PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI telah merevisi rencana pembelian kembali sahamnya (buyback). Nilai maksimal transaksi buyback kini ditetapkan sebesar Rp905,48 miliar, angka ini lebih rendah dari rencana awal yang mencapai Rp1,50 triliun. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap berbagai tantangan ekonomi global dan domestik yang memengaruhi kinerja pasar modal.
Penyesuaian Nilai dan Sumber Pendanaan Buyback
Manajemen BNI menjelaskan bahwa perkiraan nilai transaksi buyback tersebut tidak akan melebihi 10% dari total modal yang ditempatkan dalam perseroan. Dana yang digunakan untuk aksi korporasi ini berasal dari arus kas bebas (free cash flow), khususnya dari saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya.
Dalam keterbukaan informasinya, BNI menyatakan, “Nilai transaksi buyback oleh Perseroan diperkirakan sebesar-besarnya Rp905.480.000.000, termasuk biaya transaksi buyback (meliputi biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee) sekitar 0,32% dari nilai eksekusi buyback.”
Jika seluruh pelaksanaan buyback saham ini didanai sepenuhnya menggunakan arus kas bebas, BNI memperkirakan akan terjadi penurunan aset dan ekuitas perseroan sebesar Rp905,48 miliar. Meskipun demikian, BNI meyakini bahwa transaksi ini tidak akan memberikan dampak material yang signifikan terhadap biaya operasional. Oleh karena itu, proyeksi kinerja laba rugi perusahaan diprediksi tetap sejalan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
Manajemen BNI juga menyatakan keyakinannya bahwa pelaksanaan buyback tidak akan menimbulkan dampak negatif yang berarti terhadap kegiatan operasional utama perusahaan. Hal ini didukung oleh fakta bahwa BNI masih memiliki permodalan yang kuat dan arus kas yang memadai. Kondisi ini memungkinkan perusahaan untuk membiayai transaksi buyback sekaligus tetap dapat mendukung kelancaran operasional bisnisnya.
Latar Belakang Keputusan Buyback
Keputusan BNI untuk melakukan pembelian kembali saham diambil di tengah tekanan yang cukup signifikan pada saham-saham perbankan sepanjang tahun 2025. Perseroan menilai bahwa ketidakpastian yang melanda pasar global, yang dipicu oleh risiko geopolitik dan ancaman perang tarif, menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, tantangan likuiditas dan perlambatan permintaan kredit di pasar domestik juga turut menekan kinerja saham sektor perbankan. Kondisi ini membuat saham perbankan domestik terlihat tertinggal dibandingkan dengan bank-bank di kawasan regional.
Hingga akhir tahun 2025, harga saham BNI tercatat hanya mengalami pertumbuhan sebesar 0,5% secara tahunan (year-on-year/YoY). Meskipun kinerjanya terbilang lebih baik dibandingkan dengan bank domestik lain yang sejenis, saham BNI masih belum mampu mengimbangi performa bank-bank regional.
BNI juga mengamati bahwa meskipun pasar saham domestik menunjukkan tanda-tanda pemulihan (rebound) pada akhir tahun 2025, seiring dengan kembalinya optimisme investor asing, arus dana masuk (inflow) belum sepenuhnya pulih.
Menurut analisis perseroan, investor masih cenderung bersikap hati-hati dalam menyikapi peningkatan ketidakpastian global yang terjadi pada awal tahun 2026. Ketidakpastian ini terutama disebabkan oleh meningkatnya tensi geopolitik dan ancaman tarif yang dilontarkan oleh Amerika Serikat. Ketidakstabilan geopolitik ini bahkan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang sempat menyentuh level Rp16.985 per dolar AS, sebuah posisi yang lebih lemah dibandingkan saat krisis moneter tahun 1998.
Proyeksi Kinerja dan Mitigasi Risiko
Di tengah berbagai tantangan tersebut, BNI tetap memastikan bahwa proyeksi kinerjanya akan terus tumbuh secara positif. Fundamental perusahaan dinilai kuat dan resilien. BNI menegaskan bahwa permodalannya tetap kokoh, kualitas asetnya terjaga dengan baik, pertumbuhan kreditnya relatif seimbang di seluruh segmen, dan dana murah (cost of fund rendah) tumbuh solid. Pertumbuhan ini didukung oleh transformasi digital yang terus dilakukan dan penguatan jaringan operasional.
Namun demikian, perseroan tidak menutup mata terhadap potensi risiko. Eskalasi konflik geopolitik dan berlanjutnya perang tarif berpotensi memicu tekanan inflasi dari sisi nilai tukar. Selain itu, hal ini juga dapat menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), termasuk saham-saham di sektor perbankan.
Melalui pelaksanaan buyback saham, BNI bertujuan untuk meredam tekanan jual yang mungkin terjadi di pasar ketika indeks saham mengalami fluktuasi. Selain itu, aksi ini juga berfungsi sebagai sinyal kepada para investor bahwa harga saham BNI saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sebenarnya.
Perkiraan Jadwal Pelaksanaan Buyback Saham BBNI
Berikut adalah perkiraan jadwal pelaksanaan buyback saham BBNI:
- Pengumuman RUPST dan Keterbukaan Informasi atas Rencana Buyback: 29 Januari 2026
- Pengkinian Keterbukaan Informasi atas Rencana Buyback: 3 Maret 2026
- Perkiraan Tanggal RUPST (yang menyetujui rencana buyback): 9 Maret 2026
- Perkiraan Periode Buyback: 9 Maret 2026 sampai dengan 8 Maret 2026





