Rupiah Kembali Tertekan oleh Ketegangan Geopolitik dan Data Ekonomi AS
Pada penutupan perdagangan Senin (6/4/2026), nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan dari dominasi dolar Amerika Serikat (AS). Kurs rupiah tercatat berada di level Rp17.035 per dolar AS, melemah sebesar 55 poin atau 0,32 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di level Rp16.980 per dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa rupiah masih kesulitan untuk bersaing dengan mata uang utama dunia.
Tekanan dari Ketegangan di Timur Tengah
Salah satu faktor utama yang memengaruhi kestabilan rupiah adalah ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi penghubung utama bagi pasokan minyak global. Pernyataan Trump melalui platform Truth Social menunjukkan bahwa jika Iran tidak segera membuka selat tersebut, maka akan ada konsekuensi serius.
“Investor saat ini sangat fokus pada tenggat waktu yang diberikan oleh Presiden Donald Trump kepada Iran,” ujar Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang. Ancaman Trump tentang “Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan” di Iran meningkatkan ketegangan di pasar keuangan global.
Di sisi lain, Iran menolak untuk membuka kembali Selat Hormuz tanpa adanya kompensasi atas kerusakan akibat konflik. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak mentah yang dapat memperburuk inflasi di berbagai sektor ekonomi, termasuk transportasi, manufaktur, dan konsumen.
Kinerja Ekonomi AS yang Kuat
Selain tekanan dari Timur Tengah, dominasi dolar AS juga didukung oleh data ekonomi yang positif dari Negeri Paman Sam. Laporan dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) menunjukkan bahwa jumlah lapangan kerja bertambah sebanyak 178 ribu pada Maret 2026. Angka ini jauh melampaui prediksi pasar yang hanya mengharapkan pertumbuhan sebesar 60 ribu.
Selain itu, tingkat pengangguran juga sedikit turun menjadi 4,3 persen pada Maret dari 4,4 persen pada Februari. Data ini menunjukkan bahwa ekonomi AS tetap tangguh meskipun menghadapi berbagai tantangan global.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Dari sisi pergerakan rupiah, jika dilihat sejak awal tahun, kurs rupiah telah melemah sebesar 2,13 persen. Dalam kurun waktu 52 minggu terakhir, nilai tukar rupiah berfluktuasi antara Rp16.079 hingga Rp17.224 per dolar AS.
Untuk perdagangan Selasa (7/4/2026), rupiah diprediksi akan tetap fluktuatif namun cenderung melemah. Rentang perkiraan pergerakan rupiah adalah antara Rp17.030 hingga Rp17.080 per dolar AS. Prediksi ini mencerminkan situasi pasar yang masih rentan terhadap isu-isu global.
Tantangan Berkelanjutan
Rupiah terus menghadapi tantangan berkelanjutan baik dari segi geopolitik maupun ekonomi. Dengan kondisi yang terus berubah, investor dan pelaku pasar harus tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan yang bisa memengaruhi stabilitas nilai tukar.






