JAKARTA,
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, baru-baru ini memberikan pandangannya mengenai perdebatan seputar pohon kelapa sawit dan fungsinya dalam menyerap karbon. Dalam sebuah acara di Jakarta, Anies menyoroti argumen yang menyamakan pohon kelapa sawit dengan jenis pohon lainnya, hanya karena keduanya memiliki daun dan mampu melakukan fotosintesis.
Perbedaan Mendasar: Hutan Tropis vs. Perkebunan Sawit
Anies menjelaskan bahwa secara teknis, pohon kelapa sawit memang melakukan fotosintesis dan menyerap air layaknya pohon di hutan tropis. Namun, ia menegaskan bahwa kemampuan dan fungsinya sangat berbeda.
“Secara teknis memang benar, sawit pun memang melakukan fotosintesis. Tetapi, apakah berarti perkebunan sawit bisa menggantikan hutan hujan tropis? Jawabannya tegas, tidak bisa,” ujar Anies.
Ia memberikan perbandingan yang mencolok: hutan hujan tropis memiliki kemampuan menyimpan karbon hingga sepuluh kali lipat lebih banyak dibandingkan perkebunan kelapa sawit. Perbedaan ini disebabkan oleh usia pohon di hutan yang bisa mencapai ratusan tahun, memungkinkan penyerapan dan penyimpanan karbon secara maksimal di berbagai bagian pohon, mulai dari daun, batang, hingga akarnya.
“Sawit setelah 25 tahun ditebang diganti. Sehingga siklusnya pendek, tahan karbonnya terbatas,” jelas Anies, menyoroti siklus tanam yang pendek pada kelapa sawit yang membatasi potensi penyimpanan karbon jangka panjang.
Lebih dari Sekadar Karbon: Peran Ekologis Hutan
Lebih lanjut, Anies menguraikan bahwa perbandingan antara hutan dan perkebunan sawit tidak hanya berhenti pada penyerapan karbon. Ia menyoroti peran vital sistem perakaran hutan yang kompleks. Akar-akar pohon di hutan memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap air, menahan tanah agar tidak longsor, dan bahkan mengatur aliran sungai.
Sebaliknya, pohon kelapa sawit memiliki sistem perakaran yang dangkal dan cenderung menyebar secara horizontal. Kondisi ini menyebabkan air hujan tidak terserap secara optimal, melainkan mengalir di permukaan tanah. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko banjir dan erosi, terutama saat curah hujan tinggi.
“Ketika bicara soal hutan, bukan hanya masalah banjir yang perlu disorot. Ada ekosistem yang perlu dipertimbangkan,” tegas Anies.
Ancaman Terhadap Keanekaragaman Hayati
Aspek krusial lainnya yang diangkat Anies adalah dampak perkebunan sawit terhadap keanekaragaman hayati. Ia menyoroti nasib satwa liar yang mendiami hutan tropis.
“Bagaimana nasib orang utan, harimau Sumatra, gajah badak. Mereka semua belum bisa hidup di perkebunan,” kata Anies.
Ia menekankan bahwa hewan-hewan yang telah beradaptasi dengan lingkungan hutan tidak dapat serta-merta dipindahkan dan diharapkan bertahan hidup di perkebunan sawit. Merujuk pada catatan seorang ahli biologi yang tidak disebutkan namanya, Anies menyampaikan bahwa hanya sekitar 15 persen dari spesies hutan yang mampu beradaptasi dan hidup di kawasan perkebunan, sementara 85 persen lainnya tidak dapat bertahan.
Oleh karena itu, Anies berpendapat bahwa pihak-pihak yang menyamakan pohon kelapa sawit dengan pohon lain, hanya berdasarkan kemampuan fotosintesis, perlu mendapatkan koreksi pemahaman.
Latar Belakang Pernyataan Anies: Pidato Presiden Prabowo
Pernyataan Anies Baswedan ini muncul setelah Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga pernah menyinggung soal kebun sawit. Pada akhir Desember 2024, Presiden Prabowo menyatakan bahwa penambahan luas lahan kelapa sawit tidak perlu dikhawatirkan akan menyebabkan deforestasi.
Menurut pandangan Presiden Prabowo saat itu, tuduhan bahwa lahan sawit identik dengan deforestasi adalah keliru. Ia berargumen bahwa pohon kelapa sawit, layaknya pohon pada umumnya, juga menyerap karbon dioksida.
“Saya kira ke depan kita harus tambah tanam kelapa sawit. Enggak usah takut apa itu katanya membahayakan, deforestation, namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?” ujar Presiden Prabowo dalam sebuah acara perencanaan pembangunan nasional.
Ia menambahkan, “Benar enggak, kelapa sawit itu pohon, ada daunnya kan? Dia menyerap karbondioksida, dari mana kok kita dituduh yang boten-boten saja itu orang-orang itu.”
Presiden Prabowo juga mengungkapkan bahwa banyak negara yang bergantung pada sumber daya alam Indonesia, termasuk minyak kelapa sawit, dan ia pernah merasakan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke luar negeri. Pernyataan Presiden Prabowo tersebut kemudian memicu berbagai tanggapan dan diskusi, termasuk yang disampaikan oleh Anies Baswedan.






