Rupiah Merosot ke Level Rp 17.000 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Jakarta – Pasar keuangan domestik kembali diwarnai oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan Senin, 9 Maret 2026, rupiah tercatat menembus level psikologis penting, yakni di atas Rp 17.000 per dolar AS.
Rupiah tercatat dibuka pada angka Rp 17.019 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,56% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Jumat, 6 Maret 2026, yang berada di level Rp 16.925 per dolar AS.
Pergerakan rupiah ini sejalan dengan tren pelemahan yang dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia pada pagi hari ini. Sentimen negatif yang melanda pasar global tampaknya turut membebani aset-aset berdenominasi rupiah.
Peta Pelemahan Mata Uang Asia
Hingga pukul 09.00 WIB, sejumlah mata uang utama di Asia menunjukkan tren pelemahan yang signifikan terhadap dolar AS. Berikut adalah gambaran pergerakan beberapa mata uang di Asia:
- Peso Filipina: Menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia, anjlok sebesar 1,11%.
- Baht Thailand: Mengalami pelemahan yang cukup dalam, terdepresiasi 0,9%.
- Won Korea Selatan: Terjun bebas sebesar 0,89%.
- Dolar Taiwan: Tertekan dengan pelemahan mencapai 0,59%.
- Yen Jepang: Mengalami koreksi sebesar 0,57%.
- Dolar Singapura: Melemah 0,51%.
- Ringgit Malaysia: Terdepresiasi 0,5%.
- Yuan China: Mengalami pelemahan sebesar 0,3%.
Di tengah tren pelemahan ini, hanya satu mata uang Asia yang mampu menunjukkan penguatan terhadap dolar AS, yaitu Dolar Hong Kong. Mata uang ini tercatat menguat tipis sebesar 0,09% terhadap dolar AS pada pagi ini.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pelemahan Rupiah
Beberapa faktor dapat berkontribusi terhadap pelemahan nilai tukar rupiah, terutama dalam jangka pendek. Analis pasar keuangan memperkirakan beberapa hal berikut menjadi pemicu utama:
- Sentimen Global yang Negatif: Ketidakpastian ekonomi global, seperti potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia atau kenaikan suku bunga di negara-negara maju, dapat mendorong investor untuk memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS.
- Perbedaan Suku Bunga: Selisih suku bunga antara Indonesia dan negara-negara maju juga memainkan peran penting. Jika suku bunga di negara-negara maju naik, maka daya tarik aset dalam dolar AS akan meningkat, sehingga menarik aliran dana keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
- Data Ekonomi Domestik: Pelemahan rupiah juga bisa dipengaruhi oleh data ekonomi domestik yang dianggap kurang menggembirakan. Misalnya, data inflasi yang tinggi, neraca perdagangan yang memburuk, atau pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat mengurangi kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
- Perkembangan Geopolitik: Ketegangan geopolitik di berbagai belahan dunia juga dapat menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan global, yang pada gilirannya berdampak pada mata uang negara berkembang.
- Perdagangan Komoditas: Indonesia sebagai negara eksportir komoditas, juga rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global. Penurunan harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia dapat menekan nilai tukar rupiah.
Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan data ekonomi baik dari dalam negeri maupun global, serta kebijakan moneter dari bank sentral utama dunia untuk mengukur arah pergerakan nilai tukar rupiah ke depan. Penguatan rupiah di masa mendatang akan sangat bergantung pada stabilitas ekonomi makro Indonesia dan sentimen pasar global yang lebih positif.






