Satu Pengasuh Harus Tangani 10 Anak, Pilih Ikat Bayi Daripada Merawat

Kondisi Menyedihkan di Daycare Little Aresha

Di balik aktivitas sehari-hari sebuah daycare di Yogyakarta, tersimpan realita pahit tentang beban kerja, tekanan, hingga dugaan perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak yang seharusnya dilindungi. Kasus ini menunjukkan bahwa praktik kekerasan dan penelantaran bisa terjadi bahkan di tempat yang seharusnya menjadi tempat aman bagi anak-anak.

Awal Mula Pengungkapan Kasus

Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan seorang mantan karyawan yang mengaku ijazahnya ditahan oleh pihak pengelola. Aduan tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh kepolisian dengan melakukan penggerebekan di Daycare Little Aresha yang berlokasi di Umbulharjo, pada Jumat (24/4/2026). Namun, apa yang ditemukan di lokasi jauh melampaui dugaan awal. Polisi tidak hanya menelusuri persoalan administrasi, tetapi juga mengungkap kondisi kerja para pengasuh yang dinilai tidak wajar.

Satu Pengasuh, Sepuluh Bayi

Dalam proses penyelidikan, terungkap fakta mencengangkan: satu orang pengasuh harus menangani hingga 10 bayi sekaligus. Kondisi ini tentu menimbulkan tekanan besar dalam menjalankan tugas sehari-hari, mulai dari memandikan, mengganti pakaian, hingga memenuhi kebutuhan dasar anak-anak.

Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, menegaskan bahwa situasi tersebut berdampak langsung pada kualitas perawatan. “Mereka kesulitan untuk melakukan pekerjaan mulai dari mandi, lalu menggunakan baju, sehingga diperintahkan untuk melakukan perbuatan yang tidak manusiawi,” kata Rizky dikutip dari Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Gaji Minim, Tekanan Maksimal

Ironisnya, beban kerja berat itu tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Para pengasuh hanya digaji sekitar Rp 1,8 juta hingga Rp 2,4 juta per bulan. Di sisi lain, pihak daycare mematok biaya kepada orang tua sebesar Rp 1 juta hingga Rp 1,8 juta per anak, tergantung paket layanan. Ketimpangan ini semakin memperkuat dugaan bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu utama dalam praktik yang terjadi di dalamnya.

Praktik Mengikat Bayi Terungkap

Temuan paling mengejutkan adalah adanya praktik mengikat bayi. Polisi mengungkap bahwa anak-anak di daycare tersebut diikat dalam waktu lama, dan hanya dilepas saat mandi atau makan. Bahkan, mereka baru dipakaikan baju ketika akan difoto sebagai dokumentasi untuk orang tua. Rizky menyebut praktik tersebut bukan dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan diketahui bahkan diperintahkan oleh pimpinan. “Ketua Yayasan dan Kepala Sekolah ini selalu hadir di tiap pagi, dan mereka melihat langsung para pengasuh melakukan hal tersebut kepada anak-anak itu. Jadi dia mengetahui dan menyuruh melakukan,” ujar Rizky, dikutip dari Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Budaya Lama yang Terus Dilanjutkan

Lebih jauh, polisi menemukan bahwa praktik tersebut bukan hal baru. Metode itu disebut sudah berlangsung lama dan diwariskan dari pengasuh sebelumnya kepada generasi berikutnya. “Selain itu juga memang pengasuh menyampaikan ini juga disampaikan dari turun-temurun. Artinya sebelum mereka kan sudah ada yang bekerja, cara-cara itu juga disampaikan sama senior-senior merekalah atau yang sudah keluar,” imbuhnya.

13 Orang Jadi Tersangka

Hingga kini, aparat telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka dalam kasus ini. Mereka terdiri dari ketua yayasan berinisial DK, kepala sekolah AP, serta 11 pengasuh lainnya. Polisi juga menyoroti motif ekonomi sebagai faktor utama. Semakin banyak anak yang diterima, semakin besar keuntungan yang diperoleh, meski harus mengorbankan kualitas perawatan dan keselamatan anak.

Kesimpulan

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa di balik layanan yang tampak biasa, bisa saja tersembunyi praktik yang jauh dari standar kemanusiaan. Kini, publik menunggu langkah tegas aparat untuk memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang.

Pos terkait