Era Baru Chelsea Dimulai dengan Kemenangan Meyakinkan di Piala FA
Liam Rosenior telah resmi memulai babak baru bersama Chelsea dengan catatan positif. Pelatih baru ini memimpin The Blues meraih kemenangan telak 5-1 atas Charlton Athletic dalam pertandingan putaran ketiga Piala FA yang digelar pada 11 Januari 2026. Kemenangan ini tidak hanya mengantarkan Chelsea melaju ke babak selanjutnya, tetapi juga memberikan sinyal positif mengenai arah tim di bawah kepemimpinan Rosenior.
Performa Dominan dan Gol-Gol Krusial
Chelsea menunjukkan dominasi yang luar biasa sepanjang pertandingan. Penguasaan bola mencapai 72 persen, menunjukkan kontrol penuh tim atas jalannya laga. Gol-gol kemenangan Chelsea dicetak oleh Jorrel Hato yang membuka keunggulan di menit akhir babak pertama melalui tendangan half-volley yang spektakuler. Di babak kedua, Tosin Adarabioyo menggandakan keunggulan melalui sundulan memanfaatkan umpan tendangan bebas. Marc Guiu menambah pundi-pundi gol sebelum Charlton sempat memperkecil ketertinggalan melalui Miles Leaburn di menit ke-57. Namun, Chelsea kembali menunjukkan ketajamannya dengan tambahan gol dari Pedro Neto di menit ke-90+1, disusul eksekusi penalti yang dingin dari Enzo Fernandez di menit ke-90+4.
Rincian Gol:
- Chelsea:
- Jorrel Hato (45+1′)
- Tosin Adarabioyo (50′)
- Marc Guiu (62′)
- Pedro Neto (90+1′)
- Enzo Fernandez (90+4′ penalti)
- Charlton Athletic:
- Miles Leaburn (57′)
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Rosenior sejak menggantikan Enzo Maresca, pelatih sebelumnya. Hasil positif ini menjadi modal berharga bagi Chelsea untuk membangun momentum di awal masa kepelatihannya.
Rosenior: Membandingkan dengan “Class of ’92” Manchester United
Dalam sebuah apresiasi yang tulus terhadap klub yang ia dukung sejak kecil, Liam Rosenior secara mengejutkan membandingkan tim mudanya dengan versi modern dari “Class of ’92” legendaris Manchester United. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers perdananya di Chelsea, menunjukkan kepercayaan diri dan visi yang dimilikinya.
Rosenior, yang sebelumnya melatih Strasbourg, menegaskan bahwa ia tidak akan menjadi sekadar boneka bagi kelompok pemilik BlueCo. Ia memuji bakat yang dimiliki para pemainnya dan mendukung penuh kualitas manajerialnya sendiri, di tengah ketidakpuasan yang sempat dirasakan oleh para penggemar.
“Saya tidak sombong,” ujar Rosenior. “Saya mahir dalam pekerjaan saya.”
Ia menambahkan, “Saya adalah penggemar Manchester United dan sekarang saya sangat mendukung Chelsea. Saya ingat Sir Alex Ferguson berani memasukkan enam atau tujuh pemain berusia antara 19 dan 21 tahun ke dalam tim juara karena ia percaya pada mereka. Mereka berkembang dan memenangkan banyak trofi. Itu adalah momen yang luar biasa dalam klub ini. Jika tidak ada keberanian itu, semuanya tidak akan terjadi. Hal serupa bisa terjadi di sini.”
Pernyataan ini menggarisbawahi ambisi Rosenior untuk membangun tim yang solid dan berani mengambil risiko, mirip dengan filosofi yang pernah diterapkan Sir Alex Ferguson di Manchester United.
Adaptasi Gaya Permainan dan Formasi
Rosenior menerapkan formasi dan gaya permainan yang familiar bagi para penggemar Chelsea, sesuai dengan keinginan pemilik klub. Hal ini membuat permainan tim memiliki kemiripan dengan gaya yang diusung oleh Enzo Maresca.
- Formasi Saat Bertahan: Chelsea menggunakan formasi 4-2-3-1 ketika tidak menguasai bola.
- Formasi Saat Menyerang: Tim beralih ke formasi 3-4-3 saat menyerang.
- Peran Pemain: Bek kiri Jorrel Hato memiliki peran fleksibel, kerap berpindah ke posisi gelandang serang saat tim menguasai bola. Tiga pemain di lini belakang juga memberikan banyak opsi pergerakan di sekitar area penalti lawan.
Chelsea mendominasi penguasaan bola dengan banyak umpan pendek yang mengalir di seluruh lapangan. Meskipun demikian, mereka membutuhkan waktu hingga jeda babak pertama untuk akhirnya berhasil menembus pertahanan Charlton yang cukup kokoh.
