Bendung Leko Pancing Berstatus Waspada Akibat Intensitas Hujan Tinggi
Maros, Sulawesi Selatan – Debit air di Bendung Leko Pancing, yang berlokasi di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, terpantau masih berada pada level tinggi dan berstatus waspada. Kondisi ini dilaporkan pada Senin, 12 Januari 2026, sebagai respons terhadap curah hujan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Petugas Operasi Bendung Leko Pancing, M Syamsir, menjelaskan bahwa ketinggian air saat ini mencapai 70 sentimeter di atas mercu bendungan. Mercu merupakan bagian krusial dari bendungan yang berfungsi untuk mengatur ketinggian muka air.
“Secara normal, debit air idealnya berada di kisaran 0 hingga 50 sentimeter di atas mercu,” ujar Syamsir. “Namun, ketika ketinggian air mencapai antara 50 hingga 100 sentimeter di atas mercu, bendungan tersebut dinyatakan dalam status waspada.”
Tingkatan status bendungan selanjutnya dibagi menjadi dua kategori. Status siaga diberlakukan apabila ketinggian air mencapai 100 hingga 200 sentimeter di atas mercu. Sementara itu, status awas ditetapkan jika ketinggian air telah melebihi 200 sentimeter.
“Dengan ketinggian air saat ini yang mencapai 70 sentimeter di atas mercu, maka Bendung Leko Pancing masih berada dalam status waspada,” tegas Syamsir.
Lebih lanjut, Syamsir merinci volume air yang melintasi mercu bendungan. Debit air yang meluap melalui mercu tercatat sebesar 130.919 liter per detik. Di sisi lain, air yang masuk ke pintu pengambilan atau yang dikenal sebagai intake tercatat sebesar 2.679 liter per detik.
“Debit air yang masuk ke intake inilah yang nantinya akan dialirkan melalui saluran-saluran untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat serta untuk keperluan irigasi pertanian,” jelasnya.
Menurut analisis petugas, tingginya debit air di Bendung Leko Pancing ini merupakan konsekuensi langsung dari intensitas hujan yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir di wilayah Maros. Syamsir memperkirakan bahwa debit air masih berpotensi mengalami peningkatan lebih lanjut, terutama jika hujan terus mengguyur wilayah tersebut.
Prediksi BMKG: Musim Hujan di Sulsel Berlangsung Hingga Maret 2026
Kondisi peningkatan debit air di Bendung Leko Pancing sejalan dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai musim hujan di Sulawesi Selatan. Menurut prakiraan BMKG, wilayah Sulawesi Selatan diperkirakan masih akan berada dalam puncak musim hujan hingga bulan Maret tahun 2026.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sulawesi Selatan, Syamsul Bahri, mengonfirmasi bahwa saat ini wilayah Sulsel memang tengah memasuki fase puncak musim hujan. Fase ini ditandai dengan tingginya akumulasi curah hujan bulanan yang turun.
Selain curah hujan yang tinggi, puncak musim hujan ini juga berpotensi disertai dengan fenomena cuaca lain seperti angin kencang dan petir dengan intensitas yang cukup signifikan.
Namun demikian, Syamsul Bahri memberikan catatan penting terkait intensitas hujan yang diperkirakan tidak akan mencapai tingkat yang ekstrem. Hal ini dikarenakan tidak adanya pengaruh kuat dari fenomena iklim global seperti El Nino maupun La Nina yang sedang mendominasi.
“Kondisi cuaca saat ini cenderung berada pada fase netral, tanpa adanya pengaruh dominan dari El Nino maupun La Nina,” ujar Syamsul Bahri saat dikonfirmasi pada Minggu, 11 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa sejumlah wilayah di pesisir barat Sulawesi Selatan, termasuk Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, dan Barru, telah secara resmi memasuki periode puncak musim hujan mereka.
Imbauan Mitigasi Bencana dan Antisipasi Banjir
Menyikapi potensi peningkatan risiko bencana hidrometeorologi, Syamsul Bahri memberikan imbauan kepada pemerintah daerah, khususnya melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk segera mengimplementasikan langkah-langkah antisipatif. Salah satu langkah krusial yang disarankan adalah melakukan pemangkasan terhadap pohon-pohon yang dinilai rawan tumbang akibat angin kencang yang kerap menyertai hujan lebat. Selain itu, pembersihan saluran air secara menyeluruh juga menjadi prioritas.
“Kami sangat mengimbau kepada seluruh pemangku kepentingan, termasuk BPBD, untuk segera melakukan pemangkasan pohon-pohon yang berpotensi tumbang, mengingat curah hujan yang disertai angin kencang dapat menimbulkan dampak kerusakan yang serius,” tegas Syamsul Bahri.
Tidak hanya kepada pemerintah, imbauan juga ditujukan kepada masyarakat luas. Masyarakat diminta untuk secara proaktif menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka dan memastikan bahwa sistem drainase yang ada berfungsi dengan optimal. Pentingnya menjaga kebersihan saluran air dan drainase ditekankan sebagai upaya pencegahan awal terhadap potensi banjir.
“Musim hujan ini dapat diibaratkan seperti air yang ‘mudik’ kembali ke daerah kita. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk memastikan bahwa selokan-selokan dibersihkan, drainase dikeruk, dan sungai-sungai dinormalisasi. Tujuannya adalah agar aliran air dapat berjalan lancar dan mencegah terjadinya luapan yang berujung pada banjir,” tutup Syamsul Bahri.
Langkah-langkah mitigasi ini diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif dari musim hujan yang intens dan menjaga keselamatan serta kesejahteraan masyarakat di Sulawesi Selatan.






