Saya Tak Bisa, Kisah Heroik Mayang Selamatkan Anak Terbawa Arus di Pantai Ujung Karang

Kehilangan Dua Bocah di Pantai Ujung Karang

Pada hari Sabtu, 18 April 2026, sekelompok orang yang sedang piknik di Pantai Ujung Karang, belakang kampus UBH, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, menyaksikan kejadian tragis. Saat itu, Mayang bersaudara dan temannya melihat dua bocah hanyut di laut. Kejadian ini terjadi saat mereka sedang menikmati pemandangan pantai sambil makan bersama anak-anak masing-masing.

Empat orang yang menjadi saksi mata adalah Annisa Nurfenti (30), Mayang Permata Sari (28), Dian Milasari Eka Putri (37), dan Sri Puji Astuti (33). Mereka biasa berkumpul setiap sore untuk berpiknik dan menghabiskan waktu bersama. Pada hari kejadian, mereka juga duduk di batu pinggir pantai sembari menyuapi anak-anak makan.

Saat itu, datang segerombolan bocah SD, termasuk dua korban hanyut, yakni Rasyid (8) dan Zafran Al Malik Akbar (9). Awalnya, Mayang dan teman-temannya mencoba melarang mereka untuk berenang. Namun, bocah-bocah tersebut tidak mengindahkan larangan mereka dan langsung pergi ke tepi pantai.

Ketika itu, kondisi laut sedang surut. Mayang dan keluarganya melanjutkan makan. Beberapa menit kemudian, satu dari enam anak tersebut terseret ombak. Dua di antara mereka berenang di pinggir pantai, sementara empat lainnya berenang lebih jauh ke tengah laut. Dua dari empat anak tersebut akhirnya hanyut karena ombak yang besar.

Mayang langsung memberitahu saudara dan temannya. Mereka lalu terjun ke laut untuk menyelamatkan korban. Makanan yang sedang mereka santap harus ditinggalkan. Namun, ombak yang besar dan banyaknya karang membuat mereka sulit mendekati korban.

“Saya ingin menyelamatkan, namun posisinya semakin ke tengah, banyak karang dan di balik karang airnya dalam. Saya tak sanggup, apalagi perempuan,” ujar Mayang.

Sementara itu, Annisa, Dian, dan Sri meminta pertolongan warga sekitar dan nelayan setempat. Mereka meminjam ban dalam untuk membantu pencarian. Bantuan dari nelayan datang, tetapi dua korban sudah hilang akibat pasang air laut.

Bantuan juga datang dari mahasiswa UNP yang sedang berada di kampus UBH. Mereka berenang menyelamatkan korban hingga kakinya terluka. Namun, korban tidak berhasil diselamatkan karena sudah terbawa arus ombak ke tengah laut.

Hingga pencarian hari ketujuh, korban masih belum ditemukan. Mayang beserta saudara dan temannya masih memikirkan mereka. Mereka ingin mencoba menyelamatkan, hanya saja kondisi laut yang tidak memungkinkan. Hingga kini, mereka hanya berharap jasad mereka bisa ditemukan.

“Harapan saya dan yang lainnya bisa ditemukan jasad mereka, karena masih terbayang-bayang hingga sekarang,” tambahnya.

Kesaksian yang sama juga diberikan oleh Dian, Annisa, dan Sri saat ditemui di Pantai Ujung Karang pada Sabtu (25/4/2026). Mereka mengungkapkan kisah yang sama dengan Mayang, mencoba menyelamatkan namun kondisi laut tak memungkinkan. Mereka hanya mampu meminta tolong kepada warga dan nelayan setempat untuk membantu korban hanyut.

Peristiwa yang Menyedihkan

Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran masyarakat tentang bahaya berenang di tempat yang tidak aman. Selain itu, juga menunjukkan betapa pentingnya tindakan cepat dan koordinasi dalam situasi darurat seperti ini.


Pos terkait