Pawai Obor Nuzulul Quran di Nunukan: Perpaduan Syiar Islam dan Kreasi Milenial
Malam di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, disemarakkan oleh ratusan cahaya obor yang menari-nari, menerangi setiap sudut kota. Tradisi memperingati malam Nuzulul Quran, sebuah momen sakral dalam Islam, digelar dengan meriah oleh Pemerintah Kabupaten Nunukan bersama Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia Kabupaten Nunukan. Acara yang berlangsung pada Jumat, 6 Maret 2026, ini tidak hanya menjadi ajang penguatan spiritual bagi masyarakat, tetapi juga hiburan yang memukau bagi seluruh warga.
Rute pawai membentang dari depan Kompleks Ruko Tanah Merah hingga berakhir di kawasan Alun-Alun Kota Nunukan, tepatnya di Tugu Dwikora. Kehadiran pejabat daerah, termasuk Asisten I Bidang Kesra Pemkab Nunukan, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nunukan, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nunukan, menunjukkan dukungan penuh pemerintah terhadap kegiatan bernilai keagamaan dan budaya ini.
Kolaborasi Lintas Generasi dan Komunitas
Sebanyak 14 grup peserta ambil bagian dalam pawai akbar ini, menunjukkan keragaman dan partisipasi aktif dari berbagai lapisan masyarakat. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar tingkat SD hingga SMA/SMK, organisasi kemasyarakatan, hingga sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Keikutsertaan yang luas ini mencerminkan semangat kebersamaan dalam merayakan peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Pawai secara resmi dilepas oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Nunukan, H Sura’i. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh peserta serta pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya acara. “Atas nama Pemerintah Kabupaten dan masyarakat Kabupaten Nunukan, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta serta pihak yang telah berpartisipasi dan mendukung terselenggaranya kegiatan pada malam hari ini,” ujar H Sura’i, menekankan pentingnya kolaborasi untuk mewujudkan acara yang sukses.
Tampilan Artistik dan Nuansa Religi
Para peserta menampilkan kreativitas mereka melalui berbagai properti dekorasi yang memukau. Obor bambu yang menyala terang menjadi bintang utama, menciptakan suasana magis di malam hari. Kaligrafi indah terpampang, menghiasi setiap iring-iringan, sementara lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dan shalawat menggema, mengiringi alunan rebana dan hadroh yang syahdu. Perpaduan visual dan audio ini menciptakan atmosfer yang khidmat sekaligus menggugah semangat.
Salah satu penampilan yang paling mencuri perhatian datang dari rombongan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Nunukan. Di tengah keremangan cahaya obor, para penari menampilkan Tarian Jepen, sebuah tarian khas Kalimantan yang memukau.
Dengan kostum bernuansa kuning dan hitam yang mencolok, para penari bergerak kompak mengikuti irama tabuhan rebana dan hadroh. Gerakan energik khas Jepen, yang sesekali diiringi ayunan tangan dan langkah kaki yang dinamis, disambut sorak-sorai dan tepuk tangan meriah dari warga yang memadati alun-alun.
Penampilan Disbudporapar semakin megah dengan kehadiran replika Kabah bercahaya. Lampu-lampu yang menghiasi replika tersebut memancarkan cahaya terang, menambah nuansa religius yang kental sekaligus kemeriahan acara. Perpaduan antara keindahan tarian tradisional, harmonisasi musik Islami, dan elemen dekorasi religi menjadikan penampilan rombongan ini begitu istimewa dan berbeda dari peserta lainnya.
Kreativitas Tanpa Batas
Antusiasme warga terlihat jelas dari banyaknya ponsel yang terangkat untuk mengabadikan setiap momen berharga. Kreativitas peserta tidak hanya terbatas pada obor bambu yang memberikan sentuhan tradisional, tetapi juga pada kostum yang dikenakan. Selain busana gamis bernuansa Islami yang anggun, beberapa peserta tampil dengan kostum unik menyerupai pocong. Kostum kain putih yang membungkus tubuh dari kepala hingga kaki ini sengaja ditampilkan sebagai elemen hiburan yang menarik perhatian, terutama bagi anak-anak, menciptakan tawa dan keceriaan di tengah kemeriahan acara.
Iring-iringan pawai berlangsung dengan tertib dan meriah hingga mencapai garis finish di depan Tugu Dwikora.
Festival Ramadan yang Komprehensif
Festival Ramadan tahun ini mengusung tema yang sangat relevan, yaitu penguatan “Syiar Islam di bulan suci Ramadan oleh Generasi Milenial yang Islami dan Kreatif”. Pawai Nuzulul Quran hanyalah salah satu rangkaian kegiatan dari festival yang lebih besar. Berbagai lomba menarik lainnya turut digelar, seperti lomba azan, lomba dakwah, lomba beduk sahur, lomba takbir dan beduk, serta takbir keliling dan lomba mobil hias.
Untuk menambah semangat para peserta, panitia telah menyiapkan total hadiah yang sangat menggiurkan, mencapai Rp89.750.000 bagi para pemenang berbagai lomba dalam Festival Ramadan ini. Inisiatif ini tidak hanya mendorong partisipasi, tetapi juga memberikan apresiasi yang layak atas bakat dan dedikasi para pemuda milenial dalam menyemarakkan syiar Islam.






