Abu Sibreh: Jalan Ulama Aceh dari Keluarga Biasa

Abu Sibreh: Sang Ulama Rujukan yang Lahir dari Kesederhanaan dan Ketekunan

Perjalanan seorang ulama seringkali diasosiasikan dengan garis keturunan atau latar belakang keluarga yang sudah terbiasa berkecimpung dalam dunia keagamaan. Namun, kisah Tgk H Faisal Ali, yang akrab disapa Abu Sibreh, membuktikan bahwa jalan menuju keulamaan dapat ditempuh melalui ketekunan, kesungguhan, dan pilihan hidup yang matang, terlepas dari asal-usul keluarga. Abu Sibreh kini dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah, sebuah lembaga pendidikan yang telah melahirkan banyak generasi penerus.

Kisah Abu Sibreh dimulai dari sebuah desa sederhana di Lamno, Aceh Jaya. Lahir pada 7 Januari 1968 di Desa Janguet, Kecamatan Jaya, ia tumbuh dalam keluarga yang tidak memiliki latar belakang sebagai teungku atau pendiri pesantren. Jauh dari bayang-bayang keturunan ulama besar, masa kecilnya dihabiskan di lingkungan yang bersahaja. “Dari urutan dua ke atas yang sekarang ini, yaitu ayah dan kakek kami dalam keluarga itu tidak ada yang memang mendalami tentang ilmu agama secara khusus. Jadi kami (saya) yang mendalami itu sendiri,” ungkapnya, menandakan bahwa jalan keulamaan yang ia tempuh adalah hasil dari usahanya sendiri.

Benih Kecintaan pada Dunia Dayah

Meskipun bukan berasal dari keluarga pesantren, benih kecintaan Abu Sibreh pada dunia dayah tumbuh sejak usia dini. Rumahnya yang berdekatan dengan Pesantren Budi Lamno memberinya kesempatan untuk sering bermain di sekitar lingkungan pesantren. Ia menyaksikan secara langsung kehidupan para santri, interaksi mereka, serta suasana belajar mengajar yang khidmat. Kedekatan ini perlahan menumbuhkan sebuah tekad kuat dalam dirinya untuk mendalami ilmu agama.

Keputusan besar diambil pada tahun 1985. Setelah sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA) selama kurang lebih enam bulan, Abu Sibreh memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah umum. Ia memilih jalan hidup yang berbeda, yakni menuntut ilmu agama secara mendalam. Langkahnya ini membawanya ke LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga, Bireuen. Di sana, ia tidak hanya menempuh pendidikan dari tingkat dasar hingga jenjang yang lebih tinggi, tetapi juga dipercaya untuk turut mengajar. Total pengabdiannya di Samalanga terhitung sangat panjang, mencapai hampir 15 tahun.

Pengabdian, Organisasi, dan Kepemimpinan

Pengalaman belajar di LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga tidak hanya memperkaya ilmu agama Abu Sibreh, tetapi juga membentuk karakter kepemimpinannya. Selama menempuh pendidikan, ia aktif dalam berbagai organisasi santri. Pengalaman ini memberinya bekal berharga dalam mengelola dan memimpin.

Beberapa posisi penting yang pernah dijabatnya antara lain:
* Ketua Ikatan Santri Kecamatan Lamno Jaya (1991–1993)
* Ketua Ikatan Santri MUDI Mesra Aceh Barat Selatan (1992–1998)
* Ketua Koperasi Al-Barkah Samalanga (1994–1998)
* Sekretaris Umum Pesantren MUDI Mesra Samalanga
* Wakil Sekretaris Rabithah Alumni MUDI Mesra
* Ketua Nadhiriyah Rabithah Thaliban (1999–2000)
* Sekretaris Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) periode 2007–2014

Pengalaman organisasi yang beragam ini membantunya memahami dinamika sosial, mengasah kemampuan berkomunikasi, serta membangun jaringan yang kuat.

Awal Perjuangan Mendirikan Pesantren

Tahun 1999 menjadi tonggak sejarah baru dalam kehidupan Abu Sibreh. Pada tahun inilah berdirinya pesantren yang kini ia pimpin, Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah. Berawal dari sebuah wakaf tanah dari keluarganya, impian untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan agama mulai terwujud. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2000, proses belajar-mengajar secara resmi dimulai.

