Atap Kampus II UINSA Gunung Anyar Roboh

Insiden Plafon Ambrol di Gedung Fakultas UINSA Surabaya, Ruang Publik Gedung Kampus Rawan Bencana

Surabaya – Sebuah insiden yang mengkhawatirkan terjadi di lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Atap plafon di teras belakang Gedung Fakultas Adab dan Humaniora (Fahum) yang juga digunakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi (FST) di Kampus II Gunung Anyar, ambrol pada hari Rabu (18/2). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 12.00 WIB, tak lama setelah waktu salat zuhur, sempat terekam oleh mahasiswa dalam sebuah video singkat yang beredar.

Menurut kesaksian salah satu mahasiswa UINSA bernama Atoilah, kejadian tersebut berlangsung begitu mendadak. Ia menjelaskan bahwa kondisi plafon memang sudah terlihat mencurigakan beberapa waktu sebelumnya, tampak menggantung.

“Lokasinya di Fahum Kampus 2. Kira-kira setelah selesai waktu zuhur siang tadi (ambrol),” ungkap Atoilah. Ia menambahkan bahwa plafon tersebut sempat terlihat menggantung perlahan sebelum akhirnya runtuh dengan suara yang cukup keras. Keberuntungan menyertai kejadian ini, karena tidak ada mahasiswa maupun staf yang berada tepat di bawah titik ambrol saat peristiwa itu terjadi.

“Ambrolnya tiba-tiba, awalnya menggantung pelan lalu runtuh keras ke bawah. Tidak ada yang tertimpa,” jelasnya, menekankan bahwa insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka.

Setelah kejadian yang mengejutkan tersebut, petugas kampus segera bertindak cepat. Mereka langsung melakukan pembersihan terhadap puing-puing plafon yang berserakan di area teras. Proses pembersihan dilaporkan berlangsung tidak lama setelah insiden tersebut terjadi.

“Sepertinya tidak lama langsung dibersihkan oleh pihak kampus,” pungkas Atoilah, mengonfirmasi respons cepat dari pihak universitas dalam menangani sisa-sisa material yang berjatuhan.

Dampak dan Potensi Bahaya Insiden Plafon Ambrol

Insiden ambrolnya plafon di area publik sebuah institusi pendidikan seperti UINSA Surabaya ini tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Meskipun dalam kasus ini tidak ada korban, peristiwa tersebut menjadi pengingat akan pentingnya pemeliharaan rutin dan pemeriksaan keamanan bangunan, terutama pada fasilitas yang sering digunakan oleh banyak orang.

  • Keselamatan Mahasiswa dan Staf: Prioritas utama dalam setiap fasilitas publik adalah keselamatan penggunanya. Plafon yang rapuh atau tidak terawat dapat menjadi ancaman serius, terutama di area yang ramai seperti teras fakultas, koridor, atau ruang kelas. Jatuhnya material plafon dapat menyebabkan cedera serius bagi siapa saja yang berada di bawahnya.
  • Infrastruktur Kampus: Bangunan dan infrastruktur di lingkungan kampus merupakan aset penting. Kerusakan seperti ambrolnya plafon tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas perkuliahan dan operasional kampus jika area tersebut tidak dapat digunakan sementara waktu.
  • Reputasi Institusi: Insiden keamanan yang terjadi di kampus, meskipun tidak menimbulkan korban, dapat memengaruhi persepsi publik terhadap keseriusan institusi dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan lingkungan belajar.

Langkah Pencegahan dan Mitigasi

Untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang, beberapa langkah pencegahan dan mitigasi perlu dipertimbangkan oleh pihak pengelola UINSA Surabaya, serta institusi pendidikan lainnya:

  • Inspeksi Berkala: Melakukan inspeksi rutin dan terjadwal terhadap seluruh bangunan, termasuk atap, plafon, dinding, dan struktur lainnya. Inspeksi ini harus dilakukan oleh tenaga ahli yang kompeten untuk mendeteksi potensi kerusakan sejak dini.
  • Pemeliharaan Proaktif: Tidak hanya menunggu kerusakan terjadi, tetapi melakukan pemeliharaan preventif secara berkala. Ini mencakup perbaikan kecil sebelum menjadi masalah besar, seperti memperkuat sambungan, mengecat ulang, atau membersihkan sistem drainase atap.
  • Evaluasi Usia Bangunan dan Material: Mempertimbangkan usia bangunan dan material yang digunakan. Material yang sudah tua atau lapuk tentu memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kerusakan. Penggantian material yang sudah tidak layak pakai perlu menjadi prioritas.
  • Sistem Pelaporan Kerusakan: Membuat sistem pelaporan yang mudah diakses oleh mahasiswa, staf, dan dosen untuk melaporkan setiap temuan kerusakan atau kondisi tidak aman di lingkungan kampus. Laporan ini harus ditindaklanjuti dengan cepat oleh pihak terkait.
  • Anggaran Pemeliharaan: Mengalokasikan anggaran yang memadai untuk pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur kampus. Dana yang cukup akan memastikan bahwa program pemeliharaan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
  • Kesadaran Komunitas Kampus: Meningkatkan kesadaran di kalangan seluruh civitas akademika mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan melaporkan setiap kondisi yang mencurigakan terkait keamanan bangunan.

Kejadian di UINSA Surabaya ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak bahwa keselamatan dan keamanan di lingkungan pendidikan harus selalu menjadi prioritas utama. Dengan tindakan pencegahan yang tepat dan kesadaran bersama, potensi bahaya dapat diminimalkan, menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh civitas akademika.

Pos terkait