Inspirasi dari Limbah Minyak Jelantah
Di Kabupaten Tegal, seorang guru bernama Sudiyanti memiliki ide kreatif untuk mengubah limbah minyak jelantah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ide ini muncul setelah melihat banyaknya limbah minyak jelantah yang dibuang sembarangan di rumah para murid dan di kantin sekolah sekitar.
Melalui inisiatifnya, Sudiyanti menciptakan Project Kilat, sebuah praktik baik yang merupakan singkatan dari Karya Inovasi Lilin Aromaterapi. Proyek ini bertujuan untuk mengajak siswa khususnya kelas VII membuat lilin aromaterapi menggunakan bahan dasar minyak jelantah.
Sudiyanti adalah guru mata pelajaran IPA di SMP Negeri 2 Pangkah, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Ia telah mengajar selama sekitar 15 tahun di sekolah tersebut. Menurutnya, alasan utama memilih minyak jelantah karena biasanya hanya dibuang begitu saja, yang justru merusak lingkungan.
Dalam wawancara dengan media, ia menjelaskan bahwa murid-murid diperlihatkan cuplikan video yang menunjukkan bahaya minyak jelantah jika dibuang ke saluran air atau tempat pembuangan sampah. Dari situ, ia mengajak murid untuk memanfaatkan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi melalui Project Kilat.
Manfaat Praktik Membuat Lilin Aromaterapi
Salah satu manfaat langsung dari proyek ini adalah murid belajar bagaimana berproses mengatasi masalah limbah khususnya minyak jelantah. Selain itu, mereka juga belajar bagaimana menemukan masalah, mendesain proyek, melakukan praktik langsung, dan mempresentasikan hasilnya.
Tujuan jangka panjang dari Project Kilat adalah agar produk lilin aromaterapi yang dibuat oleh anak-anak bisa dijual ke koperasi sekolah. Produk ini bisa digunakan sebagai suvenir, oleh-oleh, atau bahkan digunakan sendiri di rumah.
Dalam praktik pembuatan lilin aromaterapi, satu kelompok terdiri dari tiga hingga empat anak dan biasanya bisa membuat tiga lilin. Menurut Sudiyanti, hal ini menunjukkan bahwa bahan-bahan yang dianggap tidak berguna bisa memiliki nilai guna yang bermanfaat.
Peran Guru Sebagai Fasilitator
Sebagai fasilitator Tanoto Foundation, Sudiyanti menerapkan ilmu dan pengalaman yang diperoleh kepada murid di sekolah. Ia mengajak siswanya belajar bukan hanya transfer materi semata, tetapi bagaimana proses belajar berjalan.
Dalam hal ini, seperti praktik baik terlibat langsung membuat lilin aromaterapi, aktif di kelas, belajar cara berkomunikasi dan berkolaborasi dengan teman satu kelompok, serta merefleksikannya.
Menurut Sudiyanti, ketika belajar hanya sebatas materi tanpa praktik, maka kurang bermakna. Oleh karena itu, anak-anak diajak untuk praktik langsung dan mereka sangat antusias dalam prosesnya.
Pengalaman Siswa dalam Project Kilat
Siswi kelas VII J SMP Negeri 2 Pangkah, Kanza Atia, mengaku senang dan antusias saat praktik membuat lilin aromaterapi memanfaatkan limbah minyak jelantah. Menurutnya, minyak jelantah yang dibuang sembarangan bisa berdampak merusak lingkungan seperti menyumbat saluran air, mengurangi kadar oksigen air, dan merusak nutrisi tanah.
Kanza bersama teman-temannya yang lain membuat lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah yang cukup menarik karena berwarna-warni. Dalam praktiknya, mereka masih tetap dipandu dan diawasi oleh ibu Sudiyanti sebagai guru mapel.
Menurut Kanza, proyek ini sangat bagus karena memanfaatkan limbah minyak jelantah menjadi produk bermanfaat. Ia dan teman-temannya sangat antusias tiap kali praktik membuat lilin aromaterapi karena berguna dan bisa dijual.