Pada awalnya, pesantren ini hanya memiliki tujuh orang santri. Fasilitas yang tersedia sangat terbatas. “Jadi fasilitas yang pertama yang ada itu hanya satu balai (tempat mengaji). Di situ tempat belajar, di situ tempat sholat, di situ juga tempat tidur, juga sekaligus tempat masak,” kenangnya dengan nada haru. Abu Sibreh hidup bersama para santri dalam keterbatasan selama lebih dari tiga tahun. Ia memprioritaskan pendirian dan penguatan pesantren di atas kebutuhan pribadinya, bahkan sebelum ia berkeluarga.

Dari satu balai sederhana, Pondok Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah terus berkembang pesat. Kini, pesantren ini telah bertransformasi menjadi sebuah yayasan pendidikan yang komprehensif, menaungi lima lembaga pendidikan:
* Dayah Salafiyah
* SMP Islam Terpadu
* SMK Mahyal Ulum
* Sekolah Tinggi Ilmu Syariah
* Unit pemberdayaan ekonomi yang meliputi perkebunan dan peternakan.

“Jadi ada sekitar lima lembaga sekarang ini di bawah Yayasan Mahyal Ulum Al-Aziziyah,” ujarnya bangga.

Mengabdi Tanpa Mengejar Kekuasaan

Selain kiprahnya di dunia pendidikan, Abu Sibreh juga tidak lepas dari dinamika sosial dan politik di Aceh. Ia terlibat dalam berbagai momentum penting, termasuk pada masa Referendum Aceh tahun 1999 serta turut berperan dalam pembentukan Rabithah Thaliban dan SIRA. Namun, bagi Abu Sibreh, keterlibatannya dalam berbagai isu sosial dan politik selalu didasari oleh tanggung jawab moral seorang ulama, bukan ambisi politik pribadi.

Ia kerap kali mendapatkan tawaran untuk terjun ke dunia politik praktis. Namun, ia dengan tegas memilih untuk tetap berada di jalur pengabdian, fokus pada pengembangan ilmu agama dan pendidikan. “Dalam bahasa Aceh itu ada kata-kata ‘ngui ban laku tuboh, pajoh ban laku atra’. Kita harus tahu diri dalam konteks tertentu,” tegasnya, menggambarkan prinsipnya untuk memahami posisi dan peran diri.

Abu Sibreh menolak menjadikan perbedaan pandangan politik sebagai pemecah belah umat. Ia selalu memegang teguh prinsip persatuan dan kemaslahatan umat sebagai landasan utama dalam setiap tindakannya. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan masyarakat dan para ulama kepadanya semakin besar. Ia dipercaya mengemban berbagai amanah penting, seperti Wakil Ketua Pembina Forum Komunikasi Ulama Aceh Besar, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, dan Ketua DPW Nahdlatul Ulama Aceh.

Regenerasi dan Pesan untuk Generasi Muda

Dalam memandang masa depan pesantren, Abu Sibreh memiliki pandangan yang bijak terkait regenerasi. Ia tidak pernah memaksakan anak-anaknya untuk secara otomatis meneruskan estafet kepemimpinan pesantren. Ia memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih jalan hidup masing-masing. Namun, ia selalu berharap agar ada generasi yang siap menjaga dan terus mengembangkan lembaga pendidikan yang telah dirintisnya.

“Prinsipnya, lembaga pendidikan ini harus tetap jalan walaupun kita ini sudah tidak ada lagi di bumi ini,” ujarnya, menunjukkan komitmennya pada keberlanjutan institusi.

Kepada generasi muda secara umum, Abu Sibreh selalu menekankan pentingnya menuntut ilmu. Ia berpesan, “Ilmu dulu, uang itu akan mengikuti.” Pesan ini menggarisbawahi keyakinannya bahwa penguasaan ilmu pengetahuan, khususnya ilmu agama, adalah fondasi utama untuk meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

Kisah perjalanan Abu Sibreh, dari seorang pemuda dari keluarga sederhana di Lamno hingga menjadi ulama rujukan di Aceh, adalah bukti nyata bahwa pengabdian sejati lahir dari kesungguhan hati dan kerja keras, bukan semata-mata warisan atau garis keturunan. Dengan kesabaran, ketekunan, dan keimanan yang teguh, ia telah menapaki jalan panjang sebagai seorang ulama yang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan, persatuan umat, dan kemaslahatan masyarakat luas.

Pos terkait