JAKARTA – Seorang pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai peristiwa blackout di Sumatra menjadi pengingat penting tentang perlunya penguatan jaringan transmisi agar pasokan listrik di wilayah tersebut tetap stabil. Menurutnya, jaringan interkoneksi Sumatra yang melintasi berbagai provinsi membutuhkan sistem transmisi yang andal untuk mencegah gangguan meluas ke daerah lain.
“Pembangkit sering menjadi fokus utama, padahal transmisi memegang peran vital karena menjadi jalur utama penyaluran listrik dalam sistem interkoneksi,” ujar Agus dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Agus menjelaskan bahwa pengembangan jaringan transmisi di Sumatra, termasuk pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV), telah dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru. Tujuannya adalah memperkuat interkoneksi kelistrikan Sumatra.
Namun, proyek transmisi berskala besar sering mengalami hambatan akibat proses pembebasan lahan dan perizinan lintaswilayah. Menurut Agus, pembangunan transmisi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga mencakup beberapa faktor seperti pembebasan lahan, penyesuaian tata ruang, perizinan lintaswilayah, serta komunikasi dengan masyarakat sekitar jalur transmisi. Semua hal ini membutuhkan waktu dan koordinasi yang baik.
Agus menambahkan, semakin luas sistem interkoneksi Sumatra, maka kebutuhan terhadap penguatan jalur utama serta keandalan penyaluran listrik antardaerah juga semakin penting. Padahal, keterlambatan pembangunan transmisi berpotensi meningkatkan risiko gangguan sistem seiring pertumbuhan kebutuhan listrik di Sumatra.
Ia juga menyoroti pentingnya penyelesaian aspek sosial secara hati-hati dalam proyek infrastruktur strategis agar tidak berkembang menjadi konflik agraria atau masalah berkepanjangan di masa depan. Dengan demikian, dukungan masyarakat dalam proses pembebasan lahan menjadi sangat penting agar pembangunan infrastruktur kelistrikan yang dibutuhkan publik dapat berjalan optimal.
Selain itu, Agus mendorong penguatan koordinasi dan percepatan proses perizinan lintaswilayah agar proyek-proyek strategis dapat berjalan lebih efektif. “Karena jalurnya melewati banyak wilayah, pembangunan transmisi memang membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaksana proyek, dan masyarakat,” ujarnya.
Agus menilai percepatan pembangunan transmisi menjadi penting agar sistem kelistrikan Sumatra memiliki daya tahan lebih baik terhadap gangguan pada masa mendatang. “Blackout di Sumatra harus menjadi momentum bersama untuk mempercepat penguatan jaringan transmisi. Tanpa percepatan pembangunan transmisi, risiko gangguan sistem akan terus meningkat seiring pertumbuhan kebutuhan listrik dan aktivitas ekonomi di Sumatra,” ujar Agus.





