Cabai & Emas Meroket, Inflasi DIY Februari 2026 Tembus 0,68%

Inflasi Yogyakarta Melonjak di Februari 2026, Pangan dan Perhiasan Jadi Penyebab Utama

Yogyakarta – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menghadapi tantangan inflasi yang signifikan pada Februari 2026. Setelah mengalami sedikit deflasi pada bulan sebelumnya, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,68 persen (month-to-month/mtm). Kenaikan ini didorong oleh lonjakan harga pada kelompok pangan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Menurut data yang dihimpun oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi terbesar terhadap laju inflasi, mencapai 0,37 persen. Di dalam kelompok ini, komoditas cabai, baik cabai rawit maupun cabai merah, menjadi perhatian utama.

Lonjakan Harga Cabai Akibat Cuaca dan Permintaan Tinggi

Kepala Kantor Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menjelaskan bahwa tingginya curah hujan yang melanda DIY sepanjang Februari menjadi faktor utama penurunan produksi cabai di tingkat petani. Akibatnya, pasokan yang masuk ke pasar menjadi berkurang, sementara permintaan justru meningkat.

“Kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah dipengaruhi oleh penurunan produksi akibat tingginya curah hujan di DIY selama Februari. Hal ini diperparah dengan meningkatnya permintaan masyarakat memasuki bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 H,” ujar Sri Darmadi dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (3/3).

Selain cabai, komoditas lain dalam sektor pangan yang turut menyumbang inflasi adalah daging ayam ras dan telur ayam ras. Masing-masing memberikan andil sebesar 0,07 persen dan 0,05 persen. Peningkatan harga kedua komoditas ini juga disebabkan oleh lonjakan konsumsi masyarakat yang tinggi.

Emas Perhiasan Ikut Mendorong Inflasi

Tidak hanya sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga memberikan kontribusi yang tidak kalah signifikan terhadap inflasi. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi pendorong utama dalam kelompok ini, dengan andil sebesar 0,30 persen.

Fenomena kenaikan harga emas perhiasan ini sejalan dengan tren global. Eskalasi ketegangan geopolitik internasional mendorong para investor untuk beralih ke aset yang dianggap aman, seperti emas. Hal ini secara otomatis mendongkrak harga emas di pasar internasional, yang kemudian berdampak pada harga perhiasan di dalam negeri.

Sektor Transportasi Menjadi Penahan Inflasi

Di tengah tren kenaikan berbagai kebutuhan pokok dan barang mewah, sektor transportasi justru menunjukkan tren yang berlawanan, yaitu deflasi. Kelompok ini mencatat deflasi sebesar 0,03 persen, yang secara efektif menahan laju inflasi agar tidak semakin tinggi.

Deflasi di sektor transportasi ini dipicu oleh kebijakan penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang mulai berlaku secara nasional sejak 1 Februari 2026. Penurunan harga bensin ini memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen bagi DIY.

Proyeksi Inflasi Tahunan dan Target BI

Secara tahunan, inflasi DIY pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,91 persen (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan peningkatan yang cukup tajam dibandingkan dengan posisi inflasi pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 3,30 persen.

Meskipun angka inflasi tahunan menunjukkan tren peningkatan, Bank Indonesia DIY tetap optimis. Pihaknya memproyeksikan bahwa inflasi sepanjang tahun 2026 akan kembali stabil dan mampu terjaga dalam kisaran target inflasi nasional, yaitu sebesar 2,5 persen dengan toleransi penyimpangan sebesar ± 1 persen.

Upaya pengendalian inflasi akan terus dilakukan oleh Bank Indonesia melalui berbagai instrumen kebijakan moneter dan koordinasi dengan pemerintah daerah. Fokus utama tetap pada menjaga stabilitas harga guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di DIY.

Pos terkait