Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Memicu Keresahan di Purwokerto
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi belakangan ini mulai memicu keresahan di kalangan warga Purwokerto. Lonjakan harga yang cukup signifikan membuat masyarakat khawatir terhadap dampaknya pada pengeluaran harian dan daya beli mereka.
Pertamax Turbo (RON 98) tercatat naik dari Rp13.100 menjadi Rp19.400 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex melonjak dari Rp14.500 menjadi Rp23.900 per liter atau naik sebesar Rp9.400. Kondisi ini langsung dirasakan oleh warga, terutama mereka yang bergantung pada kendaraan untuk aktivitas sehari-hari, seperti pedagang kaki lima hingga mahasiswa.
Seorang pedagang kaki lima (PKL) di Purwokerto mengaku tidak terlalu terkejut dengan kenaikan tersebut karena sudah ramai diperbincangkan sebelumnya. Ia menyatakan bahwa kenaikan BBM akan berimbas langsung pada kebutuhan sehari-hari, mengingat aktivitas sangat bergantung pada kendaraan. “Saya jualan pakai motor, kemana-mana pakai kendaraan dan butuh bensin,” jelasnya.
Ia menyebut dalam sehari dirinya menghabiskan sekitar Rp25 ribu hingga untuk BBM, yang digunakan untuk berkeliling. Pendapat serupa juga disampaikan Tegar (21), seorang mahasiswa semester akhir yang mengaku mulai merasakan perubahan kondisi terutama antrean di SPBU. “Tapi tadi saya isi Pertamax, antreannya sekarang lebih panjang dibanding biasanya,” katanya.
Ia mengaku dalam sehari menghabiskan sekitar Rp20 ribu untuk BBM karena mobilitasnya yang tinggi, termasuk perjalanan rutin dari rumah ke kampus. Ia menambahkan, antrean kendaraan untuk BBM non-subsidi kini mulai menyerupai antrean Pertalite di beberapa SPBU.
Berdasarkan pantauan di sejumlah SPBU di Purwokerto, Senin (20/4/2026), kondisi memang terpantau ramai. Antrean kendaraan terlihat lebih panjang dibandingkan hari biasa. Di SPBU Watumas, harga BBM yakni Pertamax Turbo (RON 98) Rp19.400 per liter, Pertamax (RON 92) Rp12.300 per liter, Pertamina Dex Rp23.900 per liter, dan Dexlite Rp23.600 per liter. Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Pabuwaran. Pertamax Turbo (RON 98) Rp19.400 per liter, Pertamax (RON 92) Rp12.300 per liter, Pertamina Dex Rp23.900 per liter, namun Pertamina Dex belum tersedia.
Sementara itu, di Pertashop Jalan Gereja Purwokerto, harga Pertamax (RON 92) masih berada di angka Rp12.200 per liter.
Dampak Kenaikan Harga BBM Terhadap Masyarakat
Kenaikan harga BBM nonsubsidi ini diperkirakan akan berdampak luas, mulai dari meningkatnya biaya transportasi hingga potensi kenaikan harga kebutuhan pokok, yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.
Beberapa aspek yang terkena dampak antara lain:
- Biaya Transportasi: Naiknya harga BBM akan langsung memengaruhi biaya operasional kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Hal ini bisa menyebabkan kenaikan tarif angkutan umum dan ongkos kirim barang.
- Daya Beli Masyarakat: Kenaikan biaya transportasi dapat berdampak pada daya beli masyarakat. Banyak orang akan membatasi pengeluaran untuk kebutuhan non-esensial demi mengurangi beban finansial.
- Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok: Biaya produksi dan distribusi yang meningkat akibat kenaikan BBM bisa berdampak pada kenaikan harga bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya.
Tantangan yang Dihadapi Warga
Warga Purwokerto kini harus menghadapi tantangan baru akibat kenaikan harga BBM. Pedagang kaki lima, mahasiswa, dan pelaku usaha kecil terutama merasakan dampaknya secara langsung. Antrean panjang di SPBU dan kenaikan biaya operasional menjadi isu utama yang dihadapi masyarakat.
Selain itu, banyak warga mengkhawatirkan bagaimana cara mereka mengatur anggaran bulanan agar tetap bisa memenuhi kebutuhan dasar. Beberapa bahkan mencari alternatif transportasi yang lebih hemat, seperti menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk jarak dekat.
Perspektif Masa Depan
Dengan situasi saat ini, masyarakat Purwokerto diharapkan dapat beradaptasi dengan perubahan ekonomi yang semakin dinamis. Pemerintah juga diharapkan memberikan solusi yang efektif, seperti subsidi tambahan atau insentif bagi pelaku usaha kecil yang terdampak kenaikan harga BBM.






