Bangsring Underwater Terguncang: Dugaan Premanisme, Polisi Turun Tangan!

Bangsring Underwater Tercoreng Isu Pemalakan: Wisatawan Lansia Trauma, Aparat Menuntut Pembersihan Total

Bangsring Underwater, sebuah permata bahari di ujung utara Banyuwangi, selama ini dikenal sebagai destinasi wisata yang memukau. Keindahan terumbu karangnya yang memesona, keragaman ikan berwarna-warni, serta reputasi konservasi yang ramah wisatawan telah menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya. Namun, di balik panorama bawah laut yang eksotis ini, sebuah praktik yang meresahkan kembali mencuat ke permukaan. Pada Sabtu, 13 Desember 2025, sorotan publik tertuju pada dugaan pemalakan yang berkedok “jasa pengawalan” bus wisata, yang menyebabkan trauma pada sekelompok wisatawan lansia.

Praktik yang dilaporkan melibatkan penarikan uang sebesar Rp150.000 dari rombongan wisatawan lansia asal Surabaya. Pungutan ini, menurut pengakuan para korban, dikenakan oleh oknum warga sipil yang diduga melakukan intimidasi. Bus mereka dilaporkan tidak diizinkan keluar dari kawasan wisata sebelum pembayaran dilakukan. Kwitansi yang diberikan pun hanya berupa tulisan tangan sederhana tanpa kop surat, stempel, atau dasar hukum yang jelas, menambah kecurigaan akan keabsahan pungutan tersebut.

Polisi Naik Pitam: “Itu Jelas Premanisme!”

Menanggapi laporan ini, Kapolsek Wongsorejo, Polresta Banyuwangi, AKP Eko Darmawan, menunjukkan reaksi keras. Menurutnya, pungutan yang disertai dengan tekanan dan intimidasi jelas merupakan tindakan premanisme. “Kalau sudah minta uang dengan intimidasi, itu jelas premanisme. Tidak ada ruang untuk praktik seperti itu di kawasan wisata,” tegas AKP Eko Darmawan pada Sabtu, 13 Desember 2025.

Tak ingin citra pariwisata Banyuwangi semakin tercoreng, AKP Eko segera menurunkan personelnya untuk melakukan investigasi mendalam terhadap kasus ini. Ia juga berkoordinasi dengan Kepala Desa Bangsring untuk memberikan peringatan keras kepada warga agar tidak mengganggu rasa aman para wisatawan.

Bukan Kasus Pertama, Pola Lama Terulang Kembali

Yang membuat publik semakin geram adalah fakta bahwa dugaan pemalakan ini bukanlah kejadian pertama. Pada Juli 2022, wisatawan asal Jember juga mengalami peristiwa serupa dengan nominal pungutan yang sama, yaitu Rp150.000. Kasus tersebut sempat menjadi viral dan mereda setelah pelaku meminta maaf. Namun, tiga tahun kemudian, pola yang sama kembali muncul di lokasi yang sama, kali ini menimpa rombongan wisatawan lansia.

Timothy, seorang jurnalis media nasional yang bertindak sebagai Tour Leader rombongan, mempertanyakan legalitas pungutan tersebut. “Semua biaya resmi sudah kami bayar. Tiket masuk, parkir, jelas. Lalu pungutan ini dasar hukumnya apa?” tanyanya. Pertanyaan tersebut tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, malah dibalas dengan ancaman. Demi menjaga keselamatan dan ketenangan para lansia yang mulai panik, rombongan tersebut akhirnya terpaksa menyerahkan uang tersebut agar dapat segera meninggalkan lokasi.

Alarm Keras untuk Pariwisata Banyuwangi

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Taufik Rohman, menyatakan kesiapannya untuk turun langsung melakukan investigasi. Ia menegaskan bahwa jika terbukti ada pelanggaran, sanksi tegas akan dijatuhkan kepada para pelaku.

Kasus yang terjadi di Bangsring Underwater ini menjadi ujian serius bagi Banyuwangi, sebuah daerah yang telah berhasil membangun citra pariwisata kelas nasional. Keindahan alam semata ternyata tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan sektor pariwisata. Rasa aman dan pengalaman positif bagi setiap pengunjung adalah fondasi utama yang harus dijaga.

Publik kini menanti langkah konkret dari pihak berwenang dan pengelola pariwisata Banyuwangi, bukan sekadar klarifikasi. Jika praktik-praktik seperti ini terus dibiarkan, surga bawah laut Bangsring yang indah berpotensi berubah menjadi “neraka” bagi para wisatawan. Kerusakan kepercayaan yang timbul akibat pengalaman negatif seperti ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dipulihkan, bahkan mungkin tidak akan pernah kembali seperti semula.

Dampak Negatif Pemalakan terhadap Pariwisata

Praktik pemalakan dan premanisme di destinasi wisata dapat menimbulkan berbagai dampak negatif yang signifikan, antara lain:

  • Menurunnya Kepercayaan Wisatawan: Pengalaman buruk seperti pemalakan dapat merusak kepercayaan wisatawan terhadap keamanan dan profesionalisme pengelola pariwisata di suatu daerah. Hal ini bisa menyebabkan mereka enggan untuk kembali atau merekomendasikan tempat tersebut kepada orang lain.
  • Citra Destinasi Tercoreng: Berita negatif mengenai praktik ilegal di tempat wisata dapat menyebar dengan cepat, merusak citra daerah tersebut di mata publik. Hal ini berpotensi menurunkan minat kunjungan wisatawan secara keseluruhan.
  • Kerugian Ekonomi: Penurunan jumlah wisatawan tentu akan berdampak pada pendapatan para pelaku usaha pariwisata, mulai dari pengelola akomodasi, restoran, hingga pedagang souvenir.
  • Trauma pada Korban: Seperti yang dialami oleh rombongan lansia ini, pengalaman intimidasi dan pemalakan dapat menimbulkan trauma psikologis yang mendalam, mengurangi kenikmatan liburan dan meninggalkan kesan negatif yang abadi.
  • Menghambat Investasi: Daerah yang dikenal memiliki masalah keamanan dan praktik ilegal cenderung kurang menarik bagi investor di sektor pariwisata.

Upaya Pencegahan dan Penindakan

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah-langkah komprehensif yang melibatkan berbagai pihak:

  • Penegakan Hukum yang Tegas: Aparat kepolisian harus bertindak tegas dalam menindak pelaku pemalakan dan premanisme di kawasan wisata. Hukuman yang setimpal akan memberikan efek jera.
  • Peningkatan Pengawasan: Pengawasan di area wisata perlu ditingkatkan, baik oleh petugas keamanan resmi maupun melalui sistem kamera pengawas.
  • Edukasi dan Sosialisasi: Masyarakat lokal, terutama yang berinteraksi langsung dengan wisatawan, perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya keramahan, profesionalisme, dan etika dalam melayani pengunjung.
  • Mekanisme Pengaduan yang Efektif: Perlu disediakan mekanisme pengaduan yang mudah diakses dan responsif bagi wisatawan yang mengalami masalah atau melihat praktik yang mencurigakan.
  • Kolaborasi Antar Lembaga: Pemerintah daerah, dinas pariwisata, kepolisian, dan tokoh masyarakat perlu berkolaborasi secara erat untuk menciptakan lingkungan pariwisata yang aman dan nyaman.

Bangsring Underwater memiliki potensi luar biasa untuk terus menjadi destinasi unggulan. Namun, potensi tersebut hanya dapat terwujud jika keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi prioritas utama yang dijaga dengan sungguh-sungguh.

Pos terkait