Peran Krusial Keluarga dalam Menanamkan Nilai Kebangsaan di Era Modern
Fenomena seorang penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tinggal di luar negeri dan dengan bangga menyatakan anaknya memiliki status warga negara asing (WNA) telah memicu perdebatan publik. Isu ini turut disinggung oleh Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Golkar, Agun Gunandjar Sudarsa, dalam sebuah kegiatan sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan di Kabupaten Ciamis.
Dalam forum yang dihadiri oleh Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Ciamis, Agun Gunandjar Sudarsa menekankan bahwa polemik semacam ini tidak bisa dilihat secara sederhana hanya dengan menyalahkan individu yang bersangkutan. Ia berpandangan bahwa akar permasalahan seringkali lebih dalam, berkaitan dengan penanaman nilai-nilai fundamental sejak dini.
Fondasi Utama: Pendidikan Karakter dari Lingkungan Keluarga
Agun Gunandjar Sudarsa menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter dan penanaman nilai kebangsaan yang harus dimulai sejak usia dini, terutama di lingkungan keluarga. “Jika ada yang dengan mudah mengabaikan Indonesia, saya tidak langsung menyalahkan anaknya. Saya mempertanyakan orang tuanya, keluarganya selama ini ke mana? Apakah sejak kecil sudah ditanamkan nilai-nilai kebangsaan dan perjuangan?” ujar beliau kepada awak media.
Beliau kemudian menyinggung mengenai program beasiswa seperti LPDP. Menurut Agun, program-program tersebut, meskipun bertujuan mulia untuk mencerdaskan bangsa, tidak secara spesifik memasukkan mata pelajaran yang secara eksplisit mengajarkan wawasan kebangsaan. Oleh karena itu, pondasi nasionalisme yang kuat seharusnya sudah tertanam kokoh sebelum seseorang mendapatkan kesempatan pendidikan lanjutan, baik di dalam maupun luar negeri.
“Pendidikan karakter itu dimulai dari keluarga. Bagaimana nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, itu dibiasakan sejak kecil,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran orang tua dan lingkungan rumah tangga sangat vital dalam membentuk jati diri dan rasa cinta tanah air seorang anak.
Memanfaatkan Momentum untuk Memperkuat Identitas Bangsa
Agun Gunandjar Sudarsa melihat momentum bulan Ramadan sebagai waktu yang sangat tepat untuk memperkuat nilai-nilai religiusitas dan kebangsaan. Ia mengajak para ibu, yang seringkali menjadi garda terdepan dalam pengasuhan anak, untuk berperan aktif dalam mengajarkan nilai-nilai luhur.
Beberapa nilai yang ditekankan meliputi:
* Pancasila: Memahami dan menginternalisasi kelima sila Pancasila sebagai dasar negara.
* Semangat Persatuan: Menanamkan pentingnya kebersamaan dan solidaritas antar sesama anak bangsa.
* Menjaga Solidaritas: Mendorong sikap saling mendukung dan peduli terhadap sesama.
* Tidak Mudah Terprovokasi: Membekali generasi muda dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu negatif atau hoaks yang dapat memecah belah.
“Biasakan musyawarah dalam mengambil keputusan. Karena keadilan tidak mungkin ditemukan tanpa proses musyawarah,” tambah beliau, menekankan pentingnya proses demokrasi dan pengambilan keputusan secara kolektif yang merupakan salah satu pilar Pancasila.
Peran Ibu dalam Pembentukan Karakter Bangsa
Keputusan Agun Gunandjar Sudarsa untuk menyampaikan pesan penting ini di hadapan organisasi perempuan bukanlah tanpa alasan. Beliau meyakini bahwa peran ibu memiliki dominasi yang signifikan dalam proses pembentukan karakter anak. Dengan membangun fondasi karakter yang kuat, religius, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan persatuan sejak dini, diharapkan polemik-polemik terkait isu nasionalisme di kemudian hari dapat diminimalisir. Generasi muda yang memiliki karakter tangguh akan lebih mampu berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa.
Selain menyoroti isu viral tersebut, Agun Gunandjar Sudarsa juga tidak melupakan tugasnya sebagai wakil rakyat untuk menyerap berbagai aspirasi dari masyarakat Kabupaten Ciamis. Berbagai persoalan lokal turut ia dengarkan, mulai dari isu banjir yang melanda wilayah Pamarican hingga kekhawatiran masyarakat terhadap maraknya praktik judi online dan investasi bodong yang merugikan.
Ia berharap agar masyarakat Ciamis senantiasa dapat menjaga nilai-nilai kebangsaan dan religiusitas dalam setiap aspek kehidupan mereka. Lebih dari itu, Agun mendorong masyarakat untuk terus aktif membangun solidaritas sosial, sebuah kekuatan kolektif yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.





