PALANGKA RAYA, .CO
– Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah menyatakan bahwa penanganan tuberkulosis (TBC) masih menghadapi tantangan yang signifikan. Salah satu masalah utama adalah menemukan kasus TBC dan memastikan pasien menjalani pengobatan hingga selesai.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menjelaskan bahwa penemuan kasus menjadi kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut di masyarakat.
“Tantangan kita memang pada penemuan kasus. Jika kasus tidak ditemukan, kita tidak bisa mengobati, dan jika tidak diobati, bisa menular ke orang lain,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Dia menambahkan bahwa upaya penanganan TBC tidak hanya bergantung pada sektor kesehatan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, terutama kualitas sanitasi dan ventilasi rumah.
“TBC itu erat kaitannya dengan kondisi perumahan, terutama ventilasi yang tidak bagus. Untuk mencegah penularan, perlu ada perbaikan sanitasi,” katanya.
Selain itu, lamanya durasi pengobatan menjadi kendala tersendiri karena pasien harus mengonsumsi obat secara rutin selama enam bulan.
“Risiko pasien putus obat itu cukup besar, karena pengobatan TBC berlangsung lama, bisa sampai enam bulan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Dinas Kesehatan mendorong adanya pendamping minum obat, guna memastikan pasien tetap patuh menjalani terapi hingga selesai.
“Kita dorong adanya pendamping minum obat yang mengawasi pasien agar benar-benar mengonsumsi obat setiap hari,” jelasnya.
Suyuti menambahkan bahwa jika pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan, maka berisiko mengalami TBC resisten obat atau multidrug resistant (MDR) yang jauh lebih sulit ditangani.
“Jika sudah MDR, pengobatannya lebih berat, bahkan bisa harus suntik setiap hari selama enam bulan, dan risikonya lebih tinggi,” tegasnya.
Dia juga menyebutkan bahwa obat anti TBC (OAT) tersedia secara gratis di puskesmas, namun kepatuhan pasien tetap menjadi faktor penentu keberhasilan pengobatan.
“Obatnya gratis, tapi yang sulit itu memastikan pasien minum obat setiap hari. Banyak yang bosan atau berhenti karena efek samping,” katanya.
Dalam upaya meningkatkan temuan kasus, puskesmas juga melakukan pelacakan kontak terhadap keluarga dan orang terdekat pasien, serta memanfaatkan fasilitas diagnostik seperti rontgen dan PCR di rumah sakit.
“Jika ditemukan satu kasus, maka orang di sekitarnya juga diperiksa. Itu sebabnya angka kasus bisa bertambah,” ujarnya.
Dinas Kesehatan Kalteng menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah meningkatkan penemuan kasus, memutus rantai penularan, serta memastikan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.






