PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berencana untuk melaksanakan program pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai fantastis, mencapai Rp 905,48 miliar. Keputusan strategis ini akan diajukan kepada para pemegang saham untuk mendapatkan persetujuan. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dan mitigasi terhadap potensi dampak negatif dari ketidakpastian global yang saat ini membayangi pasar keuangan domestik dan berisiko memberikan tekanan.
Nilai buyback yang diusulkan ini dipastikan tidak akan melebihi 10% dari total jumlah modal yang telah ditempatkan oleh perseroan. Dana yang dialokasikan berasal dari free cash flow yang tersedia, khususnya dari saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya. Angka Rp 905,48 miliar tersebut sudah mencakup seluruh biaya yang terkait dengan transaksi buyback, termasuk biaya transaksi yang diperkirakan sekitar 0,32% dari nilai eksekusi buyback, dengan asumsi bahwa seluruh rencana buyback akan dieksekusi secara penuh.
Pertimbangan Strategis di Balik Buyback
Manajemen BNI telah merinci sejumlah faktor krusial yang mendasari pengambilan keputusan untuk melakukan buyback saham ini.
Kinerja Saham Perbankan Domestik yang Tertekan:
Perseroan mencatat bahwa kinerja saham perbankan domestik saat ini sedang mengalami tren yang kurang optimal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk ketidakpastian global yang terus-menerus, tantangan dalam sisi likuiditas, serta adanya perlambatan dalam permintaan kredit. Data per 31 Desember 2025 menunjukkan bahwa harga saham BBNI hanya mengalami kenaikan tipis sebesar 0,5% secara tahunan. Meskipun performa ini masih sedikit lebih baik dibandingkan dengan bank-bank domestik lainnya (local peers), posisi ini menunjukkan adanya ketertinggalan jika dibandingkan dengan bank-bank regional (regional peers).Ketidakpastian Global yang Meningkat di Awal 2026:
Meskipun manajemen BNI mengamati adanya tanda-tanda rebound pada pasar saham domestik menjelang akhir tahun lalu, arus masuk dana asing (foreign fund inflow) dinilai belum sepenuhnya stabil dan selektif. Para investor masih menunjukkan sikap kehati-hatian yang tinggi dalam menghadapi ketidakpastian global yang kembali menguat di awal tahun 2026.Peningkatan tensi geopolitik global dan ancaman kebijakan tarif dari Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu kekhawatiran utama. Situasi ini telah menyebabkan nilai tukar Rupiah terdepresiasi lebih dalam, bahkan dibandingkan dengan periode krisis moneter tahun 1998. Meskipun dalam kondisi ketidakpastian ini, manajemen BNI tetap optimis dengan forecast kinerja perseroan yang diprediksi masih akan tumbuh positif. Namun demikian, BNI tetap waspada terhadap potensi tekanan inflasi yang timbul akibat fluktuasi nilai tukar, yang dapat memberikan dampak negatif pada pasar modal domestik, termasuk saham-saham perbankan.
Tujuan Utama Buyback
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, aksi buyback ini memiliki beberapa tujuan utama:
Mengurangi Tekanan Jual di Pasar:
Tujuan utama dari buyback adalah untuk mengurangi tekanan jual yang mungkin terjadi di pasar, terutama ketika indeks harga saham sedang mengalami fluktuasi. Dengan adanya pembelian kembali saham, BNI berupaya menstabilkan harga dan memberikan sinyal positif kepada pasar.Memberikan Sinyal kepada Investor:
Aksi ini juga bertujuan untuk memberikan indikasi yang jelas kepada para investor. Hal ini menunjukkan bahwa manajemen BNI memandang harga saham perseroan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sebenarnya. Dengan kata lain, saham BNI dianggap undervalued di pasar.
Dampak Finansial dan Operasional
Manajemen BNI meyakini bahwa pelaksanaan buyback ini tidak akan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kegiatan operasional dan bisnis perseroan. Setelah program buyback selesai dilaksanakan, diperkirakan laba bersih tahun berjalan perseroan tidak akan mengalami perubahan yang berarti dari posisi akhir tahun sebelumnya.
Namun, beberapa indikator keuangan lainnya akan mengalami penyesuaian:
Penurunan Nilai Aset:
Jumlah aset perseroan diperkirakan akan mengalami penurunan senilai dengan total buyback, menjadi sekitar Rp 1.361 triliun.Penyesuaian Rasio Kecukupan Modal (CAR):
Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) untuk bank only (hanya memperhitungkan operasional bank) diprediksi akan mengalami penurunan sebesar 10 basis poin (bps), menjadi 20,6%.Kenaikan Laba Bersih per Saham:
Meskipun laba bersih secara total tidak berubah, laba bersih per saham (earnings per share/EPS) diperkirakan akan mengalami kenaikan dari Rp 537 menjadi Rp 540.Kenaikan Return on Equity (ROE):
Posisi Return on Equity (ROE) untuk bank only juga diproyeksikan akan naik sebesar 10 bps menjadi 12,7%.
Jadwal Pelaksanaan
Program buyback ini akan dilaksanakan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Pelaksanaan dapat dilakukan secara bertahap maupun sekaligus. Batas waktu maksimal pelaksanaan program ini adalah 12 bulan terhitung sejak persetujuan diperoleh dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada tanggal 9 Maret 2026.





