Operasi Bariatrik: Bukan Sekadar Jalan Pintas untuk Kurus
Operasi bariatrik sering dianggap oleh masyarakat sebagai cara cepat untuk menurunkan berat badan. Namun, dokter spesialis bedah menjelaskan bahwa konsep ini tidak sepenuhnya akurat. Dalam dunia medis, operasi ini sebenarnya merupakan terapi untuk mengatasi obesitas dan berbagai penyakit yang menyertainya.
Dr. dr. Adeodatus Yuda Handaya, Sp.B, Subsp.B.D(K), seorang dokter spesialis bedah digestif konsultan, menjelaskan bahwa tujuan utama dari operasi bariatrik adalah membantu pasien menjadi lebih sehat secara keseluruhan. Penurunan berat badan hanya menjadi bonus dari prosedur ini. Yang lebih penting adalah memperbaiki kondisi medis berisiko seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, gangguan sendi, hingga gangguan pernapasan saat tidur.
Obesitas Bukan Hanya Soal Penampilan
Dalam dunia kedokteran, obesitas telah dikategorikan sebagai penyakit kronis. Kondisi ini meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, mulai dari diabetes tipe 2, penyakit jantung, stroke, hingga perlemakan hati. Oleh karena itu, operasi bariatrik tidak ditujukan untuk semua orang yang ingin terlihat lebih langsing.
Ada kriteria medis ketat yang harus dipenuhi sebelum seseorang dinilai layak menjalani prosedur ini. “Tidak semua orang boleh operasi bariatrik. Kalau hanya ingin kurus tanpa indikasi medis, justru berisiko menimbulkan masalah baru, seperti kekurangan nutrisi dan vitamin,” ujar dr. Adeodatus.
Kriteria Pasien yang Membutuhkan Operasi Bariatrik
Secara umum, kelayakan operasi bariatrik ditentukan oleh indeks massa tubuh (IMT/BMI) dan adanya penyakit penyerta (komorbid). Beberapa kriteria yang biasanya dipertimbangkan antara lain:
- Orang dengan BMI ≥40, meski tanpa penyakit penyerta.
- Orang dengan BMI 30–34,9 yang disertai penyakit seperti diabetes, hipertensi, gangguan jantung, atau masalah sendi.
- Di negara Asia, batas BMI cenderung lebih rendah. Pasien dengan BMI di atas 28 dan memiliki komorbid juga bisa menjadi kandidat.
Namun, BMI bukan satu-satunya penilaian. Dokter juga akan melihat komposisi tubuh, kadar lemak, kondisi metabolik, serta riwayat usaha pasien menurunkan berat badan.
“Pasien yang dipertimbangkan operasi biasanya sudah mencoba diet dan olahraga, tapi tidak berhasil. Ada juga yang sebenarnya dianjurkan olahraga, tapi sendinya sudah bermasalah sehingga tidak memungkinkan,” jelas dokter yang berpraktik di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta ini.
Harus Melalui Proses Panjang dan Terencana
Operasi bariatrik bukan keputusan instan. Sebelum tindakan, pasien harus melalui proses persiapan yang komprehensif, mulai dari pemeriksaan medis menyeluruh, evaluasi nutrisi, hingga edukasi perubahan pola makan dan gaya hidup. Pasien juga perlu beradaptasi dengan asupan kalori yang lebih terkontrol sebelum operasi.
Tujuannya agar tubuh tidak “kaget” setelah kapasitas lambung diperkecil. “Operasi ini tidak berdiri sendiri. Ada tim dokter bedah, dokter gizi, hingga edukasi psikologis. Kalau persiapannya matang, hasilnya jauh lebih aman dan optimal,” ujarnya.
Bukan Jalan Pintas, Tapi Awal Perubahan Gaya Hidup
Dokter Adeodatus menegaskan, operasi bariatrik bukan solusi instan tanpa usaha lanjutan. Setelah operasi, pasien tetap harus menjalani pola makan sehat, kontrol nutrisi, dan aktivitas fisik bertahap. “Operasi ini membantu, tapi keberhasilannya sangat tergantung pada komitmen pasien untuk mengubah gaya hidup,” kata dia.
Dengan pemilihan pasien yang tepat dan persiapan yang matang, operasi bariatrik dapat menjadi langkah efektif untuk menurunkan risiko penyakit serius dan meningkatkan kualitas hidup dalam jangka panjang.






