Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan bahwa layanan beli sekarang bayar nanti, atau yang dikenal sebagai buy now pay later (BNPL), yang ditawarkan oleh perusahaan pembiayaan akan terus menunjukkan prospek yang cerah hingga tahun 2026. Prediksi optimistis ini didasarkan pada beberapa faktor kunci, terutama peningkatan permintaan yang signifikan dari segmen usia produktif. Selain itu, layanan BNPL juga menjadi solusi bagi masyarakat yang belum memiliki akses memadai terhadap layanan keuangan formal.
Prospek Cerah Layanan BNPL Perusahaan Pembiayaan
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK, Agusman, menyatakan optimisme ini dalam jawaban tertulis yang dirilis bersamaan dengan Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pada Februari 2026. Beliau menekankan bahwa daya tarik BNPL terletak pada kemampuannya menjangkau segmen pasar yang lebih luas, termasuk mereka yang mungkin tidak memenuhi kriteria ketat untuk produk pembiayaan konvensional.
Pada Januari 2026, tercatat bahwa rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing atau NPF) gross untuk layanan BNPL perusahaan pembiayaan berada di level yang terkendali, yaitu sebesar 2,77%. Agusman menilai bahwa rasio NPF gross yang terjaga ini merupakan indikasi kuat bahwa pengelolaan risiko serta proses seleksi pembiayaan yang diterapkan oleh perusahaan pembiayaan sudah memadai.
Keberhasilan ini didukung oleh berbagai strategi, termasuk penerapan sistem credit scoring yang lebih canggih dan pemantauan pembayaran yang lebih ketat. Langkah-langkah ini dirancang untuk meminimalkan risiko gagal bayar sekaligus memastikan bahwa layanan BNPL dapat diakses oleh nasabah yang memenuhi kualifikasi.
Pertumbuhan Signifikan Berdasarkan Data SLIK
OJK juga mencatat adanya pertumbuhan yang luar biasa pada layanan BNPL yang disediakan oleh perusahaan pembiayaan. Berdasarkan data dari Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mengalami pertumbuhan sebesar 71,13% secara year on year (YoY). Pertumbuhan ini mengukuhkan posisi BNPL sebagai salah satu produk pembiayaan yang paling diminati saat ini.
Agusman mengungkapkan dalam siaran pers RDK Februari 2026 bahwa total pembiayaan BNPL telah mencapai Rp12,18 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kemudahan yang ditawarkan oleh layanan ini untuk memenuhi kebutuhan finansial mereka, mulai dari pembelian kebutuhan sehari-hari hingga barang-barang bernilai lebih tinggi.
Tantangan di Balik Pertumbuhan Pesat
Meskipun prospek BNPL terlihat sangat positif, Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, mengingatkan adanya beberapa tantangan yang perlu diantisipasi seiring dengan meningkatnya permintaan layanan paylater di sektor multifinance.
Salah satu tantangan utama yang diidentifikasi adalah risiko over-indebtedness atau utang berlebihan pada konsumen. Ketika layanan BNPL semakin mudah diakses, ada kekhawatiran bahwa konsumen dapat terjerat dalam tumpukan utang jika tidak mengelola keuangan mereka dengan bijak.
Potensi kenaikan NPF juga menjadi perhatian, terutama jika kondisi ekonomi makro mengalami pelemahan. Penurunan daya beli masyarakat atau peningkatan pengangguran dapat berdampak langsung pada kemampuan konsumen untuk melunasi kewajiban pembayaran BNPL mereka.
Selain itu, persaingan yang semakin ketat antar pemain di industri BNPL juga diprediksi akan menjadi tantangan tersendiri. Ketatnya persaingan dapat mendorong perusahaan untuk menawarkan promosi yang lebih agresif, namun di sisi lain juga dapat menekan margin keuntungan dan meningkatkan risiko operasional.
Heru Sutadi juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi dan pengawasan. Peningkatan regulasi, meskipun bertujuan baik untuk melindungi konsumen dan menjaga stabilitas industri, dapat berpotensi meningkatkan biaya kepatuhan bagi perusahaan pembiayaan.
Lebih lanjut, isu perlindungan data pribadi dan keamanan siber menjadi perhatian besar di era digital ini. Dengan semakin banyaknya volume transaksi digital yang terjadi, risiko kebocoran data atau serangan siber pun meningkat. Oleh karena itu, industri perlu memberikan prioritas pada keamanan dan privasi data pengguna.
Untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan, industri BNPL perlu menyeimbangkan antara ekspansi bisnis yang agresif dengan manajemen risiko yang disiplin. Pendekatan yang hati-hati dan terencana akan sangat krusial dalam menjaga kesehatan industri dan kepercayaan konsumen dalam jangka panjang.






