.CO.ID, WASHINGTON — Seorang jurnalis dan komentator politik Amerika Serikat yang telah lama tinggal di China menghadapi dakwaan pidana karena diduga bertindak sebagai agen pemerintah China tanpa melakukan pendaftaran sebagaimana diwajibkan hukum federal AS.
Thomas Pauken II ditangkap FBI pada Februari lalu dan hingga kini masih ditahan. Pengadilan federal di Alexandria, Virginia, telah menjadwalkan sidang pengakuan bersalah sebelum dakwaan pada Jumat waktu setempat, sebuah langkah yang kerap mengindikasikan adanya pembahasan kesepakatan dengan jaksa.
Menurut dokumen FBI yang diajukan ke pengadilan, Pauken diduga menyiapkan laporan-laporan yang oleh kontaknya di China disebut akan diteruskan kepada Presiden China Xi Jinping. Ia juga disebut menjalani tes pendeteksi kebohongan atas permintaan pihak penghubungnya dari China.
Agen Khusus FBI Timothy Healy dalam keterangannya menyebut Pauken pernah memberikan telepon seluler dan laptop kepada seorang individu di Amerika Serikat yang sedang mencari pekerjaan di pemerintahan Presiden Donald Trump, sebagaimana diberitakan Politico pada Sabtu (29/5/2026).
Pauken mengakui kepada FBI bahwa dirinya menolak memberikan informasi rahasia kepada kontaknya di China. Namun, menurut dokumen pengadilan, ia memperkirakan ada kemungkinan besar individu lain yang diperkenalkannya kepada pihak China akan menyerahkan informasi sensitif meskipun telah diperingatkan untuk tidak melakukannya.
Dokumen pengadilan menyebut individu tersebut akhirnya bekerja di sebuah lembaga pemerintah AS, meski bukan pada posisi yang awalnya diincar.
Tawaran Bonus dan Laporan untuk Xi Jinping
FBI mengungkap bahwa ketika Pauken kembali ke Amerika Serikat dari China pada Februari, aparat memantau pertemuannya dengan individu yang sebelumnya menerima telepon dan laptop darinya.
Dalam pertemuan di sebuah hotel di Washington itu, Pauken disebut memberikan kartu SIM dan menawarkan bonus sebesar 10 ribu dolar AS apabila individu tersebut bersedia bekerja sama dengan kontak China yang dikenalnya.
Menurut dokumen FBI, kerja sama itu mencakup penyusunan satu laporan setiap pekan yang diklaim akan digunakan untuk memengaruhi kebijakan dan dibaca langsung oleh Xi Jinping.
Tak lama setelah pertemuan tersebut, FBI melakukan penangkapan terhadap Pauken.
Bantah Tuduhan Spionase
Kuasa hukum Pauken, Charles Burnham, menegaskan kliennya tidak didakwa atas tuduhan spionase maupun pencurian informasi rahasia.
“Sangat penting untuk memahami bahwa Tuan Pauken tidak didakwa dengan tuduhan memata-matai atau menyalahgunakan informasi rahasia,” kata Burnham.
Menurut dia, pemerintah hanya menuduh Pauken melakukan pekerjaan profesional untuk pemerintah asing tanpa memenuhi kewajiban administratif yang dipersyaratkan hukum AS.
Pihak Kejaksaan Amerika Serikat sejauh ini menolak memberikan komentar mengenai kasus tersebut.
Diduga Pernah Digunakan sebagai Agen Ganda
Dokumen pengadilan juga mengungkap bahwa FBI sempat berupaya memanfaatkan Pauken sebagai agen ganda.
Setelah menginterogasinya pada Januari 2025, aparat AS tidak langsung melakukan penangkapan. Sebaliknya, Pauken disebut diminta melanjutkan aktivitasnya seperti biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak China.
Menurut FBI, perubahan mendadak dalam pola aktivitas Pauken dikhawatirkan dapat membahayakan keselamatannya atau memicu perhatian dari Kementerian Keamanan Negara China.
Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara
Pauken menghadapi satu dakwaan pidana karena diduga bertindak atas nama pemerintah asing di Amerika Serikat tanpa mendaftarkan diri kepada Jaksa Agung AS sebagaimana diwajibkan undang-undang federal.
Pelanggaran tersebut membawa ancaman hukuman maksimal hingga 10 tahun penjara.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya perhatian pemerintah AS terhadap aktivitas pengaruh asing, khususnya yang berkaitan dengan China.
Putra Politikus Partai Republik
Thomas Pauken II dikenal dengan nama pena Tom McGregor. Ia merupakan penulis buku US vs China: From Trade War to Reciprocal Deal yang terbit pada 2019 dan mengulas hubungan perdagangan AS-China.
Ia juga merupakan putra mendiang politikus Partai Republik, Tom Pauken, yang pernah bertugas di pemerintahan Presiden Ronald Reagan dan memimpin Partai Republik Texas pada 1994-1997.
Menurut dokumen FBI, Pauken menggunakan nama samaran atas permintaan ayahnya yang tidak ingin dikaitkan dengan aktivitas putranya di China.
