Warga Gunong Kong Masih Mengandalkan Perahu

Pembangunan Jembatan Bailey di Gunong Kong Masih Tunggu Respons Pemerintah

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagan Raya telah mengajukan permohonan pembangunan jembatan bailey untuk wilayah Gunong Kong atau Alue Wakie, Kecamatan Darul Makmur ke pemerintah pusat. Permohonan ini dilakukan karena masyarakat setempat terpaksa menggunakan perahu sebagai transportasi utama akibat hancurnya jembatan lama yang berupa rangka baja sepanjang 135 meter. Jembatan tersebut rusak parah akibat banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Nagan Raya, Irfanda Rinadi SSTP, menyampaikan bahwa saat ini warga masih bergantung pada perahu untuk menyeberang sungai menuju pusat kecamatan dan kabupaten. Irfanda juga mengungkapkan harapan agar pemerintah pusat dapat segera merespons permintaan pembangunan jembatan bailey tersebut.

Meski permohonan telah diajukan, hingga kini hampir dua bulan bencana melanda, respons dari pemerintah pusat belum juga datang. Hal ini membuat warga di wilayah Gunong Kong terus kesulitan dalam beraktivitas sehari-hari. Di satu dusun di Gunong Kong, terdapat sekitar 100 rumah yang terisolir akibat tidak adanya akses jalan setelah jembatan lama putus.

Upaya Sementara untuk Mengatasi Keterbatasan Akses

Sementara menunggu jawaban dari pemerintah pusat, pemerintah daerah hanya memastikan tersedia perahu untuk kebutuhan warga. Selain itu, sedang dilakukan pembersihan jalur darat dari Alue Wakie ke Lamie. Meskipun jaraknya cukup jauh, jalur tersebut diharapkan bisa digunakan sementara waktu sebagai akses mengeluarkan hasil pertanian dari dusun yang terisolir tersebut.

Irfanda Rinadi juga menjelaskan bahwa dampak bencana banjir bandang telah menyebabkan sejumlah rumah hancur di Gunong Kong. Saat ini, warga yang menjadi korban bencana mengungsi ke rumah keluarganya. Namun, pemerintah tidak membangun hunian sementara bagi korban yang rumahnya rusak. Sebaliknya, pemerintah langsung mengusulkan pembangunan hunian tetap (huntap).

Pembangunan Hunian Tetap untuk Korban Bencana

Huntara hanya dibangun di Beutong Ateuh sebanyak 128 unit untuk 674 kepala keluarga (KK), dengan rincian 1 huntara ditempati oleh 5 KK. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk memberikan tempat tinggal yang lebih permanen bagi para korban bencana.

Selain itu, pemerintah daerah juga sedang melakukan pemetaan terhadap wilayah-wilayah yang terdampak banjir untuk menentukan prioritas pembangunan infrastruktur. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa kebutuhan dasar masyarakat seperti akses jalan, air bersih, dan listrik dapat segera terpenuhi.

Tantangan dan Harapan Masyarakat

Masyarakat setempat berharap agar pemerintah pusat segera merespons permohonan pembangunan jembatan bailey. Mereka juga berharap agar langkah-langkah darurat seperti penyediaan perahu dan pembersihan jalur darat dapat terus dilakukan hingga solusi jangka panjang ditemukan.

Dengan kondisi yang masih sulit, masyarakat Gunong Kong tetap berusaha bertahan dengan segala keterbatasan yang ada. Mereka berharap agar pemerintah dapat segera mengambil tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi infrastruktur dan memastikan kehidupan sehari-hari dapat berjalan dengan lancar.


Pos terkait