yang tersebar di berbagai titik di lokasi kejadian.

Penemuan serpihan ini sangat krusial dalam membantu tim investigasi untuk merekonstruksi kejadian dan menentukan penyebab pasti kecelakaan.

Strategi Pencarian Gabungan: Darat dan Udara

Operasi pencarian korban dan serpihan pesawat ATR 400 ini melibatkan kombinasi metode pencarian darat dan udara. Pendekatan gabungan ini diharapkan dapat memaksimalkan cakupan area pencarian dan mempercepat proses penemuan.

  • Tim Pencarian Udara:

    • Melibatkan helikopter Caracal.
    • Melibatkan pesawat Boeing dari TNI Angkatan Udara.
      Kedua armada udara ini bertugas melakukan penyisiran dari ketinggian untuk mendeteksi keberadaan korban atau serpihan pesawat dari jarak pandang yang lebih luas.
  • Tim Pencarian Darat:

    • Terdiri dari sekitar 1.200 personel yang berasal dari berbagai instansi terkait.
    • Tim ini dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan penyisiran secara sistematis di darat.
      Tim darat memiliki peran penting dalam menjelajahi medan pegunungan yang sulit dijangkau, melakukan pencarian secara detail, dan mengumpulkan temuan-temuan di lapangan.

Pembagian Empat Tim SAR oleh Basarnas

Untuk memastikan tidak ada area yang terlewat dan memaksimalkan efektivitas pencarian, Basarnas Sulsel telah mengambil langkah strategis dengan membagi timnya menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU). Keempat SRU ini akan menyebar dan melakukan pencarian di empat titik yang berbeda.

“Kami dari Basarnas sendiri membagi empat SRU dan membagi empat titik pencarian, melalui penyapuan lewat darat, sehingga tidak ada korban yang terlewatkan,” jelas Muhammad Arif Anwar. Metode ini dirancang untuk menciptakan cakupan pencarian yang komprehensif, baik di area yang mudah dijangkau maupun di medan yang lebih terjal.

Kronologi Hilangnya Kontak

Pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT) ini dilaporkan hilang kontak pada Sabtu, 17 Januari 2026. Pesawat tersebut tengah dalam penerbangan dari rute Yogyakarta menuju Makassar. Insiden ini terjadi di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang dikenal dengan kondisi geografis pegunungan yang cukup menantang.

Pesawat tersebut diketahui membawa total 10 orang di dalamnya, terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang. Ketujuh kru yang bertugas dalam penerbangan tersebut adalah Kapten Andy Dahananto (pilot), FOO Hariadi, EOB Restu Adi, DOB Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther, dan Aprilita S. Sementara itu, tiga orang penumpang yang berada di dalam pesawat adalah Deden, Ferry, dan Yoga. Keberadaan mereka masih menjadi fokus utama dalam operasi pencarian yang sedang berlangsung. Seluruh pihak terkait berharap agar operasi pencarian ini dapat segera membuahkan hasil yang positif.

Pos terkait