Sentimen Pasar Global Tertekan oleh Ketegangan Iran, Aset Berisiko Merosot
Perdagangan di pasar Asia pada hari Senin diwarnai oleh gelombang kekhawatiran investor, yang menyebabkan mata uang dan saham dari pasar negara berkembang mengalami penurunan tajam. Pemicu utama di balik sentimen negatif ini adalah memanasnya ketegangan di Iran dan lonjakan harga minyak mentah, yang secara kolektif membebani aset-aset berisiko.
Indeks mata uang pasar negara berkembang tercatat merosot 0,5 persen, menandai sesi penurunan kedua berturut-turut. Pelemahan ini seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat yang semakin dominan. Di antara mata uang negara berkembang, peso Filipina dan dolar Taiwan menunjukkan penurunan terbesar, mencerminkan dampak langsung dari gejolak geopolitik ini. Pasar saham Korea Selatan sendiri memilih untuk tutup, menambah ketidakpastian di kawasan. Secara keseluruhan, saham pasar negara berkembang mengalami penurunan hingga 1 persen, sebuah kemerosotan yang paling signifikan dalam lebih dari dua minggu terakhir.

Escalation of conflict in Iran has sent shockwaves across various sectors, impacting not only oil and shipping but also air travel.
Meningkatnya ketegangan di Iran, yang kini telah menyebar melampaui batas negara tersebut, menimbulkan dampak berantai pada berbagai sektor ekonomi. Mulai dari industri minyak bumi, sektor perkapalan, hingga industri perjalanan udara, semuanya merasakan getaran dari konflik ini. Kenaikan tajam harga minyak mentah Brent, yang sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun sebelum sedikit mereda, menjadi salah satu indikator utama ketidakpastian yang terjadi.
Di tengah ketidakpastian ini, investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Dolar AS dan emas mengalami lonjakan permintaan, karena investor berbondong-bondong mencari perlindungan nilai aset mereka. Fenomena ini, sayangnya, berdampak negatif pada mata uang pasar negara berkembang, sekaligus memicu kekhawatiran akan potensi inflasi yang lebih tinggi di masa mendatang.
Brendan McKenna, seorang ahli strategi pasar negara berkembang di Wells Fargo di New York, menggambarkan situasi ini sebagai “guncangan yang membuat pasar negara berkembang melemah.” Ia menambahkan bahwa guncangan ini, dikombinasikan dengan persepsi bahwa pasar negara berkembang (EM) saat ini dinilai terlalu tinggi dan kepemilikan investor sudah terlalu banyak, seharusnya memicu aksi jual di awal konflik.
Negara Berkembang Rentan Terhadap Lonjakan Harga Minyak
Beberapa negara berkembang yang memiliki ketergantungan tinggi pada impor minyak mentah diprediksi akan menghadapi tekanan yang lebih besar. Menurut Sim Moh Siong dan Christopher Wong, ahli strategi di Oversea-Chinese Banking Corp., negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, India, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami penurunan nilai mata uang yang lebih lanjut. Ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri membuat mereka lebih rentan terhadap fluktuasi harga minyak global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik.

The escalation of the conflict has boosted energy, shipping, defense, and gold stocks in Asia, while airline and travel stocks have been under pressure.
Sementara itu, dampak konflik di Iran juga terlihat pada pergerakan saham di pasar Asia. Saham-saham di sektor energi, perkapalan, pertahanan, dan emas mengalami lonjakan. Sebaliknya, saham maskapai penerbangan dan perusahaan yang bergerak di industri perjalanan justru tertekan.
Contoh nyata dari fenomena ini terlihat pada perusahaan pelayaran Taiwan, Wan Hai Lines dan Evergreen Marine, yang terpantau mengalami kenaikan harga saham. Di sisi lain, saham Singapore Airlines, Japan Airlines, dan Eva Airways justru merosot tajam, mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek bisnis perjalanan udara di tengah ketidakpastian global.
Potensi Dampak Ekonomi Jangka Panjang
Sebuah analisis dari Bloomberg Economics memperkirakan bahwa konflik yang sedang berlangsung ini dapat menyebabkan kenaikan harga minyak yang signifikan, bahkan berpotensi mencapai USD 108 per barel jika Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak yang krusial, ditutup. Penutupan selat tersebut akan memiliki implikasi ekonomi yang sangat besar bagi pasokan minyak global.
Para analis yang dipimpin oleh Dina Esfandiary dalam laporannya menulis bahwa “Lingkup konflik tampaknya sangat luas dan taruhannya tinggi — dengan Iran mengkonfirmasi bahwa pemimpin tertinggi telah tewas.” Mereka menambahkan bahwa “Konfrontasi ini bisa jadi lebih lama dan lebih intens daripada perang 12 hari pada bulan Juni.” Pernyataan ini menyoroti potensi eskalasi konflik yang lebih serius dan dampaknya yang lebih luas terhadap stabilitas regional dan ekonomi global. Investor akan terus memantau perkembangan situasi ini dengan cermat, mencari sinyal perlambatan atau peningkatan ketegangan yang dapat mempengaruhi portofolio investasi mereka.