Selama berada di China, Pauken diketahui bekerja untuk sejumlah media milik negara, termasuk China Radio International, China Central Television, China Global Television Network (CGTN), dan kantor berita Xinhua.
Operasi Senyap yang Sulit Dideteksi
Kasus Thomas Pauken memperlihatkan bagaimana persaingan antarnegara pada era modern tidak selalu berlangsung melalui operasi mata-mata yang identik dengan pencurian dokumen rahasia atau penyusupan ke fasilitas militer. Dalam banyak kasus, aktivitas yang menjadi perhatian aparat keamanan justru berlangsung secara senyap dan sulit dikenali oleh masyarakat umum.
Berbeda dengan gambaran spionase pada masa Perang Dingin, operasi pengaruh modern sering memanfaatkan hubungan profesional, jaringan bisnis, akademisi, media, hingga tokoh yang memiliki akses kepada pengambil kebijakan. Tujuannya bukan selalu memperoleh rahasia negara, melainkan membangun saluran informasi dan pengaruh yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Inilah yang membuat aktivitas semacam itu sulit dideteksi. Para pelakunya tidak selalu menggunakan identitas palsu, tidak berpindah-pindah lokasi secara rahasia, dan sering kali tetap menjalani profesi yang terlihat normal di hadapan publik. Namun, di balik aktivitas tersebut dapat muncul upaya membangun akses terhadap individu-individu yang dianggap memiliki nilai strategis.
Karena sifatnya yang tidak mencolok, badan-badan intelijen di berbagai negara kini semakin memberi perhatian terhadap apa yang disebut sebagai operasi pengaruh (influence operations). Aktivitas ini dinilai mampu memengaruhi proses pengambilan keputusan, arah kebijakan, hingga persepsi publik tanpa harus melakukan tindakan spionase konvensional.
Bagi aparat kontraintelijen, tantangan terbesar bukan hanya membuktikan adanya pelanggaran hukum, tetapi juga membedakan antara aktivitas profesional yang sah dengan upaya yang berpotensi menguntungkan kepentingan negara asing. Garis pemisah antara keduanya sering kali sangat tipis dan memerlukan penyelidikan yang panjang.
Kasus Pauken sendiri menjadi contoh bagaimana persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan China semakin meluas ke ranah yang tidak selalu terlihat oleh publik. Di tengah meningkatnya rivalitas kedua negara, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada perang dagang, teknologi, atau militer, tetapi juga pada jaringan pengaruh yang bekerja secara diam-diam di balik layar.
Karena itulah, banyak pengamat menilai bahwa konflik kekuatan besar abad ke-21 bukan hanya soal siapa yang memiliki senjata atau ekonomi paling kuat, melainkan juga siapa yang mampu membangun pengaruh paling efektif tanpa terlihat. Dan justru karena berlangsung secara senyap, operasi semacam ini sering dianggap sebagai salah satu bentuk persaingan geopolitik yang paling sulit dideteksi.

Ketika Persaingan AS-China Tak Lagi Soal Perang Dagang
Kasus yang menjerat Thomas Pauken menjadi salah satu gambaran bagaimana persaingan Washington dan Beijing semakin memasuki ranah yang lebih sensitif, yakni pengaruh politik, keamanan nasional, dan intelijen. Jika sebelumnya kedua negara bertarung untuk memperebutkan dominasi perdagangan dunia, kini mereka juga saling mencurigai adanya upaya memperluas pengaruh di dalam institusi dan masyarakat masing-masing.
Perubahan tersebut terjadi seiring meningkatnya ketegangan antara dua kekuatan terbesar dunia itu. Persaingan tidak lagi terbatas pada tarif barang atau akses pasar, tetapi juga mencakup teknologi canggih, kecerdasan buatan, semikonduktor, keamanan siber, hingga pengumpulan informasi strategis. Setiap sektor kini dipandang memiliki nilai penting dalam menentukan keseimbangan kekuatan global pada masa depan.
Di Washington, China semakin sering diposisikan sebagai pesaing strategis utama Amerika Serikat. Karena itu, aparat keamanan dan lembaga intelijen AS memberikan perhatian besar terhadap aktivitas yang diduga berkaitan dengan upaya pengaruh asing. Sementara di Beijing, berbagai langkah pembatasan dan tekanan dari Amerika kerap dipandang sebagai upaya menghambat kebangkitan China sebagai kekuatan global.
Akibatnya, hubungan kedua negara memasuki fase yang lebih kompleks dibandingkan era perang dagang beberapa tahun lalu. Persaingan kini berlangsung di banyak lini secara bersamaan, mulai dari ekonomi, teknologi, diplomasi, militer, hingga pertarungan memperebutkan pengaruh dan informasi.
Bagi dunia internasional, perkembangan ini menunjukkan bahwa rivalitas AS-China bukan lagi sekadar sengketa perdagangan antara dua negara. Konflik tersebut telah berkembang menjadi kompetisi global yang berpotensi memengaruhi arah ekonomi, keamanan, dan politik internasional dalam jangka panjang. Kasus-kasus seperti yang menimpa Pauken menjadi salah satu contoh bagaimana persaingan dua negara adidaya itu kini semakin terasa bahkan jauh dari medan perang dan meja perundingan dagang.






