Peringatan Hari Film Nasional: Harapan dari Aktor dan Aktris untuk Kemajuan Industri Film Indonesia
Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret menjadi momen penting bagi para insan perfilman di Tanah Air. Tidak hanya sebagai perayaan, hari ini juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan perkembangan dan tantangan yang dihadapi industri film Indonesia. Banyak aktor dan aktris memberikan pandangan mereka tentang bagaimana sektor ini bisa terus berkembang.
Salah satu tokoh yang menyampaikan harapannya adalah Angga Yunanda. Ia menekankan pentingnya menghargai karya-karya film dengan cara menonton secara legal. Menurutnya, masyarakat harus sadar bahwa menonton film di bioskop adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan metode lain seperti bajakan.
“Pastinya tidak ada bajakan lagi. Sepakat! Betul. Dan nonton film harus di bioskop terlebih dahulu pastinya,” ujar Angga saat berada di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan pada Senin (30/3/2026).
Menurut Angga, pengalaman menonton di bioskop memiliki keunikan tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh platform digital. Ia juga membagikan nasihat kepada penonton agar tidak menonton sendirian, karena bisa saja di bioskop seseorang akan menemukan pasangan hidupnya.
“Dan aku selalu ngingetin kalau bisa jangan nonton sendiri gitu. Siapa tahu nanti kalau kalian ajak teman, kalau sendiri juga nggak apa-apa, siapa tahu nanti nemu jodoh di bioskop nggak ada yang tahu,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa menonton di bioskop memberikan sensasi yang lebih maksimal. Ia berharap kebiasaan ini bisa terus dipertahankan oleh masyarakat.
“Tapi yang pasti menurut aku setidaknya sisihkan waktu kalian untuk menonton di bioskop karena itu experience-nya akan berbeda banget kalau kalian menontonnya di bioskop. Jadi harus di bioskop nggak ada tempat lain kalau aku,” jelasnya.
Pemerataan Akses dalam Industri Film
Selain Angga, Maudy Ayunda juga turut menyampaikan pandangannya tentang masa depan perfilman Indonesia. Ia menyoroti pentingnya pemerataan akses terhadap layanan bioskop di seluruh wilayah Indonesia.
Maudy mengaku memiliki banyak harapan untuk perfilman Tanah Air. Namun, ia memilih fokus pada satu hal utama, yaitu pemerataan akses.
“Harapan buat aku, mungkin aku angle-nya satu aja sih. Aku banyak harapannya tapi untuk perfilman Indonesia aku berharap bisa semakin merata lagi,” ungkap Maudy.
Menurutnya, kondisi geografis Indonesia menjadi tantangan besar dalam distribusi layar bioskop. Hal ini membuat akses ke bioskop belum sepenuhnya merata di seluruh daerah.
“karena Indonesia itu kepulauan dan menurut aku dengan jumlah manusia yang kita miliki, layar dan bioskop itu belum cukup banyak gitu untuk bisa diresap dan dialami bagi setiap orang di Indonesia gitu sebenarnya,” tuturnya.
Wanita berusia 31 tahun ini juga menilai bahwa meskipun banyak film yang tersedia, pemerataan bioskop tetap menjadi hal yang harus terus diperjuangkan.
“Tentunya di luar, film banyak sekali ya kalau soal pemerataan yang tetap memang harus kita lakukan lagi,” katanya.
Lebih lanjut, Maudy berharap akses terhadap film bisa menjangkau lebih luas. Ia ingin semua masyarakat, termasuk yang tinggal di luar pulau Jawa dan daerah-daerah lainnya, dapat menikmati pengalaman menonton film di bioskop.
“Tapi ini juga apply gitu di film, di layar supaya semakin banyak lagi teman-teman di luar pulau Jawa dan di daerah-daerah yang bisa gitu juga ngikutin experience menonton film di bioskop,” tutupnya.
Momentum untuk Semua Pihak
Momentum Hari Film Nasional menjadi pengingat bagi semua pihak, baik pelaku industri maupun penonton, bahwa kemajuan film Indonesia tidak bisa dicapai hanya oleh satu pihak. Dibutuhkan kerja sama dan komitmen bersama untuk menjaga kualitas serta mengembangkan industri ini.