Gol pertama era Rosenior, yang dicetak oleh Hato, merupakan hadiah yang pantas atas dominasi mereka di babak pertama. Pada babak pertama tersebut, Chelsea mencatatkan 78 persen penguasaan bola dan melepaskan 11 tembakan, enam di antaranya tepat sasaran. Enam dari upaya tersebut berasal dari luar kotak penalti, menunjukkan keberanian pemain untuk mencoba melepaskan tembakan dari jarak jauh. Meskipun demikian, sempat muncul rasa frustrasi di antara pemain sebelum gol pertama tercipta, sebuah sensasi yang mungkin sudah akrab bagi klub dalam beberapa bulan terakhir.
Gol kedua Chelsea tercipta melalui skema yang apik: umpan tendangan bebas dari Facundo Buonanotte disundul dengan sempurna oleh Tosin Adarabioyo.
Tim muda Chelsea menunjukkan ketahanan mental yang baik saat Charlton berhasil memperkecil ketertinggalan. Alih-alih goyah, Marc Guiu berhasil kembali memperlebar keunggulan menjadi dua gol hanya lima menit setelah gol balasan Charlton.
Strategi Rotasi dan Dampaknya
Rosenior menunjukkan keberanian dengan memulai pertandingan ini dengan skuad yang banyak dirombak, melakukan delapan perubahan dari tim yang sebelumnya kalah dari Fulham di Premier League. Keputusan ini diambil meskipun ia baru saja menyatakan dalam konferensi pers perdananya bahwa ia ingin memulai kariernya dengan kemenangan dan membangun momentum.
“Saya telah memberi tahu para pemain untuk fokus pada memenangkan pertandingan berikutnya, berikutnya, dan berikutnya,” ujar Rosenior. “Itulah cara untuk memulai sebuah rentetan kemenangan.”
Dengan jadwal padat yang menanti, Chelsea akan bermain di akhir pekan dan pertengahan pekan untuk beberapa waktu ke depan. Rosenior mungkin akan kembali menurunkan tim inti yang kuat di pertandingan-pertandingan krusial sebelum melakukan rotasi di kemudian hari.
Strategi Rosenior terbukti membuahkan hasil. Ketika pemain-pemain inti seperti Enzo Fernandez, Estevao, dan Liam Delap dimasukkan di babak kedua, perbedaan kualitas antara kedua tim menjadi semakin jelas. Chelsea mendominasi Charlton dalam 20 menit terakhir pertandingan. Peluang untuk menambah gol sebenarnya lebih banyak, namun penampilan gemilang kiper Charlton, Will Mannion, berhasil menggagalkan beberapa peluang emas.
Pemain yang masuk sebagai pengganti, Pedro Neto, berhasil mencetak gol keempat lima menit sebelum laga usai. Pesta gol Chelsea ditutup dengan tendangan penalti yang dieksekusi dengan sempurna oleh Enzo Fernandez di detik-detik terakhir pertandingan.
Tantangan di Lini Pertahanan
Meskipun kemenangan besar diraih, masalah yang sama di lini belakang masih terus menghantui Chelsea. Ini adalah pertandingan ketujuh berturut-turut di mana tim gagal mencatatkan cleansheet. Faktanya, mereka hanya mampu menjaga gawang bersih dua kali dalam 12 pertandingan terakhir.
Masalah ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Liam Rosenior untuk segera diatasi. Gol balasan Charlton tercipta dari situasi bola mati, sebuah momen yang pasti membuat Rosenior frustrasi. Pemain Chelsea dinilai tidak bereaksi cukup cepat untuk mengamankan bola kedua setelah kiper Filip Jorgensen melakukan penyelamatan awal yang hebat. Situasi ini dimanfaatkan oleh Miles Leaburn, yang merupakan jebolan akademi Chelsea, untuk mencetak gol melewati Jorgensen.
Emosi di Pinggir Lapangan
Di luar lapangan, Liam Rosenior tampil sebagai sosok yang tenang, percaya diri, dan santai. Namun, ia tidak ragu untuk menunjukkan emosinya saat pertandingan berlangsung. Ia terlihat menunjukkan kekecewaannya ketika serangan timnya gagal atau ketika pemain memilih opsi yang salah, terutama sebelum gol pertama tercipta.
Para penggemar dapat menyaksikan berbagai sisi Rosenior di bangku cadangan. Mulai dari perayaan gol dengan jabat tangan santai bersama staf pelatihnya, hingga ekspresi emosional seperti mengangkat tangan ke belakang kepala saat timnya hampir mencetak gol. Hal ini menunjukkan betapa ia begitu terlibat dan peduli dengan performa timnya.






